UMAUMA

JPPUMA: Journal of Governmental and Political Science University of Medan AreaJPPUMA: Journal of Governmental and Political Science University of Medan Area

Tulisan ini membicarakan tentang latar belakang masuknya Ugamo Malim, Huta Tinggi sebagai pusat aktivitas ritual dan aspek – aspek yang menyebabkannya dapat berkembang dan berpusat serta diterima masyarakat sekitar. adalah sebuah amanah dari Sisingamangaraja XII kepada Raja Mulia Naipospos. Beliau berpesan agar pusat kegiatan Ugamo Malim kelak dibangun di tempat kelahiran Raja Mulia Naipospos yakni Huta Tinggi. Raja Mulia Naipospos diserahi tugas mempertahankan dan melanjutkan penyiaran Ugamo Malim untuk masa selanjutnya. Pemeluk Ugamo Malim saat ini berjumlah 1600 Kepala Keluarga yang tersebar di wilayah Indonesia seperti wilayah Kabupaten Simalungun, kepulauan Riau, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Asahan, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Samosir, Kotamadya Jakarta Timur, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Batubara, Kabupaten Singkil, Kotamadya Medan, Kabupaten Labuhan Batu, Kabupaten Deli Serdang, dan Banten. Dalam perayaan Sipaha Sada pada bulan Maret dan Sipaha Lima pada bulan Juli maka ruas (pengikut) Parmalim yang berasal dari daerah tersebut di atas berkumpul di Huta Tinggi. Penganut Ugamo Malim berkumpul ke Huta Tinggi semenjak Huta Tinggi dijadikan pusat aktivitas ritual kepercayaan Parmalim yaitu tahun 1921 hingga saat ini.

Kepercayaan Parmalim masuk ke Huta Tinggi dipelopori oleh Raja Mulia Naipospos.Setelah Raja Nasiakbagi pergi meninggalkan umatnya, kepemimpinan agama Malim diwariskan kepada salah seorang murid setianya yaitu Raja Mulia Naipospos.Orang yang sangat besar partisipasinya dalam mengembangkan Parmalim inilah Raja Mulia Naipospos dari desa Huta Tinggi yang merupakan murid Si Singamangaraja.Dia diserahi tugas mempertahankan dan melanjutkan penyiaran agama Malim untuk masa selanjutnya.Dijadikannya Huta Tinggi sebagai Pusat Aktivitas Ritual Kepercayaan Parmalim karena Huta Tinggi merupakan tempat tinggal dari Raja Mulia Naipospos beserta keluarganya.Raja Mulia juga seorang penganut kepercayaan Ugamo Malim.Raja Mulia merupakan salah satu Panglima dari Raja Si Singamangaraja.Setelah Si Singamangaraja menghilang dan bersembunyi di suatu tempat, yang dahulunya merupakan tempat berdirinya Bale Pasogit Ugamo Malim telah dibumi hanguskan oleh Belanda, maka Si Singamangaraja mengamanatkan kepada Raja Mulia Naipospos untuk mendirikan Bale Pasogit di Huta Tinggi.Dan hal ini lah yang membuat Huta Tinggi menjadi pusat aktivitas ritual kepercayaan Parmalim saat ini.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, penelitian lebih lanjut mengenai peran perempuan dalam menjaga dan melestarikan tradisi Ugamo Malim di Huta Tinggi, mengingat peran penting perempuan dalam menjalankan ritual dan meneruskan pengetahuan tradisional. Kedua, penelitian komparatif antara praktik ritual Ugamo Malim di Huta Tinggi dengan praktik ritual Parmalim di daerah lain di Indonesia, untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan serta faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan kepercayaan ini. Ketiga, penelitian mendalam mengenai dampak modernisasi dan globalisasi terhadap keberlanjutan tradisi Ugamo Malim, serta strategi adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat Parmalim untuk menjaga identitas budaya dan kepercayaan mereka di tengah perubahan zaman. Ketiga saran ini saling terkait dan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika kepercayaan Parmalim di Indonesia, serta kontribusinya terhadap keberagaman budaya bangsa.

Read online
File size170.27 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test