SYEDZA SAINTIKASYEDZA SAINTIKA

Jurnal Kesehatan Medika SaintikaJurnal Kesehatan Medika Saintika

Stunting menggambarkan status gizi kurang yang bersifat kronik atau menahun pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan, yaitu dari gizi ibu hamil yang kurang (KEK) dan selama masa kehamilan hingga anak dilahirkan. Keadaan stunting ini dipresentasikan dengan nilai z-score berdasarkan standar pertumbuhan menurut WHO. Eating difficulties dapat terjadi pada semua kelompok usia anak, tetapi jenis kesulitan makan dan penyebabnya berbeda, serta berkaitan dengan derajat dan lamanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan therapy massage eating difficulties terhadap kejadian stunting pada anak 0-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sungai Limau tahun 2023. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan quasi eksperimental, menggunakan one group pretest and post test design. Penelitian dilakukan di Puskesmas Sungai Limau pada tanggal 30 Agustus hingga 12 September 2024. Populasi penelitian adalah keluarga dengan anak stunting, dengan sampel sebanyak 11 orang. Hasil uji kemaknaan menunjukkan nilai p = 0,000 dan 0,001 < 0,05, yang berarti terdapat hubungan antara therapy massage eating difficulties dengan kejadian stunting pada anak 0-12 bulan. Diharapkan peran aktif pemerintah, khususnya tenaga kesehatan, dalam menangani stunting karena anak merupakan penerus generasi. Selain itu, orang tua diharapkan dapat menerapkan terapi pijat pada anak untuk merangsang nafsu makan.

Terapi pijat eating difficulties memiliki hubungan signifikan dengan penurunan kejadian stunting pada anak usia 0-12 bulan, sebagaimana dibuktikan oleh hasil uji statistik dengan nilai p < 0,05.Setelah intervensi, terjadi peningkatan berat badan dan perubahan status stunting dari moderate menjadi mild, bahkan dua anak tidak lagi tergolong stunting.Dengan demikian, terapi pijat dapat menjadi upaya efektif dalam mendukung pertumbuhan dan status gizi anak balita yang mengalami kesulitan makan.

Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas terapi pijat eating difficulties dalam jangka panjang, terutama untuk mengetahui apakah manfaatnya bertahan hingga anak berusia di atas dua tahun. Kedua, penting untuk mengeksplorasi peran pola asuh dan perilaku pemberian makan responsif bersamaan dengan terapi pijat, agar dapat diketahui kombinasi intervensi terbaik dalam mengatasi stunting. Ketiga, diperlukan studi komparatif antara terapi pijat yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan yang dilakukan oleh orang tua setelah pelatihan, untuk menilai kemandirian keluarga dan keberlanjutan intervensi di rumah. Penelitian-penelitian ini akan memperdalam pemahaman tentang implementasi terapi pijat sebagai bagian dari strategi pencegahan stunting yang holistik dan berkelanjutan. Selain itu, pendekatan ini dapat membantu merancang program intervensi yang lebih terstruktur dan mudah diadaptasi oleh masyarakat. Dengan melibatkan orang tua sebagai pelaksana utama, program kesehatan dapat menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan. Studi lanjutan juga perlu mempertimbangkan faktor sosioekonomi yang mungkin memengaruhi keberhasilan terapi. Hasilnya dapat menjadi dasar pengembangan pedoman praktis bagi petugas kesehatan di puskesmas. Secara keseluruhan, fokus pada intervensi berbasis keluarga akan memperkuat sistem pencegahan stunting di tingkat komunitas.

  1. Pijat Tui Na Meningkatkan Berat Badan Bayi Usia 6-12 Bulan | WOMB Midwifery Journal. pijat tui na berat... doi.org/10.54832/wombmidj.v3i1.339Pijat Tui Na Meningkatkan Berat Badan Bayi Usia 6 12 Bulan WOMB Midwifery Journal pijat tui na berat doi 10 54832 wombmidj v3i1 339
Read online
File size264.93 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test