PDGIPDGI

Jurnal Radiologi Dentomaksilofasial Indonesia (JRDI)Jurnal Radiologi Dentomaksilofasial Indonesia (JRDI)

Tujuan: Anomali jumlah gigi merupakan perubahan struktur dental yang timbul akibat abnormalitas selama pembentukan gigi, dapat disebabkan oleh faktor kongenital atau pertumbuhan. Anomali jumlah gigi terdiri dari anadontia dan supernumerary teeth. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran umum prevalensi anomali jumlah gigi ditinjau dari radiografi panoramik di RSGM UNHAS. Bahan dan Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan desain cross sectional study. Subjek penelitian adalah seluruh data foto radiografi panoramik di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Hasanuddin dalam 1 tahun terakhir. Data diolah dalam bentuk tabel dan diagram. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas prevalensi anadontia berdasarkan jenis kelamin terjadi pada perempuan, dengan rincian hipodonsia 68,04%, oligodonsia 26,93%, dan anadontia 5,21%. Prevalensi anadontia berdasarkan kelompok usia paling banyak terjadi pada kelompok usia dewasa, dengan rincian hipodonsia 77,73%, oligodonsia 21,40%, dan anadontia 0,87%. Prevalensi anadontia berdasarkan bulan paling banyak terjadi pada Agustus 2018 dengan 70 orang, sedangkan jumlah terendah pada Juli 2018 dengan 1 orang. Prevalensi supernumerary teeth berdasarkan jenis kelamin paling banyak terjadi pada pasien laki-laki dengan total 4 orang, dengan rincian mesiodens 25% dan laterodens 75%, serta tidak ada distomolar.

Prevalensi anomali kekurangan jumlah gigi berdasarkan jenis kelamin paling banyak dialami oleh perempuan, dan prevalensi supernumerary teeth lebih banyak dialami oleh laki-laki.Berdasarkan kelompok usia, anomali jumlah gigi paling banyak dialami oleh kelompok usia dewasa, dan supernumerary teeth paling banyak dialami oleh kelompok usia remaja.

Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengkaji faktor genetik yang berperan dalam terjadinya anomali jumlah gigi, dengan melibatkan analisis DNA pada kelompok populasi yang berbeda. Selain itu, studi longitudinal diperlukan untuk menelusuri perkembangan anomali jumlah gigi dari usia dini hingga dewasa, serta dampaknya terhadap kesehatan gigi dan mulut secara keseluruhan. Terakhir, penelitian yang berfokus pada efektivitas berbagai metode pencegahan dan perawatan anomali jumlah gigi, seperti terapi ortodonti atau bedah mulut, juga sangat penting untuk dilakukan guna meningkatkan kualitas hidup pasien yang mengalami kondisi ini. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai anomali jumlah gigi, sehingga dapat dirumuskan strategi intervensi yang lebih efektif dan personal.

  1. Prevalensi anomali jumlah gigi ditinjau dari radiografi panoramik di RSGM UNHAS Makassar | Jurnal Radiologi... jurnal.pdgi.or.id/index.php/jrdi/article/view/475Prevalensi anomali jumlah gigi ditinjau dari radiografi panoramik di RSGM UNHAS Makassar Jurnal Radiologi jurnal pdgi index php jrdi article view 475
Read online
File size560.3 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test