UM SURABAYAUM SURABAYA
Qanun Medika - Medical Journal Faculty of Medicine Muhammadiyah SurabayaQanun Medika - Medical Journal Faculty of Medicine Muhammadiyah SurabayaBells palsy adalah kelemahan atau kelumpuhan saraf perifer wajah (nervus fasialis) secara akut pada sisi sebelah wajah. Kondisi ini menyebabkan ketidakmampuan penderita menggerakkan separuh wajahnya secara sadar (volunter) pada sisi yang sakit. Insiden Bells Palsy adalah sebesar 20-30 kasus dari 100.000 orang, dan merupakan 60 – 70% dari seluruh kasus kelumpuhan perifer wajah unilateral. Penyakit ini bersifat sembuh sendiri (self-limited), tetapi menimbulkan penderitaan yang besar bagi pasien jika tidak ditangani dengan sempurna. Kontroversi dalam tatalaksana masih diperdebatkan, dan penyebabnya pun masih tidak diketahui dengan pasti. Hipotesis penyebabnya antara lain iskemik, vaskular, virus, bakteri, herediter, dan imunologi. Terapi yang dilakukan selama ini adalah untuk meningkatkan fungsi saraf wajah dan proses penyembuhan. Manajemen terapi yang digunakan akan sangat terkait dengan struktur anatomi dan fungsi serta kelainan yang berhubungan dengannya. Modalitas terapi Bells palsy yaitu dengan kortikosteroid dan antiviral, latihan fasial, elektrostimulasi, fisioterapi dan operasi dekompresi. Sekitar 80-90% pasien dengan Bells palsy sembuh total dalam 6 bulan, bahkan pada 50-60% kasus membaik dalam 3 minggu. Sekitar 10% mengalami asimetri muskulus fasialis persisten, dan 5% mengalami sekuele yang berat, serta 8% kasus dapat rekuren.
Bells palsy merupakan kelemahan atau kelumpuhan akut saraf perifer wajah yang bersifat sembuh sendiri, meskipun etiologinya masih belum diketahui pasti dan tatalaksananya masih diperdebatkan.Hipotesis penyebabnya meliputi faktor iskemik, vaskular, virus, bakteri, herediter, dan imunologi, dengan tujuan terapi untuk meningkatkan fungsi dan proses penyembuhan saraf.Modalitas pengobatan utama meliputi kortikosteroid, antiviral, latihan fasial, elektrostimulasi, fisioterapi, dan operasi dekompresi, dengan sebagian besar pasien (80-90%) menunjukkan pemulihan total dalam enam bulan.
Mengingat bahwa penyebab pasti Bells palsy hingga kini masih belum diketahui secara definitif dan tatalaksananya pun sering kali menimbulkan kontroversi, sebuah arah penelitian di masa depan dapat berfokus pada eksplorasi mendalam mekanisme patofisiologi penyakit ini. Hal ini bisa dilakukan melalui studi molekuler dan genetik yang canggih untuk mengidentifikasi biomarker spesifik yang muncul pada tahap awal penyakit, yang memungkinkan deteksi dini dan intervensi yang lebih bertarget, tidak hanya mendasarkan diagnosis pada kriteria eksklusi. Selanjutnya, dengan beragamnya modalitas terapi yang disebutkan namun masih diperdebatkan efektivitasnya, penelitian komparatif berbasis bukti sangat diperlukan. Studi ini dapat membandingkan efikasi kombinasi dosis dan waktu pemberian kortikosteroid serta antiviral, termasuk efektivitas jenis-jenis latihan fasial dan elektrostimulasi yang berbeda, pada kelompok pasien dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Tujuannya adalah untuk mengembangkan protokol penanganan yang lebih optimal dan personalisasi bagi pasien. Terakhir, karena penyakit ini dapat menimbulkan sekuele berat dan rekurensi, penelitian lanjutan juga perlu meninjau secara komprehensif dampak jangka panjang Bells palsy terhadap kualitas hidup penderita, termasuk aspek psikologis dan sosial. Ini bisa mencakup pengembangan program rehabilitasi holistik dan strategi dukungan yang lebih baik untuk pasien yang mengalami asimetri muskulus fasialis persisten atau komplikasi lainnya, guna memastikan pemulihan yang tidak hanya fungsional tetapi juga memulihkan kepercayaan diri dan kesejahteraan pasien secara keseluruhan.
