UNTAG BANYUWANGIUNTAG BANYUWANGI

Jurnal SangkalaJurnal Sangkala

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara komparatif karakteristik ideologi negara Indonesia dan Tiongkok, khususnya antara Pancasila Socialism dan Chinese Socialism, berdasarkan pendekatan religius dan materialis. Fokus utama penelitian adalah mengidentifikasi fondasi historis, nilai filosofis, dan implikasi praktis kedua ideologi dalam membentuk arah kebijakan dan identitas nasional masing-masing negara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka melalui analisis konten literatur ilmiah berupa buku, jurnal akademik, dan dokumen resmi yang valid dan relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Pancasila Socialism bersifat religius-humanis, menekankan prinsip moral keilahian, kemanusiaan, dan musyawarah dalam kerangka pluralitas budaya. Sebaliknya, Chinese Socialism dibangun berdasarkan materialisme sejarah dan sentralisasi kekuasaan Partai Komunis Tiongkok, yang menekankan efisiensi pengembangan dan stabilitas politik. Meskipun berbeda secara paradigma, kedua ideologi memiliki fungsi strategis sebagai perekat sosial dan panduan pembangunan nasional di tengah tantangan global. Temuan ini menekankan pentingnya merevitalisasi ideologi negara secara kontekstual dan partisipatif agar tetap relevan dalam dinamika zaman.

Studi komparatif antara Pancasila Socialism dan Chinese Socialism menunjukkan bahwa kedua ideologi negara dibangun atas fondasi historis, filosofis, dan budaya yang sangat berbeda, meskipun keduanya bertujuan menjawab kebutuhan keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat.Pancasila Socialism bersifat religius-humanis, mengintegrasikan nilai-nilai keilahian, kemanusiaan, dan kolektivitas nasional sebagai sumber moral politik.Sebaliknya, Chinese Socialism berakar pada materialisme sejarah Marxisme-Leninisme, yang menekankan kontrol negara dan dialektika kelas dalam kerangka pembangunan ekonomi terpusat.Perbedaan pendekatan ini membentuk pola ideologi dan praktik pemerintahan yang unik.Meskipun demikian, keduanya menunjukkan bahwa ideologi negara tetap memiliki peran penting dalam mengarahkan pembangunan nasional, membentuk karakter nasional, dan menjaga kohesi sosial.Tantangan terkini adalah bagaimana kedua negara mempertahankan relevansi ideologi di tengah dinamika globalisasi, gangguan teknologi, dan pluralisme sosial.

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat dikemukakan. Pertama, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi dampak pengaruh agama terhadap pembentukan ideologi negara di negara-negara lain dengan konteks budaya yang berbeda. Kedua, analisis peran pendidikan dalam membentuk kesadaran ideologis masyarakat dapat dikembangkan untuk memahami bagaimana nilai-nilai ideologi diserap dan diimplementasikan secara lokal. Ketiga, penelitian tentang efek globalisasi terhadap stabilitas ideologi negara perlu dilakukan, khususnya bagaimana negara-negara mampu menjaga keseimbangan antara pembukaan global dan perlindungan identitas nasional. Saran-saran ini bertujuan untuk memperkaya pemahaman tentang dinamika ideologi dalam konteks yang lebih luas dan kompleks.

Read online
File size385.13 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test