MERCUBAKTIJAYAMERCUBAKTIJAYA

JURNAL ABDI MERCUSUARJURNAL ABDI MERCUSUAR

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat serius di Indonesia yang tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berdampak jangka panjang pada perkembangan otak dan meningkatkan risiko disabilitas. Kekurangan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan dapat mengganggu proses mielinisasi dan pembentukan struktur otak yang berperan dalam fungsi kognitif dan perilaku. Namun, pemahaman orang tua tentang keterkaitan stunting dengan gangguan neurodevelopment masih terbatas. Kesenjangan pengetahuan ini berpotensi melemahkan upaya pencegahan dan menyebabkan keterlambatan deteksi dini gangguan perkembangan. Tujuan kegiatan menekankan pentingnya program psikoedukasi terstruktur bagi orang tua untuk meningkatkan pemahaman holistik serta memperkuat peran keluarga dalam pencegahan stunting dan optimalisasi tumbuh kembang anak.

Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dalam pemberdayaan orang tua terkait keterlambatan bicara anak, dapat disimpulkan bahwa layanan edukasi mengenai dampak stunting terhadap risiko Anak Berkebutuhan Khusus di Kanagarian Lareh Sago Halaban terbukti sangat bermanfaat dan lebih efektif dibandingkan penyuluhan konvensional.Hal ini ditunjukkan melalui peningkatan pengetahuan dan pemahaman orang tua serta keluarga secara langsung.Sejalan dengan temuan tersebut, disarankan agar kegiatan edukasi serupa dilaksanakan secara berkelanjutan dan terprogram dengan melibatkan berbagai pihak lintas sektor, seperti puskesmas, kader Posyandu, PKK, dan tenaga pendidik PAUD.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan saran penelitian lanjutan yang ada, terdapat beberapa arah penelitian yang menjanjikan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor-faktor kontekstual yang memengaruhi efektivitas program psikoedukasi, seperti tingkat pendidikan orang tua, akses terhadap layanan kesehatan, dan dukungan sosial dari komunitas. Kedua, penelitian kuantitatif dengan desain longitudinal dapat dilakukan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang program psikoedukasi terhadap perkembangan anak, termasuk kemampuan kognitif, motorik, dan sosial-emosional. Ketiga, pengembangan intervensi berbasis keluarga yang menggabungkan psikoedukasi dengan dukungan praktis, seperti konseling gizi dan pelatihan keterampilan pengasuhan, dapat menjadi strategi yang lebih komprehensif untuk mencegah stunting dan risiko anak berkebutuhan khusus. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup anak-anak Indonesia dan mengurangi kesenjangan dalam tumbuh kembang mereka.

Read online
File size1.14 MB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test