UNIPASUNIPAS

LocusLocus

Untuk suksesnya program Keluarga Berencana, maka partisipasi istri dan suami sebagai Pasangan Usia Subur (PUS) sangat diperlukan. Ber-KB bukan hanya untuk wanita/istri, tetapi juga untuk pria/suami. Dengan demikian tujuan dari program KB yakni mencapai keluarga yang harmonis, bahagia dan sejahtera bisa terwujud. Dalam penelitian ini, beberapa pokok permasalahan dapat dirumuskan yaitu : 1) bagaimanakah partisipasi PUS dalam program KB di Desa Lokapaksa Kecamatan Seririt Kabupaten Buleleng ?; 2) apakah faktor penghambat partisipasi PUS dalam program KB di Desa Lokapaksa Kecamatan Seririt Kabupaten Buleleng ?; dan 3) apakah solusi dari hambatan-hambatan partisipasi PUS dalam program KB di Desa Lokapaksa Kecamatan Seririt Kabupaten Buleleng ? Untuk menjawab permasalahan tersebut, penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan maksud memperoleh gambaran yang jelas tentang partisipasi PUS dalam program KB di Desa Lokapaksa Kecamatan Seririt Kabupaten Buleleng. Pengambilan informan menggunakan teknik purposive sampling. Sedangkan pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi, wawancara dan pemanfaatan dokumen. Analisis data dilakukan secara sirkuler dimana analisis dilakukan sepanjang proses penelitian,dengan tahapan ; pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta simpulan dan verifikasi. Dari hasil penelitian ditemukan fakta partisipasi PUS dalam program KB di Desa Lokapaksa dalam bentuk voice, access, control, dan partisipasi dalam menerima dan memberi informasi tantang KB. Faktor-faktor penghambat partisipasi PUS dalam program KB di Desa Lokapaksa terdiri dari faktor struktural dan faktor kultural. Solusi dalam menghilangkan faktor penghambat partisipasi PUS dalam program KB di Desa Lokapaksa adalah dengan memberikan informasi dan pengetahuan yang benar dan tepat tentang program KB melalui KIE. Juga dengan memberikan pemahaman dan sosialisasi secara terus menerus kepada masyarakat PUS tentang pentingnya ikut program KB.

Partisipasi PUS dalam Program KB di Desa Lokapaksa dilaksanakan dengan.voice, yaitu hak dan tindakan masyarakat PUS dalam menyampaikan aspirasi, gagasan, kebutuhan, kepentingan dan tuntutan atas kebijakan pemerintah, access, yaitu terlibat aktif dalam memanfaatkan keberadaan posyandu, control, yaitu ikut mengawasi pelaksanan program KB termasuk mengawasi hasil dari program KB supaya pelaksana program KB bertindak secara transparan, akuntabel dan responsif.Juga dengan berpartisipasi dalam menerima dan memberi informasi.Faktor penghambat partisipasi PUS dalam program KB di Desa Lokapaksa adalah faktor struktural berupa adanya himbauan Gubernur Bali tentang KB Bali dan kurangnya informasi dan pengetahuan yang didapat PUS tentang program KB khususnya yang berkaitan dengan vasektomi.Sedangkan hambatan kulturalnya adalah masih lekatnya budaya dan tradisi masyarakat Hindu Bali yang menjadikan anak laki-laki sebagai penerus garis keturunan keluarga, dimana PUS belum berhenti punya anak jika belum ada anak laki-laki.Solusi untuk menghilangkan faktor penghambat secara struktural adalah dengan menyadarkan masyarakat PUS bahwa apa yang disampaikan oleh Gubernur Bali itu hanya sebatas himbauan bukan peraturan dan masyarakat PUS tidak harus mengikutinya.Juga dengan lebih menggencarkan lagi penggunaan media yang ada untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang tepat dan benar terkait program vasektomi.Sedangkan solusi secara kultural adalah dengan tidak henti-hentinya memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada masyarakat PUS bahwa budaya yang mengharuskan ada anak laki-laki dalam suatu keluarga itu sudah tidak relevan lagi dijaman yang serba modern seperti sekarang ini.Kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan saat ini sudah setara.

Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan mengevaluasi dampak jangka panjang dari program KB terhadap kesejahteraan ekonomi keluarga di Desa Lokapaksa. Peneliti juga bisa mengeksplorasi peran media sosial dalam meningkatkan partisipasi PUS melalui kampanye edukasi KB yang lebih kreatif dan interaktif. Selain itu, penting untuk mempelajari perbedaan persepsi antara generasi muda dan tua terhadap konsep keluarga kecil berkualitas, terutama dalam konteks budaya Bali yang masih menghargai keturunan laki-laki. Penelitian ini juga bisa mengkaji efektivitas pendekatan berbasis komunitas dalam mengatasi hambatan struktural dan kultural. Terakhir, studi lanjutan dapat fokus pada pengembangan model KB yang lebih inklusif, termasuk pilihan kontrasepsi alternatif yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai lokal masyarakat Bali.

Read online
File size277.9 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test