UHTUHT

Hang Tuah Medical JournalHang Tuah Medical Journal

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien kista ovarium di RSUD Kota Bogor periode 2020–2024. Desain penelitian retrospektif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan metode total sampling terhadap seluruh pasien yang didiagnosis kista ovarium berdasarkan hasil biopsi, reseksi, dan pemeriksaan histopatologis yang tercatat dalam rekam medis rumah sakit. Persetujuan etik diperoleh dari Komite Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Sebanyak 122 rekam medis ditinjau. Mayoritas pasien berusia 40–49 tahun (30,3%) dan berstatus menikah (82,8%). Sebagian besar kista ovarium bersifat jinak menurut kriteria histopatologis (86,9%). Jenis kista non-neoplastik yang paling sering ditemukan adalah endometriosis (53,3%) dan kista ovarium (50,8%), sedangkan jenis kista neoplastik terbanyak adalah teratoma jinak (46,7%) dan kista jinak (28,1%). Karakteristik dominan yang diamati adalah usia 40–49 tahun, status menikah, kriteria histopatologi jinak, serta kista endometriosis dan teratoma matang sebagai jenis non-neoplastik dan neoplastik utama. Temuan ini menekankan pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan histopatologis rutin untuk manajemen klinis optimal dan pencegahan komplikasi, terutama pada kelompok usia berisiko tinggi.

Sebagian besar pasien kista ovarium di RSUD Kota Bogor berusia 40-49 tahun, mayoritas berstatus menikah, dan 86,9% kasus bersifat jinak dengan lesi non‑neoplastik (53,3%) serta kista endometriosis sebagai tipe paling umum (50,8%).Lesi neoplastik terdeteksi pada sekitar 46,7% kasus, dengan tumor musinus jinak (19,3%) dan teratoma matur (28,1%) sebagai tipe dominan.Temuan menekankan pentingnya deteksi dini, pemantauan berkala pada wanita usia reproduktif akhir, serta perlunya penelitian lanjutan tentang peran faktor hormonal, inflamasi, dan genetik dalam transformasi kista jinak menjadi ganas.

Penelitian selanjutnya dapat melakukan studi kohort prospektif untuk memantau profil hormonal wanita usia reproduktif akhir dan hubungannya dengan perkembangan kista ovarium, sehingga dapat mengidentifikasi faktor risiko hormonal spesifik. Selanjutnya, analisis molekuler terhadap marker inflamasi pada jaringan kista non‑neoplastik dan neoplastik dapat mengevaluasi peran peradangan dalam progresi penyakit dan potensi biomarker diagnostik. Selain itu, studi genomik yang melibatkan sequencing gen terkait regulasi sel epitelial ovarium dapat menilai kontribusi variasi genetik terhadap risiko transformasi kista jinak menjadi ganas, memberikan dasar bagi strategi pencegahan yang dipersonalisasi. Penelitian ini diharapkan memperluas pemahaman mekanisme patogenik kista ovarium dan mendukung pengembangan protokol skrining serta intervensi klinis yang lebih tepat.

Read online
File size264.38 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test