UMAUMA

Jurnal AnalitikaJurnal Analitika

Individu yang memiliki orang tua bercerai berisiko tinggi mengalami gangguan stres pasca trauma, namun peristiwa traumatis dapat membantu individu untuk mempelajari berbagai hal dan mengembangkan kompetensi yang sebelumnya tidak ia miliki yang disebut dengan Post Traumatic Growth (PTG). Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran PTG dari individu yang mengalami perceraian orang tua. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif fenomenologis. Peneliti melakukan wawancara semi terstruktur terhadap enam orang partisipan yang mengalami perceraian orangtua saat berusia anak-anak atau remaja. Peneliti menggunakan metode purposive sampling dalam memilih partisipan. Hasil dari penelitian menyimpulkan bahwa seluruh partisipan mengalami perubahan dalam seluruh dimensi PTG setelah orang tua bercerai, yaitu perubahan dalam hubungan interpersonal, perubahan dalam kondisi spiritual, munculnya penghargaan terhadap kehidupan, munculnya kesempatan/prioritas baru, dan munculnya kekuatan diri pasca perceraian orang tua.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa keenam partisipan mengalami perubahan positif dalam seluruh dimensi Post Traumatic Growth (PTG) setelah perceraian orang tua, meliputi perbaikan hubungan interpersonal, peningkatan spiritualitas, penghargaan terhadap hidup, prioritas baru, dan kekuatan diri.Perubahan tersebut ditandai dengan hubungan yang lebih baik dengan orang tua, peningkatan ibadah dan kepercayaan pada takdir Tuhan, rasa syukur yang lebih besar, keinginan membantu orang tua secara finansial, serta optimisme dan kemampuan mengelola emosi yang lebih baik.Perkembangan PTG ini dipengaruhi oleh faktor internal seperti proses ruminasi, motivasi, welas asih diri, dan pemaafan, serta faktor eksternal seperti dukungan sosial, pengalaman sukses, peristiwa hidup (seperti kehilangan ibu), dan bantuan profesional.

Penelitian ini telah memberikan pemahaman mendalam tentang Post Traumatic Growth (PTG) pada wanita dewasa awal dari keluarga bercerai melalui pendekatan kualitatif. Untuk melengkapi temuan ini, penelitian lanjutan dapat mempertimbangkan untuk melibatkan partisipan dengan demografi yang lebih beragam, termasuk laki-laki dewasa awal dan individu yang mengalami perceraian orang tua pada tahapan usia yang berbeda. Hal ini penting untuk menguji apakah pola PTG dan faktor-faktor pendorongnya memiliki variasi lintas gender atau usia saat peristiwa traumatis terjadi, sehingga generalisasi temuan dapat diperluas. Selain itu, akan sangat bermanfaat untuk melakukan studi yang lebih mendalam mengenai mekanisme spesifik di balik faktor-faktor yang diidentifikasi mempengaruhi PTG, seperti bagaimana dukungan sosial dari komunitas agama atau pasangan secara konkret memediasi pertumbuhan pasca trauma. Pertanyaan penelitian bisa berfokus pada jenis dukungan yang paling efektif dan bagaimana individu menginternalisasi dukungan tersebut menjadi kekuatan diri. Sebagai arah studi berikutnya, penelitian longitudinal yang melacak perkembangan PTG pada individu dari waktu ke waktu setelah perceraian orang tua akan memberikan wawasan berharga tentang lintasan pertumbuhan ini. Ini dapat mengidentifikasi titik intervensi potensial. Atau, studi intervensi bisa dirancang untuk menguji efektivitas program bimbingan atau terapi yang secara eksplisit bertujuan untuk memfasilitasi dimensi-dimensi PTG pada kelompok rentan ini, membantu mereka membangun ketahanan dan menemukan makna positif dari pengalaman sulit.

  1. Jurnal Analitika. traumatic growth early adults divorced families analitika jurnal magister psikologi... doi.org/10.31289/analitika.v16i1.11465Jurnal Analitika traumatic growth early adults divorced families analitika jurnal magister psikologi doi 10 31289 analitika v16i1 11465
Read online
File size263.19 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test