UNIVERSITAS BTHUNIVERSITAS BTH

Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan FarmasiJurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan yang banyak terjadi di Indonesia, termasuk di lingkungan sekolah. Salah satu penyebabnya adalah keberadaan jentik nyamuk Aedes sp yang berkembang di tempat penampungan air (TPA) di lingkungan sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan jentik nyamuk, menghitung tingkat kepadatannya melalui HI, CI, BI, dan DF, serta mengetahui nilai Angka Bebas Jentik (ABJ) di sekolah dasar negeri wilayah Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif metode visual di 17 sekolah dasar. Hasil menunjukkan bahwa 15 sekolah (88,24%) ditemukan positif jentik dan 2 sekolah (11,76%) negatif. Dari total 341 TPA yang diperiksa, sebanyak 37 TPA dinyatakan positif. Nilai HI sebesar 88,23%, CI 10,85%, BI 217,64%, ABJ 11,76%, dan DF sebesar 7,3 maka keberadaan jentik nyamuk menunjukkan tingkat kepadatan tinggi. Jenis jentik yang ditemukan meliputi Aedes aegypti sebanyak 287 ekor (81,30%), Aedes albopictus sebanyak 46 ekor (13,03%), dan Culex sp sebanyak 20 ekor (5,66%). TPA yang paling banyak ditemukan dalam kondisi positif yaitu ember WC dan dispenser.

Penelitian pada 17 SD Negeri di Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya menunjukkan 15 sekolah (88,24%) positif jentik Aedes sp, dengan 37 dari 341 TPA terdeteksi positif.Indeks kepadatan (HI 88,23%, CI 10,85%, BI 217,64%, ABJ 11,76%) dan DF 7,3 mengindikasikan tingkat kepadatan larva yang tinggi.Tiga spesies larva (Aedes aegypti 81,30%, Aedes albopictus 13,03%, Culex sp 5,66%) ditemukan, dengan ember WC dan dispenser sebagai kontainer paling sering positif.

Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi efektivitas penggunaan agen biokontrol, seperti bakteri Bacillus thuringiensis israelensis, pada kontainer air sekolah untuk menurunkan kepadatan larva Aedes sp secara berkelanjutan; selanjutnya, studi longitudinal yang melibatkan intervensi edukasi berbasis kurikulum 3M pada siswa dan guru dapat dianalisis dampaknya terhadap perubahan indeks kepadatan (HI, CI, BI, DF) selama minimal tiga tahun akademik, sehingga memberikan bukti empiris mengenai keberlanjutan program pendidikan vektor; terakhir, pendekatan geografis dengan pemetaan GIS terintegrasi pada semua jenjang pendidikan (SD, SMP, SMA) serta analisis faktor mikrohabitat (suhu, pH, cahaya) dapat menghasilkan model prediktif untuk mengidentifikasi titik rawan penampungan larva, membantu kebijakan penempatan sumber daya intervensi secara tepat sasaran.

  1. Pemberdayaan Siswa sebagai Kader Simantik (Siswa Pemantau Jentik) dalam Upaya Sekolah Bebas Nyamuk |... Doi.Org/10.70109/Jupenkes.V1i1.7Pemberdayaan Siswa sebagai Kader Simantik Siswa Pemantau Jentik dalam Upaya Sekolah Bebas Nyamuk Doi Org 10 70109 Jupenkes V1i1 7
  2. Pelatihan Pembarantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus pada Siswa SDN 159 Tekolabbua, Desa Bori Masunggu,... Doi.Org/10.54883/Eeehd273Pelatihan Pembarantasan Sarang Nyamuk PSN 3M Plus pada Siswa SDN 159 Tekolabbua Desa Bori Masunggu Doi Org 10 54883 Eeehd273
  3. Gambaran Tingkat Kepadatan Jentik Nyamuk Aedes Aegypti di Kelurahan Kenali Asam Bawah Kota Jambi. | Jurnal... online-journal.unja.ac.id/jkmj/article/view/10571Gambaran Tingkat Kepadatan Jentik Nyamuk Aedes Aegypti di Kelurahan Kenali Asam Bawah Kota Jambi Jurnal online journal unja ac jkmj article view 10571
Read online
File size635.97 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test