ISI SURAKARTAISI SURAKARTA

Gelar: Jurnal Seni BudayaGelar: Jurnal Seni Budaya

Tari Adaninggar‑Kelaswara merupakan hasil kreativitas yang diangkat dari episode Hikayat Amir Hamzah, khususnya Putri China. Ketika popularitas Wong Agung Menak memengaruhi Adaninggar untuk melayani beliau sebagai ratu, ia tidak menyadari bahwa dalam adat Islam seorang pria hanya diperbolehkan memiliki empat istri. Pada saat itu, Wong Agung Menak telah memiliki istri keempat yang juga seorang prajurit, yaitu Kelaswara. Karena rasa cemburu terhadap kepemilikan Wong Agung, terjadi duel antara Adaninggar dan Kelaswara; dalam duel tersebut Adaninggar tewas akibat pelanggaran nilai etis dan ajaran Islam yang menentang pemaksaan. Kecemburuan besar dan kesombongan menjadi penyebab kematian Adaninggar. Tari Adaninggar‑Kelaswara mengandung nilai estetika tinggi, berupa kreativitas duel antara dua wanita cantik yang menyalakan emosi cinta buta. Nilai estetika tari tersebut dapat diamati melalui struktur maju beksan, beksan, dan mundur beksan.

Pertunjukan Tari Adaninggar‑Kelaswara menggabungkan nilai etis dan estetis yang tercermin dalam gerak, tata rias, tata busana, dan musiknya, sehingga menghasilkan pengalaman visual yang memuaskan penonton.Nilai etis terlihat pada penggambaran karakter, khususnya dalam konflik antara tokoh antagonis Adaninggar yang melanggar norma Islam dan tokoh protagonis Kelaswara yang menjunjung kehormatan dan ajaran agama.Keseluruhan analisis menunjukkan bahwa penghormatan terhadap nilai etis serta penerapan prinsip estetis menjadi kunci keberhasilan pertunjukan dalam menyampaikan pesan budaya dan moral.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki persepsi penonton terhadap nilai etis dan estetis dalam pertunjukan Tari Adaninggar‑Kelaswara dengan menggunakan kuesioner skala Likert yang diikuti analisis statistik deskriptif, sehingga dapat mengukur sejauh mana kedua nilai tersebut memengaruhi kepuasan estetika penonton. Selanjutnya, studi komparatif antara Tari Adaninggar‑Kelaswara dengan tarian pethilan Jawa lainnya dapat dilakukan melalui analisis semiotik untuk mengidentifikasi perbedaan simbolik dalam representasi nilai etika dan keindahan. Selain itu, penelitian etnografi lapangan yang melibatkan pelatih, penari, serta anggota komunitas lokal dapat menggali proses pembelajaran, transmisi nilai moral, dan adaptasi tarian dalam konteks modernisasi, sehingga memberikan rekomendasi strategis untuk pelestarian budaya yang dinamis. Dengan pendekatan-pendekatan tersebut, diharapkan dapat terbukti bahwa integrasi nilai etis dan estetis tidak hanya memperkaya pengalaman artistik tetapi juga memperkuat identitas budaya masyarakat Jawa dalam era globalisasi. Penelitian selanjutnya juga dapat mengevaluasi dampak digitalisasi rekaman tari terhadap pelestarian nilai-nilai tradisional, dengan membandingkan persepsi generasi muda yang mengakses materi melalui platform daring versus pengalaman langsung di panggung.

Read online
File size235.02 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test