MULIADARMAMULIADARMA

Jurnal Ekonomi, Manajemen, Bisnis, Auditing dan AkuntansiJurnal Ekonomi, Manajemen, Bisnis, Auditing dan Akuntansi

Burnout semakin meningkat di industri makanan cepat saji akibat tuntutan kerja yang tinggi, kepemimpinan yang tidak sehat, kecerdasan emosional yang rendah, dan rasa tidak aman dalam pekerjaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh toxic leadership, emotional intelligence, dan job insecurity terhadap burnout karyawan pada Richeese Factory Kota Palembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toxic leadership, emotional intelligence, dan job insecurity berpengaruh signifikan terhadap burnout. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa kepemimpinan yang toksik dan ketidakamanan kerja meningkatkan burnout, sementara kecerdasan emosional mampu menurunkannya.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa toxic leadership, emotional intelligence, dan job insecurity berpengaruh signifikan terhadap burnout karyawan pada Richeese Factory Kota Palembang.Lingkungan kerja yang sehat dan produktif dapat diciptakan dengan mengurangi toxic leadership, meningkatkan kecerdasan emosional karyawan, dan menekan rasa job insecurity.Karyawan juga disarankan untuk mengembangkan kemampuan diri dan menjaga keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi.Penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan variabel-variabel lain yang berpotensi memengaruhi burnout, seperti beban kerja, kepemimpinan yang suportif, dan pengakuan atas prestasi kerja.

Untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis karyawan dan mengurangi risiko burnout, Richeese Factory Kota Palembang dapat mempertimbangkan beberapa strategi. Pertama, perusahaan perlu memperbaiki gaya kepemimpinan dengan menekankan komunikasi efektif, empati, dan keterbukaan. Pelatihan kepemimpinan yang berfokus pada pengembangan soft skills, seperti pengelolaan emosi dan kemampuan interpersonal, dapat membantu karyawan mengatasi tekanan kerja. Selain itu, perusahaan juga dapat meningkatkan kecerdasan emosional karyawan melalui pelatihan khusus. Upaya untuk menekan rasa job insecurity sangat penting, sehingga perusahaan perlu memberikan informasi yang jelas dan transparan mengenai status kepegawaian, jenjang karier, dan jaminan masa depan pekerjaan. Dengan demikian, karyawan akan merasa lebih aman dan termotivasi. Penelitian selanjutnya dapat memperluas fokus dengan menambahkan variabel-variabel lain yang berpotensi memengaruhi burnout, seperti beban kerja, kurangnya kepemimpinan yang suportif, dan minimnya otonomi dalam pengambilan keputusan. Pendekatan kualitatif atau metode campuran juga dapat dipertimbangkan untuk menggali lebih dalam dinamika psikologis dan pengalaman subjektif karyawan terkait faktor-faktor penyebab burnout.

  1. PENGARUH KEMAMPUAN KERJA, KEPEMIMPINAN DAN KOMPENSASI TERHADAP KEDISIPLINAN KERJA KARYAWAN PT.AMAAN INDONESIA... doi.org/10.54077/jembatan.v7i2.149PENGARUH KEMAMPUAN KERJA KEPEMIMPINAN DAN KOMPENSASI TERHADAP KEDISIPLINAN KERJA KARYAWAN PT AMAAN INDONESIA doi 10 54077 jembatan v7i2 149
Read online
File size458.15 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test