STTMIGASSTTMIGAS

PETROGAS: Journal of Energy and TechnologyPETROGAS: Journal of Energy and Technology

Penelitian ini merupakan survei awal untuk mengidentifikasi potensi panas bumi temperatur rendah–sedang pada Cekungan Kutai. Observasi dilakukan pada tiga titik mata air panas di Samboja dan dua titik di Dondang. Hasil analisis geokimia menunjukkan bahwa air panas di Samboja memiliki pH antara 6,5–7,6 (netral–sedikit basa) dengan nilai konduktivitas listrik (EC) berkisar 1005–1184 µS/cm. Sementara itu, mata air panas di Dondang memperlihatkan pH relatif netral (7,0–7,5) dengan EC tinggi, yaitu 1120–1295 µS/cm. Karakteristik ini mengindikasikan bahwa sistem panas bumi di kedua lokasi dikontrol oleh interaksi air meteorik dengan batuan sedimen Formasi Balikpapan dan Formasi Kampungbaru yang tersingkap luas di wilayah Samboja–Dondang. Nilai EC yang sedang hingga relatif tinggi mengindikasikan adanya proses pelarutan mineral silikat dan karbonat, serta potensi kontribusi fluida dari rekahan sesar aktif yang berperan sebagai jalur migrasi fluida panas bumi. Secara geologi, keberadaan mata air panas pada jalur struktur sesar Kutai dan litologi sedimen menunjukkan bahwa daerah Samboja dan Dondang berpotensi sebagai sistem panas bumi bertemperatur rendah–sedang yang berasosiasi dengan sistem hidrotermal dangkal.

Manifestasi panas bumi di Samboja dan Dondang muncul sebagai mata air panas dengan variasi geokimia, di mana Samboja cenderung sedikit asam hingga netral (pH 6,5–7,6.EC 1005–1184 µS/cm), sedangkan Dondang relatif netral dengan konduktivitas lebih tinggi (pH 7–7,5.Perbedaan nilai pH dan EC mencerminkan perbedaan litologi reservoir, dengan fluida di Samboja lebih dipengaruhi sedimen kaya batubara dan serpih Formasi Balikpapan, sedangkan di Dondang lebih didominasi jalur migrasi melalui batupasir permeabel Formasi Kampungbaru.Struktur geologi, khususnya Sesar Kutai dan rekahan sekunder, berperan sebagai jalur utama migrasi fluida hidrotermal, menegaskan potensi sistem panas bumi non-vulkanik di wilayah ini.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa arah penelitian lanjutan dapat diusulkan untuk memperdalam pemahaman mengenai potensi panas bumi di Cekungan Kutai. Pertama, perlu dilakukan studi geofisika yang lebih detail, seperti survei resistivitas dan magnetotelurik, untuk memetakan struktur bawah permukaan dan mengidentifikasi zona reservoir potensial. Kedua, penelitian hidrogeokimia yang lebih komprehensif, termasuk analisis isotop stabil, dapat membantu melacak sumber fluida panas bumi dan memahami proses interaksi fluida-batuan secara lebih rinci. Ketiga, studi pemodelan numerik sistem panas bumi dapat dilakukan untuk mensimulasikan aliran fluida dan memprediksi distribusi temperatur di bawah permukaan, sehingga dapat mengoptimalkan strategi eksplorasi dan pemanfaatan energi panas bumi. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih akurat dan komprehensif mengenai potensi panas bumi di Cekungan Kutai, serta mendukung pengembangan energi terbarukan yang berkelanjutan di wilayah tersebut.

  1. Karakterisasi Sistem Panas Bumi Non-Vulkanik pada Manifestasi Air Panas Biatan Bapinang: Studi Pendahuluan... doi.org/10.56099/ophi.v6i2.p80-91Karakterisasi Sistem Panas Bumi Non Vulkanik pada Manifestasi Air Panas Biatan Bapinang Studi Pendahuluan doi 10 56099 ophi v6i2 p80 91
Read online
File size496.5 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test