ACTAMEDINDONESACTAMEDINDONES

Acta Medica IndonesianaActa Medica Indonesiana

Kuningnya kulit, membran mukosa, dan sklera disebabkan oleh penumpukan bilirubin berlebihan dalam tubuh. Kondisi ini, yang dikenal sebagai ikterus, terjadi karena hiperbilirubinemia. Meskipun ikterus relatif jarang pada orang dewasa, keberadaannya biasanya menunjukkan patologi dasar yang serius. Diagnosa ikterus memerlukan lebih dari pemeriksaan fisik, karena penyebabnya sangat beragam, mulai dari gangguan pre-hepatis, intrahepatis, hingga post-hepatis. Hiperbilirubinemia, selain menyebabkan ikterus, juga dapat menyebabkan manifestasi kulit seperti xerosis, plak hiperpigmentasi, dan ruam eritematosa. Manifestasi ini sering dikaitkan dengan gangguan hepatobilier primer. Laporan kasus ini membahas seorang wanita berusia 47 tahun yang dirawat dengan transaminitis dan hiperbilirubinemia yang disertai ruam eritematosa makulopapular, deskuamasi pada tangan dan kaki, serta gatal. Manifestasi kulit yang paling menonjol adalah munculnya plak hiperpigmentasi pada wajah. Pasien dirawat di sebuah rumah sakit di Malang, Jawa Timur, Indonesia. Meskipun dirawat, diagnosis pasti tidak dapat ditetapkan karena keterbatasan layanan medis yang tersedia dan penghalang budaya, yang menghambat kesediaan pasien untuk menjalani prosedur medis tertentu. Kasus ini memberikan kesempatan berharga untuk mengeksplorasi kemungkinan diagnosis dari perspektif medis, menekankan tantangan yang ditimbulkan oleh pembatasan tersebut.

Kasus ini menimbulkan tantangan diagnostik yang signifikan, karena pasien menunjukkan manifestasi kulit bersamaan dengan temuan laboratorium hiperbilirubinemia dan transaminitis, meskipun pencitraan ultrasonografi tidak menunjukkan kelainan.Oleh karena itu, investigasi lanjutan diperlukan, termasuk uji serologis, teknik pencitraan lanjutan, dan biopsi hati.Salah satu diagnosis potensial yang perlu dipertimbangkan adalah PBC.Mengingat kejarangannya dan fitur tumpang tindih dengan kondisi lain, klinisi harus meningkatkan pendekatan diagnostiknya.Ini akan memastikan pengobatan yang tepat dan akurat sekaligus menghindari prosedur diagnostik yang tidak perlu.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada dampak faktor budaya terhadap diagnosis penyakit sistemik, seperti PBC, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas. Penelitian juga perlu mengeksplorasi metode diagnostik non-invasif yang lebih efektif untuk mendeteksi PBC pada pasien dengan manifestasi kulit tidak biasa. Selain itu, penting untuk mempelajari hubungan antara fluktuasi hormon estrogen dan perkembangan PBC serta penyakit fibrokistik payudara, terutama pada wanita. Dengan memahami faktor risiko ini, dapat dikembangkan strategi pengelolaan yang lebih personal dan efektif. Penelitian lebih lanjut juga dapat mengevaluasi peran obat-obatan alternatif dalam mengurangi gejala PBC tanpa efek samping berat. Dengan menggabungkan pendekatan ini, peneliti dapat membantu meningkatkan akurasi diagnosis dan efektivitas pengobatan untuk pasien dengan kondisi kompleks seperti PBC.

  1. Primary Biliary Cirrhosis and Primary Sclerosing Cholangitis: a Review Featuring a Women's Health... doi.org/10.14218/JCTH.2014.00024Primary Biliary Cirrhosis and Primary Sclerosing Cholangitis a Review Featuring a Womens Health doi 10 14218 JCTH 2014 00024
  2. The British Society of Gastroenterology/UK-PBC primary biliary cholangitis treatment and management guidelines... doi.org/10.1136/gutjnl-2017-315259The British Society of Gastroenterology UK PBC primary biliary cholangitis treatment and management guidelines doi 10 1136 gutjnl 2017 315259
  3. Official journal of the American College of Gastroenterology | ACG. official journal american college... journals.lww.com/ajg/abstract/2006/03000/dermatological_manifestations_in_primary_biliary.21.aspxOfficial journal of the American College of Gastroenterology ACG official journal american college journals lww ajg abstract 2006 03000 dermatological manifestations in primary biliary 21 aspx
Read online
File size3.73 MB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test