POLTEKKES DENPASARPOLTEKKES DENPASAR

International Conference on Multidisciplinary Approaches in Health ScienceInternational Conference on Multidisciplinary Approaches in Health Science

Latar belakang: Prevalensi anemia pada remaja di Indonesia mencapai 32%. Proporsi anemia pada perempuan sebesar 27,2% lebih tinggi dibanding laki-laki yaitu 20,3%. Kejadian anemia di Provinsi Bali pada tahun 2019 mencapai 5,07%. Prevalensi anemia di Denpasar meningkat sebesar 4,7% menjadi 7,55% pada tahun 2020. Banyak faktor yang menyebabkan anemia, salah satunya kehilangan darah kronis seperti menstruasi yang dapat menyebabkan anemia defisiensi besi. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pola menstruasi pada siswi anemia dan tidak anemia di SMP Negeri 14 Denpasar. Metode: Data diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali tahun 2019 dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 30 siswi SMP Negeri 14 Denpasar yang dipilih menggunakan teknik multistage sampling. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan pengaruh pola menstruasi terhadap prevalensi anemia. Pola menstruasi yang teratur menyebabkan kadar hemoglobin lebih tinggi. Saran dari penelitian ini adalah segera melaksanakan program pemerintah bekerja sama dengan puskesmas terdekat dalam pemberian tablet zat besi serta melakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui penyebab lain dari anemia.

Kadar hemoglobin rata-rata siswi di SMP Negeri 14 Denpasar adalah 14,3 g/dl, dengan sebagian besar siswi tidak menderita anemia (73,33%).Sebanyak 50% siswi mengalami siklus menstruasi normal, 20% siklus pendek, dan 30% mengalami menstruasi panjang.Terdapat kecenderungan hubungan antara pola menstruasi (siklus, durasi, dan volume) dengan kejadian anemia, di mana 37,50% siswi dengan siklus menstruasi panjang mengalami anemia.

Pertama, perlu dilakukan penelitian yang mengevaluasi efektivitas program pemberian tablet zat besi di sekolah-sekolah yang telah menerapkan kebijakan tersebut, dengan membandingkan kadar hemoglobin sebelum dan sesudah intervensi selama minimal satu tahun. Kedua, sebaiknya dilakukan studi mendalam tentang pengaruh pola konsumsi makanan sumber zat besi dan vitamin C terhadap kejadian anemia pada remaja putri yang mengalami menstruasi tidak teratur, untuk memahami bagaimana asupan nutrisi bisa menjadi faktor protektif. Ketiga, perlu dikembangkan penelitian yang menjelajahi hubungan antara usia menarche dini atau terlambat dengan gangguan pola menstruasi dan risiko anemia jangka panjang, termasuk faktor sosioekonomi dan aktivitas fisik sebagai variabel pengaruhnya, agar dapat dirancang intervensi pencegahan yang lebih dini dan komprehensif.

  1. HUBUNGAN SIKLUS MENSTRUASI DENGAN KEJADIAN ANEMIA REMAJA PUTRI DI SMP NEGERI 2 KERAMBITAN KABUPATEN TABANAN... ejournal.unhi.ac.id/index.php/widyabiologi/article/view/1324HUBUNGAN SIKLUS MENSTRUASI DENGAN KEJADIAN ANEMIA REMAJA PUTRI DI SMP NEGERI 2 KERAMBITAN KABUPATEN TABANAN ejournal unhi ac index php widyabiologi article view 1324
  2. USIA MENARCHE, STATUS GIZI, DAN SIKLUS MENSTRUASI SANTRI PUTRI | Fitriningtyas | Preventia : The Indonesian... doi.org/10.17977/um044v2i2p58-56USIA MENARCHE STATUS GIZI DAN SIKLUS MENSTRUASI SANTRI PUTRI Fitriningtyas Preventia The Indonesian doi 10 17977 um044v2i2p58 56
Read online
File size296.26 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test