ISEIISEI

One moment, please...One moment, please...

Penelitian ini mengukur Keamanan Produksi Pangan (KPP) pada tingkat desa di DI Yogyakarta dengan menggunakan empat dimensi: kuantitas, kualitas, struktur, dan kelestarian ekologi. Analisis dilakukan untuk memahami peran sumber daya, teknologi, dan kapasitas institusional dalam mendukung produksi pangan. Secara umum, KPP memiliki korelasi positif dengan Indeks Keamanan Pangan (IKP), tetapi ketidakselarasan menunjukkan dua aspek keamanan pangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Entropy-Weighted TOPSIS, yang didukung oleh model GeoAI dan Mixed Geographically Weighted Regression (MGWR) untuk menilai heterogenitas spasial dalam Keamanan Produksi Pangan (KPP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor KPP yang lebih tinggi di daerah perkotaan mencerminkan disparitas struktural dalam input produksi dan akses infrastruktur. Analisis spasial menekankan efek heterogen dan dua arah dari modal, teknologi, iklim, dan faktor pengelolaan lingkungan, yang menekankan kebutuhan akan kebijakan berbasis spasial. Strategi kolaboratif yang menggabungkan teknologi pertanian modern, layanan perpanjangan yang ditargetkan, penggunaan optimal pupuk organik, dan daur ulang limbah menunjukkan potensi untuk peningkatan berkelanjutan KPP pada tingkat desa dan kecamatan. Penelitian ini juga menemukan bahwa akses terhadap input produksi, termasuk dukungan untuk peralatan, benih, dan keselarasan dengan potensi lokal, serta bantuan teknis, adalah faktor-faktor paling menentukan dalam menentukan keamanan produksi pangan antar daerah di DI Yogyakarta.

Penelitian ini mengukur Keamanan Produksi Pangan (KPP) pada tingkat desa di DI Yogyakarta, menawarkan wawasan tambahan tentang pendekatan evaluasi yang lebih akurat untuk menjamin produksi pangan yang berkelanjutan, serta metode untuk mendiagnosis ketimpangan dalam akses produksi antara daerah pedesaan dan perkotaan.Pertama, kuantitas dan kualitas input produksi seperti dukungan untuk peralatan produksi, akses ke fasilitas pasokan makanan, ketersediaan benih, keselarasan dengan potensi lokal, dan bantuan teknis tetap menjadi faktor paling menentukan dalam menentukan keamanan produksi pangan antardaerah.Indeks Keamanan Produksi Pangan (KPP) di daerah perkotaan secara konsisten lebih tinggi daripada di daerah pedesaan, terutama karena perbedaan dalam akses ke input produksi dan fasilitas pendukung.Faktor-faktor seperti layanan perpanjangan pertanian, adopsi teknologi modern, dan program pupuk dan daur ulang organik berkontribusi positif terhadap indeks KPP.Pada saat yang sama, curah hujan tinggi dan keberadaan fasilitas pengelolaan limbah menunjukkan efek negatif di beberapa lokasi.Selain itu, pengaruh faktor-faktor ini bervariasi secara lokal, terutama di Sleman, Kulon Progo, Bantul, dan Gunung Kidul, yang menekankan kebutuhan akan pendekatan yang spesifik konteks untuk memperkuat KPP.Temuan ini memperkuat bahwa variasi dalam kapasitas input, kualitas infrastruktur, dan kondisi ekologis antardaerah secara kuat membentuk keamanan produksi pangan pada tingkat desa.Oleh karena itu, penelitian ini memberikan dasar empiris yang kuat untuk desain kebijakan produksi pangan yang lebih adaptif.Ini dapat berfungsi sebagai referensi untuk daerah lain yang menghadapi tantangan serupa dalam meningkatkan kapasitas produksinya.

Berdasarkan temuan dan analisis dalam penelitian ini, berikut adalah beberapa saran untuk penelitian lanjutan: Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi dinamika keamanan produksi pangan pada tingkat rumah tangga, yang akan memungkinkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang praktik keamanan produksi pangan yang sebenarnya dan memungkinkan penjelajahan yang lebih mendalam tentang dinamika KPP di seluruh wilayah penelitian. Kedua, penelitian yang berfokus pada analisis spasial yang lebih mendalam dapat memberikan wawasan berharga tentang variasi lokal dalam faktor-faktor yang mempengaruhi KPP. Dengan menggunakan pendekatan geospasial yang lebih canggih, seperti yang digunakan dalam penelitian ini, penelitian lanjutan dapat mengidentifikasi pola dan tren spasial yang lebih spesifik, yang pada gilirannya dapat membantu dalam merancang intervensi kebijakan yang lebih terarah dan efektif. Ketiga, penelitian lanjutan dapat berfokus pada evaluasi dampak strategi kolaboratif yang menggabungkan teknologi pertanian modern, layanan perpanjangan yang ditargetkan, dan penggunaan optimal pupuk organik dan daur ulang limbah. Dengan menganalisis efektivitas dan dampak intervensi ini, penelitian dapat memberikan rekomendasi yang lebih kuat untuk meningkatkan KPP secara berkelanjutan pada tingkat desa dan kecamatan. Secara keseluruhan, penelitian lanjutan yang diusulkan ini akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman yang lebih baik tentang keamanan produksi pangan dan membantu dalam merancang kebijakan yang lebih efektif untuk menjamin ketersediaan pangan yang berkelanjutan di daerah dengan sumber daya terbatas dan tekanan ekologis.

  1. The Study of Food Security in the Special Region of Yogyakarta, Indonesia | Harini | Forum Geografi.... journals.ums.ac.id/index.php/fg/article/view/15855The Study of Food Security in the Special Region of Yogyakarta Indonesia Harini Forum Geografi journals ums ac index php fg article view 15855
  2. The State of Food Security and Nutrition in the World 2022. state food security nutrition world repurposing... openknowledge.fao.org/handle/20.500.14283/cc0639enThe State of Food Security and Nutrition in the World 2022 state food security nutrition world repurposing openknowledge fao handle 20 500 14283 cc0639en
  3. Study on the Impact of Social Capital on Farmers’ Decision-Making Behavior of Adopting Trusteeship... doi.org/10.3390/su15065343Study on the Impact of Social Capital on FarmersAo Decision Making Behavior of Adopting Trusteeship doi 10 3390 su15065343
Read online
File size1.82 MB
Pages29
DMCAReport

Related /

ads-block-test