AKPERGITAMATURAABADIAKPERGITAMATURAABADI

Jurnal Keperawatan Dan Kesehatan HolistikJurnal Keperawatan Dan Kesehatan Holistik

Gangguan jiwa adalah kondisi yang kompleks terdiri dari berbagai masalah dan gejala yang dapat menyebabkan perubahan signifikan dalam berpikir, emosi dan perilaku individu. Perilaku agresif pada perilaku kekerasan adalah salah satu gangguan jiwa yang dapat memicu bahaya secara fisik pada diri sendiri dan orang lain yang disertai dengan luapan emosi yang tidak terkontrol, cenderung memperlihatkan sikap bermusuhan, cepat marah dan memiliki keyakinan yang tidak rasional. Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah metode untuk memahami dan mengatasi masalah emosi serta perilaku, menghilangkan pikiran tidak logis agar menjadi rasional. Tujuan utama REBT adalah menghilangkan gangguan emosional yang dapat merusak diri. Metode deskriptif dengan studi kasus digunakan, melibatkan 2 pasien yang mengalami masalah keperawatan perilaku agresif pada perilaku kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Prof. DR. Muhammad Ildrem Medan. Didapatkan hasil dari kedua responden selama menjalani REBT selama 3 hari dengan 6 kali pertemuan didapatkan kedua responden berhasil mengontrol emosi dan menurunkan perilaku kekerasan setelah diberikan terapi dari SP 1 hingga SP 5. Disimpulkan bahwa pemberian REBT dapat mengontrol emosional pasien perilaku kekerasan.