| File size | 451.7 KB |
| Pages | 11 |
| DMCA | Report |
Related /
UM SURABAYAUM SURABAYA Analisis data menggunakan Kruskal‑Wallis dilanjutkan dengan uji Post‑Hoc Bonferroni, yang menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p > 0,05)Analisis data menggunakan Kruskal‑Wallis dilanjutkan dengan uji Post‑Hoc Bonferroni, yang menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p > 0,05)
LAMINTANGLAMINTANG Hasil menunjukkan bahwa ClueAI yang telah disesuaikan dengan domain medis menghasilkan nilai perplexity lebih rendah daripada baseline multilingual BERT,Hasil menunjukkan bahwa ClueAI yang telah disesuaikan dengan domain medis menghasilkan nilai perplexity lebih rendah daripada baseline multilingual BERT,
JURNALSTIKESTULUNGAGUNGJURNALSTIKESTULUNGAGUNG Penelitian ini bertujuan untuk kelayakan dan efek dari program perawatan transisi terhadap kualitas hidup pada pasien dengan gagal jantung. Metode penelitianPenelitian ini bertujuan untuk kelayakan dan efek dari program perawatan transisi terhadap kualitas hidup pada pasien dengan gagal jantung. Metode penelitian
DINASTIRESDINASTIRES Of course, there must be awareness from villagers to make land ownership rights or land certificates so that conflicts that are detrimental to the communityOf course, there must be awareness from villagers to make land ownership rights or land certificates so that conflicts that are detrimental to the community
BALIMEDICALJOURNALBALIMEDICALJOURNAL Semua studi dinilai dengan skala Newcastle‑Ottawa dan disintesis secara kuantitatif menggunakan Review Manager 5. 3. Hasil: Dari 185 studi pada pencarianSemua studi dinilai dengan skala Newcastle‑Ottawa dan disintesis secara kuantitatif menggunakan Review Manager 5. 3. Hasil: Dari 185 studi pada pencarian
JOURNAL JPSJOURNAL JPS Penderita asma sering mengalami penurunan kondisi akibat gejala yang datang secara tiba-tiba. Kondisi komorbiditas seperti depresi dan kecemasan, perubahanPenderita asma sering mengalami penurunan kondisi akibat gejala yang datang secara tiba-tiba. Kondisi komorbiditas seperti depresi dan kecemasan, perubahan
UNSIKAUNSIKA Berdasarkan evaluasi, seluruh peserta pelatihan mampu menggambar teknik dengan aplikasi SOLIDWORKS dengan baik, menunjukkan peningkatan keterampilan yangBerdasarkan evaluasi, seluruh peserta pelatihan mampu menggambar teknik dengan aplikasi SOLIDWORKS dengan baik, menunjukkan peningkatan keterampilan yang
UNSIKAUNSIKA Perbaikan terhadap resiko ergonomi tersebut dilakukan dengan cara mengembangkan 4 Ball valve yang memilik sistem katup otomatis yang disebut dengan MotorPerbaikan terhadap resiko ergonomi tersebut dilakukan dengan cara mengembangkan 4 Ball valve yang memilik sistem katup otomatis yang disebut dengan Motor
Useful /
JOURNAL JPSJOURNAL JPS Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak, terutama di bawah usia lima tahun. Faktor-faktor yang memengaruhi kejadian pneumonia meliputiPneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak, terutama di bawah usia lima tahun. Faktor-faktor yang memengaruhi kejadian pneumonia meliputi
JOURNAL JPSJOURNAL JPS 37 to 170.11), dengan signifikansi statistik (p 0,00001). Kesimpulan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi stunting di Indonesia lebih banyak dipengaruhi37 to 170.11), dengan signifikansi statistik (p 0,00001). Kesimpulan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi stunting di Indonesia lebih banyak dipengaruhi
MMTCMMTC dirumahaja Solidaritas Lawan Corona berhasil menjadi pionir aksi solidaritas sosial berbasis live streaming karena penggunaan akun terverifikasi, platformdirumahaja Solidaritas Lawan Corona berhasil menjadi pionir aksi solidaritas sosial berbasis live streaming karena penggunaan akun terverifikasi, platform
UM SURABAYAUM SURABAYA The Global Burden Disease /GBD menjadi suatu standar dari WHO sejak tahun 1990 untuk melaporkan informasi kesehatan global yang terkait dengan penyakit-penyakitThe Global Burden Disease /GBD menjadi suatu standar dari WHO sejak tahun 1990 untuk melaporkan informasi kesehatan global yang terkait dengan penyakit-penyakit