INDOJOURNALPMRINDOJOURNALPMR

Indonesian Journal of Physical Medicine and RehabilitationIndonesian Journal of Physical Medicine and Rehabilitation

Pendahuluan: Rehabilitasi kardial fase II (CR) merupakan intervensi utama untuk meningkatkan kapasitas fungsional (KF) dan membantu pasien dengan penyakit arteri koroner (PAK) kembali ke aktivitas fungsional sebelum sakit. Laporan kasus ini menggambarkan penerapan super‑circuit training (SCT) sebagai modus latihan baru untuk menilai efektivitas dan keamanannya.. . Deskripsi Kasus: Seorang pria berusia 37 tahun menjalani CR fase II delapan minggu setelah intervensi koroner perkutan dengan KF sebesar 5,4 ekivalen metabolik, yang membatasi aktivitasnya. Kekhawatiran akan serangan jantung berulang memperparah keterbatasan tersebut. Pasien mengikuti program SCT selama enam minggu dengan tujuan meningkatkan KF sebagai penyebab utama gangguan fungsional. Setelah menyelesaikan program, terjadi perbaikan pada KF, kebugaran otot, dan kesejahteraan psikologis, yang meningkatkan aktivitas harian, pekerjaan, dan seksual. Tidak ada kejadian merugikan selama program CR.. . Diskusi: Protokol SCT merupakan bentuk latihan sirkuit baru yang menggabungkan latihan aerobik intensitas tinggi (AE) dan latihan resistensi (RT), khusus dirancang untuk pasien PAK dan gagal jantung dengan fraksi ejeksi berkurang. Pada kasus ini, protokol disesuaikan dengan intensitas dan jenis RT yang dimodifikasi. AE dilakukan pada 75‑85% cadangan denyut jantung, sedangkan RT meliputi latihan kalistenik pada 50% repetisi hingga kegagalan. Secara fisiologis, regimen ini secara efektif meningkatkan beban metabolik dan hemodinamik, memperbaiki daya tahan otot, kekuatan, dan kebugaran kardiorespirasi. SCT terbukti aman dan bermanfaat, konsisten dengan studi sebelumnya.. . Kesimpulan: Penerapan SCT pada pasien PAK yang menjalani CR fase II menghasilkan peningkatan signifikan pada KF dan dianggap aman.

Implementasi SCT pada pasien CAD yang menjalani fase II CR dianggap aman dan menghasilkan perbaikan signifikan pada kapasitas fungsional serta masalah rehabilitasi lainnya.

Penelitian selanjutnya perlu melakukan uji coba terkontrol acak untuk membandingkan efektivitas dan keamanan super‑circuit training dengan program rehabilitasi kardial konvensional pada kelompok pasien CAD pasca‑PCI yang lebih besar, sehingga dapat menggeneralisasi temuan dari kasus tunggal ini. Selanjutnya, penting untuk mengembangkan serta memvalidasi alat penilaian standar yang khusus mengukur kecemasan seksual pasca‑prosedur pada pasien kardiovaskular, dan kemudian mengevaluasi sejauh mana intervensi SCT dapat mengurangi tingkat kecemasan tersebut. Terakhir, studi longitudinal diperlukan untuk menilai dampak jangka panjang SCT terhadap fungsi paru serta kualitas hidup pada pasien CAD yang juga mengalami gangguan fungsi paru restriktif, sehingga dapat memperjelas manfaat tambahan SCT pada komorbiditas pernapasan.

Read online
File size395.48 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test