IPMIIPMI

Journal of Sustainable Community Development (JSCD)Journal of Sustainable Community Development (JSCD)

Penerapan konsep Halal pada Warisan Budaya Tak Berwujud (ICH), misalnya pasar pakaian tradisional (cheongsam) untuk tahun 2030, menghadirkan peluang bisnis dan sosial bagi pertumbuhan. Dengan memahami sistem audit keberlanjutan Halal berbasis ISO Plan/Do/Check/Act (PDCA) – yang mencakup sumber etis, perencanaan, pelaksanaan produksi barang/jasa, pemeriksaan melalui tinjauan desain, serta tindakan dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan untuk tinjauan audit keberlanjutan Halal dan perbaikan berkelanjutan di sektor layanan cheongsam tradisional – negara‑negara Asia Tenggara dapat menjadi pasar potensial ICH × AI dengan penciptaan pekerjaan layak (SDG #8) serta menumbuhkan pola pikir SDG #3, #9, #12, #16 yang kaya budaya, etis, dan benar‑benar berkelanjutan serta damai. Hal ini memerlukan upaya sadar untuk menjembatani pemahaman budaya, mengadopsi praktik etis, dan memanfaatkan kekuatan tradisi serta inovasi guna membina wirausahawan masa depan.

Kesimpulannya, masa depan pasar cheongsam di Shenzhen pada tahun 2030 bukanlah sesuatu yang sudah pasti, melainkan kanvas bagi inovasi strategis.Dengan mengadopsi warisan budaya, prinsip‑prinsip pemikiran desain tak berwujud, memanfaatkan kecerdasan buatan, serta menyelaraskan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Shenzhen memiliki peluang untuk mengubah pasar cheongsam menjadi ekosistem yang berkembang, menghormati tradisi, mengintegrasikan inovasi, dan berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan dan adil.Hal ini bukan sekadar menjual pakaian, melainkan merajut sejarah, kreativitas, dan tanggung jawab untuk menciptakan pasar yang benar‑benar bermakna dan berdampak.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi persepsi konsumen terhadap pakaian cheongsam yang dirancang oleh kecerdasan buatan dan bersertifikasi halal, dengan mengukur tingkat penerimaan, kepuasan estetika, serta kesediaan membayar di pasar Shenzhen, serta membandingkannya dengan produk tradisional tanpa teknologi AI. Selain itu, diperlukan kajian yang menilai efektivitas lokakarya berpikir desain (design thinking) dalam memberdayakan pengrajin perempuan pada sektor ICH di berbagai kota Asia, seperti Shenzhen, Bangkok, dan Jakarta, guna memahami bagaimana pendekatan tersebut meningkatkan kemampuan inovasi, akses pasar, dan kesejahteraan ekonomi mereka. Selanjutnya, dapat dikembangkan dan diuji kerangka kerja audit keberlanjutan halal berbasis standar ISO untuk produk tekstil ICH, dengan menilai dampaknya terhadap indikator lingkungan (misalnya jejak karbon dan penggunaan bahan alami) serta sosial (misalnya upah adil dan kondisi kerja), serta kontribusinya terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan terkait. Penelitian juga dapat mengevaluasi peran kebijakan pemerintah dan kemitraan lintas sektor dalam memfasilitasi adopsi model bisnis berkelanjutan ini, sehingga dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang lebih terarah dan efektif. Ketiga penelitian tersebut diharapkan memberikan wawasan empiris yang mendalam, memperkuat dasar kebijakan, dan memperluas penerapan model bisnis berkelanjutan pada warisan budaya tak berwujud, sehingga menciptakan dampak sosial‑ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.

Read online
File size200.9 KB
Pages4
DMCAReport

Related /

ads-block-test