UNIGRESUNIGRES

Journals of Ners CommunityJournals of Ners Community

Skizofrenia adalah gangguan mental berat yang menciptakan beban signifikan bagi keluarga, terutama di komunitas pedesaan dengan akses terbatas terhadap layanan. Penelitian sebelumnya telah berfokus pada beban keluarga dan stigma, namun sedikit yang mengeksplorasi secara mendalam persepsi budaya dan strategi adaptasi keluarga di pedesaan Indonesia. Secara khusus, jalur pencarian bantuan, durasi psikosis yang tidak diobati (DUP), dan pola adaptasi yang unik di pedesaan Surabaya masih belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi keluarga terhadap skizofrenia, mengeksplorasi strategi adaptasi yang dikembangkan, dan menganalisis interaksi antara persepsi, stigma, dan dinamika keluarga dalam membentuk pola pengobatan di komunitas pedesaan Surabaya. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif etnografi. Pengambilan sampel dilakukan secara purposif dan snowball, melibatkan 18 keluarga sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumen. Analisis data menggunakan analisis tematik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa persepsi keluarga didominasi oleh kepercayaan budaya (guna-guna, santet) dan kepercayaan agama (cobaan dari Tuhan). Stigma sosial mendorong strategi sosial berupa penyembunyian dan penarikan diri. Di balik tantangan ini, keluarga menunjukkan ketahanan melalui strategi adaptasi yang kompleks, meliputi dimensi emosional (penerimaan), praktis (pembagian peran, pengobatan integratif), dan spiritual (ibadah, pasrah). Studi ini menyimpulkan bahwa keluarga di komunitas pedesaan mengembangkan mekanisme adaptasi yang unik dan berlapis, di mana budaya bertindak sebagai sumber resistensi sekaligus sumber ketahanan. Implikasi dari temuan ini menekankan kebutuhan untuk mengembangkan intervensi kesehatan mental yang sensitif budaya dan berbasis kekuatan lokal, serta kebijakan yang mendukung penguatan peran keluarga sebagai pengasuh utama.

Penelitian etnografi ini berhasil mengungkap kompleksitas persepsi dan dinamika adaptasi keluarga dalam merawat anggota dengan skizofrenia di komunitas pedesaan Surabaya.Temuan menunjukkan bahwa persepsi keluarga didominasi oleh kerangka budaya dan agama, yang awalnya menganggap gangguan sebagai akibat guna-guna atau cobaan ilahi, sehingga pencarian bantuan dimulai dari jalur tradisional dan diperparah oleh stigma yang mendorong penyembunyian kondisi.Studi ini menyimpulkan bahwa keluarga menunjukkan ketahanan multidimensional melalui adaptasi emosional, praktis, dan spiritual, di mana budaya lokal berperan sebagai sumber tantangan sekaligus kekuatan, menegaskan pentingnya intervensi kesehatan mental yang sangat sensitif budaya dan berbasis pada mekanisme adaptasi keluarga yang telah ada.

Berdasarkan temuan penelitian ini yang mengungkap kompleksitas persepsi budaya, dampak stigma, dan beragam strategi adaptasi keluarga dalam merawat anggota dengan skizofrenia di komunitas pedesaan Surabaya, beberapa arah penelitian lanjutan yang menjanjikan dapat diidentifikasi untuk memperkaya pemahaman dan intervensi yang lebih efektif. Pertama, akan sangat bermanfaat untuk melakukan studi evaluasi jangka panjang mengenai efektivitas intervensi kesehatan mental yang sensitif budaya dan berbasis kekuatan lokal, seperti modul psikoedukasi yang mengintegrasikan kerangka biomedis dan religius, serta kampanye anti-stigma yang dipimpin oleh tokoh masyarakat. Pertanyaan penelitiannya bisa berupa: Sejauh mana intervensi tersebut dapat mengurangi durasi psikosis tidak tertangani (DUP), menurunkan stigma yang dirasakan keluarga, dan meningkatkan kualitas hidup pengasuh serta pasien dalam periode dua hingga lima tahun? Penelitian ini akan melengkapi rekomendasi praktis yang ada dengan bukti empiris mengenai dampaknya. Kedua, mengingat bahwa banyak keluarga telah merawat anggota mereka selama puluhan tahun, studi longitudinal atau lintas generasi perlu dilakukan untuk memahami bagaimana beban pengasuhan, mekanisme koping, dan penerimaan masyarakat berevolusi seiring waktu, serta bagaimana pengetahuan dan praktik perawatan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ini akan memberikan wawasan mendalam tentang dinamika adaptasi keluarga yang berkelanjutan dalam konteks budaya yang kuat. Ketiga, perlu ada penelitian lebih lanjut yang secara spesifik menganalisis peran dan mekanisme tokoh masyarakat (seperti kepala desa atau kyai) dalam mempengaruhi persepsi stigma dan memfasilitasi jalur pencarian bantuan formal di komunitas pedesaan. Bagaimana pemimpin lokal dapat secara efektif menggeser pemahaman dari penyebab supernatural menjadi medis, dan bagaimana jaringan dukungan informal antar sesama pengasuh dapat diperkuat dan diintegrasikan secara sistematis ke dalam sistem layanan kesehatan mental formal?.

Read online
File size342.36 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test