JURNALSAINSJURNALSAINS

Emerald: Journal of Economics and Social SciencesEmerald: Journal of Economics and Social Sciences

Studi ini mengeksplorasi teori militer modern untuk memahami lebih lanjut mengenai revolusi media sosial dalam menentukan narasi untuk memenangkan perang dalam perang digital dan antisipasinya. Kemampuan apa yang harus dimiliki militer untuk memastikan hasil yang menguntungkan dalam lingkungan kompetisi digital. Antisipasi pertempuran narasi berasal dari ajaran Islam, tabayyun. Studi ini menggunakan analisis kualitatif sebagai metode, dan mengumpulkan data melalui berbagai teks, video, suara, dan gambar dari internet seperti Facebook, Twitter, YouTube, Instagram, dan TikTok. Temuan menunjukkan bahwa propaganda sudah berperan dalam perang tradisional. Selama era digital ini, propaganda digunakan tidak hanya melalui media arus utama, tetapi juga dominan di media sosial. Prajurit harus bertempur tidak hanya di medan perang fisik tetapi juga di ruang digital virtual. Untuk menjawab tantangan tersebut, prajurit harus dilengkapi dengan alat yang lebih baik, meningkatkan taktik, teknik, dan prosedur militer dalam mengintegrasikan kapabilitas media sosial. Juga memberdayakan prajurit individu dan memungkinkan unit-unit kecil untuk menyinkronkan tindakan mereka, menjadikan setiap prajurit sebagai agen narasi dan pembuat konten.

Medan perang siber dalam ruang digital kini melibatkan prajurit dan warga sipil, baik secara terintegrasi maupun individual.Dengan mengintegrasikan kapabilitas media sosial dan urusan militer, narasi perang dapat dimenangkan, di mana propaganda berfungsi sebagai tindakan ofensif dan tabayyun sebagai tindakan defensif untuk mengantisipasi serangan narasi.Pihak yang tidak siap dalam pertempuran siber berisiko kehilangan narasi dan dukungan masyarakat digital global, menegaskan pentingnya konsistensi dan komitmen dalam membangun pengaruh digital.

Penelitian lanjutan dapat mendalami bagaimana efektivitas agen narasi—baik dari kalangan militer maupun sipil—dapat diukur secara konkret dalam memenangkan narasi perang di ruang digital. Ini mencakup pengembangan metrik yang lebih canggih untuk menilai dampak kampanye propaganda ofensif serta keberhasilan strategi tabayyun sebagai pertahanan narasi, tidak hanya dalam penyebaran informasi tetapi juga dalam mengubah opini publik. Selain itu, mengingat pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin mempermudah fabrikasi konten visual dan audio, studi mendatang sangat krusial untuk mengeksplorasi metode dan alat baru berbasis AI yang dapat membantu proses tabayyun itu sendiri, misalnya dalam mendeteksi deepfake atau disinformasi yang sangat canggih. Bagaimana teknologi dapat menjadi solusi sekaligus tantangan dalam verifikasi kebenaran informasi menjadi pertanyaan penelitian yang mendesak. Lebih lanjut, penting untuk menganalisis dan merumuskan kerangka hukum dan kebijakan yang lebih adaptif di tingkat nasional maupun internasional untuk mengatur praktik propaganda digital dan perang siber. Hal ini bertujuan untuk menciptakan batasan yang jelas antara operasi informasi yang sah, kebebasan berekspresi, dan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan siber, sehingga negara dan masyarakat memiliki panduan yang kuat dalam menghadapi ancaman digital yang terus berkembang.

  1. Upaya dan Kontribusi Indonesia dalam Proses Perdamaian di Afghanistan Melalui Bina-Damai | Sugara | MUKADIMAH:... doi.org/10.30743/mkd.v5i1.3414Upaya dan Kontribusi Indonesia dalam Proses Perdamaian di Afghanistan Melalui Bina Damai Sugara MUKADIMAH doi 10 30743 mkd v5i1 3414
  2. "Propaganda: Can a Word Decide a War?" by Dennis M. Murphy and James F. White. propaganda word... doi.org/10.55540/0031-1723.2383Propaganda Can a Word Decide a War by Dennis M Murphy and James F White propaganda word doi 10 55540 0031 1723 2383
Read online
File size300.13 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test