STIBAIEC JAKARTASTIBAIEC JAKARTA

JELL (Journal of English Language and Literature) STIBA-IEC JakartaJELL (Journal of English Language and Literature) STIBA-IEC Jakarta

Studi ini mengeksplorasi representasi teori feminis dalam sistem matrilineal Minangkabau yang digambarkan dalam film Indonesia Cinta Tapi Beda (2012) karya Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra. Penelitian fokus pada konflik antara tokoh utama Diana dan ibunya, mencerminkan ketegangan antara tradisi, peran gender, dan otonomi perempuan. Pendekatan kualitatif digunakan dengan analisis teks dan karakter dari skenario terpilih. Analisis mengacu pada kerangka teori feminis—postmodern, liberal, dan multikultural/global—untuk mengidentifikasi persimpangan diskursus feminis dan nilai matrilineal. Temuan menunjukkan bahwa meskipun sistem matrilineal Minangkabau memberikan otoritas simbolis kepada perempuan, struktur patriarki tetap mendominasi praktik sosial dan budaya. Ketegangan ini paling terlihat dalam penolakan hubungan romantis Diana, yang dipengaruhi oleh keterbatasan agama dan budaya, bukan kerangka matrilineal itu sendiri. Studi ini menunjukkan bahwa perspektif feminis mengungkap kontradiksi dalam sistem matrilineal Minang, menunjukkan bagaimana otoritas perempuan tetap dibatasi oleh norma patriarki. Kajian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam tentang interaksi antara identitas budaya, peran gender, dan representasi sinematik di Indonesia. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk mengeksplorasi bagaimana film-film Indonesia kontemporer lebih lanjut mengatur tradisi dan kesetaraan gender.

Film Cinta Tapi Beda secara kuat menggambarkan persimpangan perjuangan feminis dan identitas budaya, terutama dalam sistem matrilineal Minangkabau.Konflik Diana dengan ibunya mencerminkan ketegangan antara otonomi individu dan harapan tradisional, menunjukkan bagaimana norma budaya yang didominasi perempuan tetap membatasi kebebasan perempuan.Kekhawatiran ibu Diana terhadap konversi agama dan perlindungan garis keturunan mengungkap ketakutan mendalam yang berakar pada tekanan historis dan sosial, menunjukkan bahwa isu feminis tetap relevan bahkan dalam masyarakat di mana perempuan memiliki otoritas struktural.Dengan menggambarkan dinamika ini, film ini mengkritik sistem kekuasaan tradisional dan menunjukkan bahwa pemberdayaan nyata memerlukan fleksibilitas ideologis dan penghormatan antar generasi.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji perbandingan dinamika gender dalam masyarakat matrilineal dan patrilineal untuk memahami perbedaan kompleksitas struktur kekuasaan. Selain itu, studi tentang peran media dalam membentuk persepsi budaya terhadap gender, khususnya bagaimana film seperti Cinta Tapi Beda dapat mengubah atau memperkuat stereotip, menjadi penting. Terakhir, penelitian kualitatif yang melibatkan perempuan Minangkabau nyata dapat memperdalam pemahaman dengan menghubungkan representasi sinematik dengan pengalaman hidup mereka, sehingga menghasilkan wawasan yang lebih holistik tentang dinamika feminis dalam konteks budaya yang kompleks.

Read online
File size226.08 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test