UNESAUNESA

Jurnal Dialektika Pendidikan IPSJurnal Dialektika Pendidikan IPS

Isu lingkungan, khususnya pengelolaan sampah, perlu dikenalkan kepada siswa sejak dini guna membentuk kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), isu ini dapat dijadikan bahan ajar yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo di Surabaya sebagai sumber belajar IPS di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian dilakukan di TPA Benowo dan SMP Bina Putra Surabaya dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Informan terdiri dari manajer operasional TPA Benowo, guru IPS, dan peserta didik. Teknik pengumpulan data mencakup observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi video. Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TPA Benowo memiliki potensi edukatif yang signifikan, terutama dalam pengenalan pengelolaan sampah modern, kerja sama antarlembaga, dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Respon guru dan siswa menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan di luar kelas memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan bermakna. Namun, terdapat kendala seperti akses yang terbatas serta belum optimalnya kolaborasi antara sekolah dan pengelola TPA. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi penguatan kerja sama dan pengembangan materi ajar berbasis lingkungan untuk memaksimalkan peran TPA Benowo sebagai sumber belajar IPS secara berkelanjutan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa TPA Benowo memiliki potensi besar sebagai sumber belajar IPS yang mencakup keempat aspek utama, yaitu geografi, ekonomi, sosiologi, dan sejarah.Pengelolaan sampah dengan sistem Waste to Energy relevan untuk mengajarkan konsep interaksi manusia dengan lingkungan (geografi), sementara proses daur ulang dan pemanfaatan limbah mencerminkan prinsip ekonomi sirkular (ekonomi).Keterlibatan masyarakat dan kerja sama antar lembaga menunjukkan adanya partisipasi sosial dalam isu lingkungan (sosiologi), dan transformasi kebijakan pengelolaan sampah dari waktu ke waktu menjadi bukti perubahan historis yang signifikan (sejarah).Keempat aspek tersebut selaras dengan capaian pembelajaran Kurikulum Merdeka Fase D dan dapat diintegrasikan melalui berbagai aktivitas pembelajaran kontekstual, seperti observasi, proyek lingkungan, simulasi sosial, hingga kajian sejarah lokal.Terdapat sejumlah kelebihan yang mendukung TPA Benowo sebagai sumber belajar, seperti kesiapan fasilitas, keterbukaan pihak pengelola terhadap kegiatan edukatif, serta minat guru dan siswa yang tinggi terhadap pembelajaran berbasis lingkungan.Guru merasa bahwa kegiatan belajar di lapangan mampu meningkatkan partisipasi dan keaktifan siswa, sementara siswa merasa mendapatkan pengalaman yang berbeda dan lebih menyenangkan dibandingkan pembelajaran konvensional di dalam kelas.Terlepas dari kelebihan yang dimiliki, implementasi TPA Benowo sebagai sumber belajar IPS juga menghadapi beberapa kendala yang perlu diperhatikan, seperti keterbatasan waktu dan teknis kunjungan yang perlu dijadwalkan secara khusus, belum tersedianya modul atau panduan belajar yang bisa digunakan selama kunjungan, serta perlunya kesiapan sekolah dalam merancang pembelajaran lapangan yang terintegrasi dengan kurikulum.Hal ini menunjukkan bahwa meskipun potensinya besar, optimalisasi TPA Benowo sebagai sumber belajar tetap memerlukan perencanaan yang matang dan kolaborasi antara berbagai pihak.Dibutuhkan strategi yang efektif dan berkelanjutan agar pemanfaatan TPA Benowo sebagai sumber belajar dapat berjalan dengan optimal.Strategi tersebut antara lain berupa pengembangan kerja sama antara sekolah dengan pengelola TPA, penyusunan modul pembelajaran yang relevan dengan kondisi lapangan, serta penerapan model pembelajaran berbasis proyek agar siswa tidak hanya menjadi pengamat pasif, tetapi juga mampu mengolah informasi menjadi pemahaman yang kritis dan reflektif.Melalui pendekatan ini, TPA Benowo tidak hanya menjadi tempat observasi semata, tetapi benar-benar menjadi ruang belajar yang mengintegrasikan antara teori dan praktik.Secara keseluruhan, penelitian ini memperlihatkan bahwa TPA Benowo memiliki potensi yang signifikan sebagai sumber belajar luar sekolah dalam pembelajaran IPS, terutama dalam membentuk karakter siswa yang peduli lingkungan dan memahami dinamika sosial yang terjadi di sekitarnya.

Untuk memaksimalkan potensi TPA Benowo sebagai sumber belajar IPS, diperlukan strategi kolaborasi yang kuat antara sekolah dan pengelola TPA. Pengembangan modul pembelajaran yang terintegrasi dengan kurikulum dan berbasis proyek dapat menjadi solusi untuk meningkatkan keterlibatan aktif siswa dalam memahami konsep-konsep IPS. Selain itu, pemanfaatan media visual seperti dokumentasi video dapat menjadi alternatif pembelajaran yang menarik dan kontekstual, terutama bagi sekolah yang belum memungkinkan untuk melakukan kunjungan langsung. Dengan demikian, TPA Benowo dapat menjadi ruang belajar yang mengintegrasikan teori dan praktik, serta mendorong pembentukan karakter siswa yang peduli lingkungan dan mampu berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah sosial di sekitarnya.

Read online
File size398.45 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test