ABULYATAMAABULYATAMA

Jurnal Dedikasi PendidikanJurnal Dedikasi Pendidikan

Fenomena krisis adab yang melanda generasi muda saat ini merupakan persoalan yang kompleks dan mendesak, terutama di tengah gempuran arus digitalisasi. Gampong Lieue, sebagai salah satu komunitas masyarakat religius di Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, tidak luput dari tantangan ini. Penelitian ini membahas bagaimana model pendidikan nilai Islam yang berbasis masyarakat dapat menjadi solusi dalam merespons degradasi nilai adab tersebut. Permasalahan yang diangkat berangkat dari lemahnya penghayatan nilai-nilai Islam dalam interaksi sosial masyarakat, khususnya pada generasi muda, yang ditandai dengan meningkatnya perilaku menyimpang, rendahnya sopan santun, serta melemahnya rasa hormat kepada orang tua dan tokoh masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap tokoh agama, orang tua, guru, dan pemuda setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pendidikan nilai Islam yang melibatkan peran aktif masyarakat, yaitu pengajian gampong, majelis talim, dan keteladanan tokoh Masyarakat, mampu membentuk kembali kesadaran kolektif dan menanamkan nilai adab secara kontekstual dan berkelanjutan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kolaborasi antara institusi formal (sekolah), keluarga, dan lembaga adat dalam memperkuat ekosistem pendidikan nilai Islam berbasis komunitas, serta integrasi kurikulum adab dalam setiap kegiatan sosial keagamaan masyarakat di era digital.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa krisis adab di kalangan generasi muda Gampong Lieue merupakan persoalan serius yang dipengaruhi oleh derasnya arus digitalisasi, minimnya sinergi pendidikan antar lingkungan, serta lemahnya internalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.Anak-anak dan remaja menunjukkan gejala disorientasi nilai seperti menurunnya sopan santun, dominasi penggunaan gawai, serta rendahnya keterlibatan dalam kegiatan keagamaan.Model pendidikan nilai Islam berbasis masyarakat memiliki potensi besar dalam menjawab tantangan ini.Peran aktif tokoh agama, guru, orang tua, dan pemuda gampong terbukti mampu menciptakan ruang-ruang pendidikan nilai yang kontekstual dan berkelanjutan.Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan serius seperti kurangnya kolaborasi lintas sektor, ketergantungan pada figur tertentu, dan belum adanya sistem pendidikan nilai yang terstruktur dan terintegrasi secara komunitas.Kolaborasi antara sekolah formal, keluarga, dan lembaga masyarakat sebagai bagian dari pendekatan tri pusat pendidikan perlu diperkuat untuk membangun kembali ekosistem adab Islami yang relevan dengan konteks lokal dan adaptif terhadap tantangan era digital.

Untuk memperkuat integrasi kurikulum adab, kurikulum pendidikan formal perlu menyisipkan nilai-nilai adab Islam dalam setiap mata pelajaran, dan dihubungkan secara langsung dengan aktivitas keseharian anak dalam masyarakat. Pembangunan ekosistem pendidikan nilai berbasis komunitas dapat dilakukan melalui pembentukan forum kolaboratif yang melibatkan guru, tokoh agama, orang tua, dan pemuda untuk menyusun program bersama dalam menanamkan nilai adab di luar lingkungan sekolah. Selain itu, diperlukan pelatihan literasi digital berbasis nilai Islam bagi orang tua dan guru untuk mendampingi anak-anak dalam penggunaan teknologi secara sehat dan bernilai. Revitalisasi peran tokoh lokal sebagai teladan adab juga penting, dengan memfasilitasi tokoh agama dan adat sebagai role model dalam internalisasi nilai Islam dalam kehidupan sosial dan kepemudaan. Peningkatan keterlibatan remaja dalam kegiatan keagamaan dapat dilakukan dengan mendesain kegiatan masjid dan pengajian remaja yang lebih menarik dan relevan, misalnya dengan menyisipkan media digital, konten kreatif, dan partisipasi dalam produksi dakwah multimedia.

Read online
File size342.05 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test