STIAMISTIAMI

Destinesia : Jurnal Hospitaliti dan PariwisataDestinesia : Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata

Suku Batak, yang terbagi menjadi beberapa sub‑suku, merupakan mayoritas penduduk yang bermukim di Provinsi Sumatra Utara, termasuk Suku Karo yang sebagian besar tinggal di Tanah Tinggi Karo. Masyarakat Batak masih melaksanakan tradisi budaya leluhur mereka. Dalam upacara adat Suku Karo, makanan menjadi unsur penting dan terdapat makanan yang hanya dapat dinikmati pada upacara tersebut. Kuliner khas Karo memiliki keunikan dalam pemilihan bahan, bahkan dapat dikategorikan sebagai ekstrim. Salah satunya adalah terites, yaitu rumput yang berada di dalam lambung sapi. Terites telah memenuhi kriteria sebagai daya tarik wisata kuliner, namun rasanya tergolong aneh. Permasalahan tersebut menjadi fokus penelitian ini. Tujuan penelitian adalah mengetahui apakah terites sebagai kuliner ekstrim dapat diterima oleh selera masyarakat non‑Karo. Penulisan ilmiah ini menggunakan metode tinjauan jurnal, yaitu dengan menelaah beberapa jurnal, skripsi, dan uji hedonik sebelumnya. Untuk mengukur tingkat preferensi masyarakat non‑Karo terhadap terites, dilakukan uji hedonik terhadap empat panelis terlatih yang berdomisili di Jakarta. Hasil uji hedonik menunjukkan rasa, penampilan, dan tekstur dapat diterima, sedangkan aroma yang terlalu tajam tidak dapat diterima.

Berdasarkan hasil uji hedonik pada terites yang dilakukan oleh empat panelis terlatih, terites atau Sup Hijau kuliner khas suku Karo dapat diterima.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi persepsi konsumen umum terhadap terites dengan menggunakan sampel yang lebih besar dan beragam, meliputi berbagai wilayah geografis di Indonesia, sehingga dapat menilai tingkat penerimaan rasa, aroma, dan penampilan secara lebih representatif. Selanjutnya, diperlukan pengembangan formulasi terites melalui modifikasi bumbu atau teknik pengolahan yang dapat mengurangi intensitas aroma kuat sekaligus meningkatkan citarasa, dengan mendukung analisis kimia aroma untuk mengidentifikasi senyawa yang berperan. Selain itu, studi pemasaran yang menilai strategi promosi terites sebagai destinasi wisata kuliner, termasuk evaluasi efektivitas media sosial, program edukasi budaya, dan kolaborasi dengan agen perjalanan, dapat memberikan wawasan tentang cara meningkatkan minat wisatawan non‑Karo. Metode kuantitatif dengan skala hedonic dan kuesioner psikografis dapat dipadukan dengan wawancara mendalam untuk memahami motivasi dan hambatan konsumen dalam mencoba terites. Analisis biaya manfaat dari produksi massal terites serta dampaknya terhadap mata pencaharian petani rumen dapat menjadi fokus studi ekonomi yang mendukung keberlanjutan usaha kuliner ini. Penelitian-penelitian tersebut diharapkan dapat memperluas pengetahuan tentang keberlanjutan kuliner ekstrim Karo serta kontribusinya terhadap pengembangan pariwisata kuliner regional.

Read online
File size301.96 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test