UNIVET BANTARAUNIVET BANTARA

Keraton: Journal of History Education and CultureKeraton: Journal of History Education and Culture

Penelitian ini mengkaji peran dan dinamika politik Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) selama transisi kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru di Indonesia. Fokus utamanya adalah menganalisis bagaimana DPR-GR, sebagai badan legislatif yang direkayasa oleh rezim Orde Lama, mengalami transformasi fungsi dan posisi di tengah pergeseran struktur kekuasaan setelah Gerakan 30 September (G30S/PKI). Dengan menggunakan pendekatan historis-politik dan analisis dokumen primer, penelitian ini mengungkap bagaimana DPR-GR dimanfaatkan sebagai alat untuk melegitimasi kenaikan kekuasaan Soeharto dan mengikis otoritas Presiden Soekarno. Temuan menunjukkan bahwa DPR-GR bukan hanya pengamat pasif, melainkan agen aktif dalam konsolidasi kekuasaan militer dan pembentukan rezim Orde Baru. Studi ini menekankan bahwa transisi politik selama periode ini tidak semata-mata bersifat militeristik, tetapi juga melibatkan manipulasi strategis institusi politik formal untuk melegitimasi rezim baru.

DPR-GR memainkan peran penting namun ambigu dalam transisi kekuasaan 1965–1971, menunjukkan akomodasi terhadap Soeharto sekaligus resistensi terbatas.Transisi ini tidak hanya didorong oleh aktor dominan seperti militer atau Soeharto, tetapi juga melibatkan lembaga negara yang mereproduksi legitimasi melalui tindakan simbolis dan administratif.Studi ini menekankan pentingnya meninjau sejarah politik Indonesia secara lebih mendalam, termasuk peran lembaga-lembaga yang sering diabaikan, namun krusial dalam transformasi negara.

Penelitian ini telah membuka pemahaman tentang peran kompleks DPR-GR dalam masa transisi kekuasaan. Untuk penelitian di masa depan, akan sangat menarik jika kita bisa menyelami lebih dalam dinamika mikro di dalam tubuh DPR-GR. Kita bisa meneliti secara spesifik bagaimana para anggota dewan, terutama dari faksi-faksi politik yang berbeda seperti NU, PNI, atau bahkan mereka yang terpengaruh PKI, menyikapi perubahan kekuasaan yang drastis. Apa saja strategi adaptasi atau perlawanan diam yang mereka gunakan untuk menjaga posisi atau menyuarakan kepentingan di tengah tekanan militer yang begitu kuat? Selain itu, penting juga untuk tidak hanya terpaku pada DPR-GR. Kita bisa mengembangkan studi ini dengan melihat bagaimana lembaga-lembaga negara lain, yang juga penting namun sering luput dari perhatian, turut menjadi alat legitimasi bagi Orde Baru. Bagaimana manipulasi terhadap institusi-institusi ini secara sistematis mengubah wajah birokrasi dan politik kita? Terakhir, penelitian lanjutan dapat menyoroti dampak jangka panjang dari demokrasi semu dan iklim ketakutan yang terbentuk pada era tersebut. Bagaimana warisan dari periode ini masih memengaruhi partisipasi masyarakat dalam politik dan menghambat perkembangan demokrasi yang seutuhnya hingga saat ini? Pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu kita memahami lebih utuh arsitektur kekuasaan dan dampaknya pada masyarakat Indonesia.

Read online
File size395.53 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test