UKIMUKIM

ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi AgamaARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama

Artikel ini mengembangkan teologi pastoral yang disesuaikan dengan gaya hidup dan konteks individu di Manado, sebagai dasar bagi konseling pastoral kontekstual. Sebagaimana teologi dipengaruhi oleh konteksnya, teologi pastoral di Manado dibentuk oleh konteks khusus gaya hidup konsumtif. Pernyataan yang sering digunakan untuk mendukung gaya hidup ini adalah biar kalah nasi mar jang kalah aksi (meski tidak makan, harus tetap gaya). Gaya hidup boros ini berpotensi menimbulkan masalah dalam keluarga dan berbagai permasalahan keluarga lainnya, karena terkait dengan pengeluaran berlebihan atau pemborosan uang dalam jumlah besar. Dengan menggunakan teknik observasi partisipatif dan analisis pustaka dari perspektif agama yang dijalani (lived religion), disimpulkan bahwa pendekatan pastoral yang dikembangkan di Manado berasal dari latar gaya hidup konsumtif yang menonjol, yang menjadi ciri khas masyarakat Manado dalam lingkup masyarakat Indonesia yang lebih luas.

Teologi pastoral, yang menjadi dasar konseling pastoral, dikembangkan sesuai dengan konteks penerapannya.Di tengah masyarakat Manado yang dikenal dengan gaya hidup konsumtif, konseling pastoral memandang konteks budaya ini sebagai peluang untuk memberikan dukungan dan bimbingan secara efektif.Konseling pastoral lebih menekankan empati dan dukungan, bukan kritik atau pemaksaan norma, serta bertujuan memahami keadaan unik individu dan membantu penyusunan rencana strategis yang sesuai.Dengan memahami konteks ini, strategi pastoral yang diterapkan dapat disesuaikan dengan kondisi konsumtif yang khas, serta perlu pengembangan lebih lanjut dalam metode konseling pastoral yang relevan.

Pertama, perlu penelitian lebih lanjut tentang bagaimana nilai-nilai tradisional Minahasa seperti kompetisi status melalui konsumsi diterjemahkan ke dalam praktik keagamaan sehari-hari di era digital, khususnya melalui media sosial dan penggunaan teknologi finansial. Kedua, penting untuk mengkaji bagaimana mahasiswa konseling pastoral di IAKN Manado memahami dan mengintegrasikan konteks lokal ke dalam praktik konseling mereka, mengingat dominasi teori psikologi Barat dalam kurikulum yang cenderung individualistik, sementara masyarakat Minahasa bersifat kolektif. Ketiga, perlu studi mendalam mengenai efektivitas pendekatan konseling pastoral berbasis lived religion dalam membantu keluarga menghadapi tekanan finansial akibat gaya hidup konsumtif, terutama dalam merancang rencana aksi pastoral yang realistis dan tidak menghakimi. Penelitian-penelitian ini akan membantu merancang model konseling pastoral yang benar-benar kontekstual, menghubungkan akar budaya, realitas ekonomi, dan dimensi religius yang dijalani oleh masyarakat Manado secara utuh. Dengan demikian, konseling pastoral tidak hanya mengatasi gejala, tetapi juga menyentuh akar permasalahan budaya dan spiritual yang mendasari gaya hidup konsumtif. Studi semacam ini juga dapat mengisi celah kurikulum pendidikan pastoral dengan materi yang relevan dan berbasis pengalaman lokal. Selain itu, temuan penelitian dapat digunakan untuk melatih calon pendeta dan konselor agar lebih peka terhadap kompleksitas hidup jemaat di tengah tuntutan sosial dan budaya. Pendekatan seperti ini akan menjadikan konseling pastoral lebih inklusif dan efektif, karena berangkat dari realitas yang sebenarnya dijalani, bukan dari teori atau norma yang diimposisikan dari luar.

  1. Manado’s Consumptive Lifestyle: A Lived Religion Perspective to Construct Contextual Pastoral Theology... ojs.ukim.ac.id/index.php/arumbae/article/view/1522ManadoAos Consumptive Lifestyle A Lived Religion Perspective to Construct Contextual Pastoral Theology ojs ukim ac index php arumbae article view 1522
Read online
File size307.44 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test