Setelah peneliti melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien perilaku kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Prof.Muhammad Ildrem tahun 2024 yaitu pada kedua pasien pada tanggal 05 Februari 2024 - 07 Februari 2024 dengan 6 kali pertemuan, peneliti dapat menarik kesimpulan dan dapat memberikan saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi pembaca maupun paramedis lainnya.Berdasarkan hasil pengkajian kedua responden memiliki beberapa kesamaan yaitu pada pasien 1 dan 2 adalah berjenis kelamin laki-laki, diagnosa yang sama yaitu perilaku kekerasan dan dikaji pada tanggal yang sama pada tanggal 05 Februari 2024, namun perbedaan dari kedua pasien tersebut yaitu pasien 1 berusia 27 tahun, pengangguran, belum menikah, agama Islam dan bersuku Melayu dengan latar belakang sering marah-marah, mengamuk, mengancam orang tua, berbicara sendiri, melempar barang-barang, tidak bisa tidur, memaksa keluar dari RSJ ingin pulang kerumahnya, suka mengganggu dan memukul teman sekamarnya.Sedangkan pada pasien 2 berusia 31 tahun, menikah dan memiliki 4 orang anak, bekerja sebagai serabutan, agama Kristen dan bersuku Simalungun dengan latar belakang sering bingung, mengancam ingin membunuh ibunya jika keinginannya tidak dituruti, ingin keluar dari RSJ, ingin merokok dan memaksa perawat untuk membeli rokok, jika tidak diberikan maka pasien akan mengamuk dan akan memukul tembok.Diagnosis keperawatan merupakan dasar pemilihan intervensi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perawat yang bertanggung jawab (Muhith, 2015).Secara umum berdasarkkan yang ditentukan dalam SDKI (2018), diagnosa yang ditentukan adalah D.Diagnosa keperawatan yang didapatkan dari kedua responden adalah memiliki diagnosa keperawatan yang sama yaitu perilaku kekerasan.Pada pasien 1 menunjukkan perilaku kekerasan yang berhubungan dengan harga diri rendah ditandai dengan ketidakmampuan mengendalikan marah, memaksa keluar dari RSJ, memukul teman sekamarnya.Sedangkan, pada pasien 2 menunjukkan perilaku kekerasan yang juga berhubungan dengan harga diri rendah ditandai dengan ketidakmampuan mengendalikan dorongan marah, pasien marah-marah dan memaksa perawat untuk membeli rokok dan mengancam memukul tembok jika tidak dituruti.Rencana tindakan keperawatan yang telah dilakukan yaitu pada kedua responden memiliki rencana tindakan keperawatan yang sama yaitu dengan strategi pelaksanaan (SP).Pada SP 1 bina hubungan saling percaya menggunakan komunikasi teraupetik dengan pasien.Pada SP 2 mengontrol perilaku kekerasan dengan latihan fisik yaitu dengan memukul bantal atau kasur, SP 3 yaitu mengotrol perilaku kekerasan dengan teknik Rational Emotive Behavior Therapy.SP 4 Mengontrol Perilaku kekerasan dengan Spritual.SP 5 bantu pasien dalam kepatuhan minum obat.Rational Emotive Behavior Therapy dapat mengubah pola perilaku maladaptif menjadi adaptif, meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol perilaku agresif yang sebelumnya tidak dapat dikendalikan, mampu berfikir yang rasional, memahami rentang dari perasaan yang dirasakannya, mampu membedakan antara kenyataan dengan persepsi terhadap suatu kondisi atau peristiwa, sehingga pasien dapat melakukan koping yang adaptif terhadap suatu peristiwa dalam jangka waktu lama (Pardede et al, 2020).Implementasi dalam pemberian asuhan keperawatan yaitu dengan strategi pelaksanaan (SP), yaitu SP 1-SP 5 pada pasien.Pada SP 1 bina hubungan saling percaya menggunakan komunikasi teraupetik dengan pasien.Pada SP 2 mengontrol perilaku kekerasan dengan latihan fisik yaitu dengan memukul bantal atau kasur, SP 3 yaitu mengotrol perilaku kekerasan dengan teknik Rational Emotive Behavior Therapy dan melatih dengan cara spiritual dan berdoa sesuai dengan agama yang dianut pasien.SP 4 Mengontrol Perilaku kekerasan dengan cara berdoa atau beribadah sesuai kepercayaan pasien.SP 5 bantu pasien dalam kepatuhan minum obat.Dengan diberikannya SP pada pasien perilaku agresif pada perilaku kekerasan diharapkan pasien dapat mengontrol perilaku kekerasan agar tidak merugikan diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Nurul, 2021).Pada hasil evaluasi yang didapatkan dari kedua responden yaitu pasien 1 dan 2 didapatkan hasil bahwa pada pasien 1 dengan perilaku kekerasan dapat diatasi dengan pemberian rational emotive behavior therapy, pasien mengatakan perilaku marah dan emosi berkurang saat pasien mengubah pemikiran lebih positif.Sama halnya dengan hasil yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Siauta, Moomina, Hani Tuasikal (2020), melaporkan bahwa setelah diberikan Rational Emotive Behavior Therapy pasien dapat mengontrol perilaku kekerasan yang dilakukan pasien berkurang.Pada pasien 2, didapatkan perubahan perilaku dimana perilaku marah dan emosi pada perilaku kekerasan berkurang setelah diberikan Rational Emotive Behavior Therapy, evaluasi yang didapatkan dari hasil tindakan yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa perilaku pasien dapat berubah setelah diberikan penjelasan mengenai rational emotive behavior therapy.Sesuai dengan hasil studi yang (Pardede et al., 2020) dilakukan oleh menunjukkan sebelum diberikan intervensi, kemampuan mengontrol perilaku kekerasan sebagian besar dalam kategori kurang, namun setelah diberikan terapi Rational Emotive Behavior Therapy kemampuan pasien mengontrol kekerasan meningkat, pasien mengemukakan bahwa ketika sedang marah karena aktivitasnya terganggu mereka tidak langsung membalas tetapi berusaha melihat hal positif dalam dirinya serta berusaha lebih rileks.Selain itu, pasien juga menjadi lebih tenang dalam berfikir dan dapat mengelola stress dan pernapasannya dengan baik.Kondisi ini dialami pasien karena pemberian Rational Emotive Behavior Therapy dapat membantu pasien memusatkan fokus dan kemampuan untuk berpikir logis.

Berdasarkan hasil penelitian ini, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan: 1. Mengembangkan strategi intervensi keperawatan yang lebih komprehensif untuk mengontrol perilaku agresif pada pasien dengan perilaku kekerasan. Penelitian ini dapat fokus pada pengembangan dan pengujian intervensi yang menggabungkan pendekatan psikofarmakologis dan psikososial, seperti terapi perilaku kognitif (CBT) atau terapi perilaku dialektis (DBT), untuk meningkatkan efektivitas dalam mengendalikan emosi dan perilaku agresif. 2. Melakukan studi longitudinal untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dari pemberian Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) pada pasien dengan perilaku kekerasan. Penelitian ini dapat menyelidiki apakah REBT dapat mengurangi risiko kekambuhan perilaku kekerasan dan meningkatkan kualitas hidup pasien dalam jangka panjang. 3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas REBT pada pasien dengan perilaku kekerasan. Penelitian ini dapat menyelidiki variabel-variabel seperti usia, jenis kelamin, latar belakang sosial, dan tingkat keparahan gangguan jiwa, untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan intervensi dan mengembangkan strategi penyesuaian yang sesuai.

Read online
File size303.53 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test