UNIVERSITAS BTHUNIVERSITAS BTH

Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan FarmasiJurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi

Masalah kesehatan saat ini telah mengalami pergeseran dari penyakit infeksi menjadi penyakit degeneratif. Perkembangan penyakit degeneratif dipicu oleh perubahan gaya hidup, lingkungan, dan genetika. Salah satu penyakit degeneratif yang banyak diderita adalah Diabetes Mellitus. Penelitian kali ini dilakukan untuk mengevaluasi efektifitas lactobacillus sporogenes terhadap penurunan intoleransi glukosa yang menjadi penanda awal terjadinya Diabetes Mellitus. Mencit jantan galur swiss webster diberi suspensi lactobacillus sporogenes secara oral selama 7 hari, dengan dosis yang digunakan adalah 12 x 106 / Kg BB, 24 x 106 / Kg BB dan 48 x 106 / Kg BB. Setelah diberikan suspensi lactobacillus sporogenes kemudian diberikan deksametason secara intraperitoneal selama 4 hari dengan dosis 20mg/ Kg BB, selanjutnya diberikan glukosa dengan dosis 1.5 gr/ Kg BB. Aktivitas antidiabetes ini dievaluasi dengan dilakukannya pengamatan kadar glukosa darah puasa pada waktu 0, 30, 60, dan 120 menit pada seluruh kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh dosis diatas yang digunakan dari suspensi lactobacillus sporogenes memberikan penurunan intoleransi glukosa dengan ditandai penurunan kadar gula darah secara bermakna (p<0.05). Oleh karena itu, lactobacillus sporogenes mungkin bisa diterima sebagai sumber yang potensial sebagai terapi preventif dan bahkan kuratif pada intoleransi glukosa. Akan tetapi masih perlu dilakukan suatu penelitian lebih lanjut.

Hasil studi pra klinis terhadap mencit setelah pemberian tiga macam dosis, (12 x 106 / Kg BB) untuk dosis uji I, (24 x 106/ Kg BB) untuk dosis uji II, (48 x 106/ Kg BB) untuk dosis uji III dengan pemerian selama 7 hari menunjukkan penurunan aktivitas intoleransi glukosa yang ditandai dengan penurunan kadar gula darah yang berbeda secara bermakna dibanding kelompok normal dan negatif.Penggunaan dosis uji III (48 x 106/ Kg BB) memberikan hasil intoleransi tertinggi dalam penurunan glukosa dengan ditandai penurunan gula darah tertinggi.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk menggunakan metode uji yang berbeda dan mengetahui secara pasti mekanisme yang terjadi dalam efektifitas penurunan intoleransi glukosa oleh Lactobacillus sporogenes. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi efektifitas Lactobacillus sporogenes dalam menurunkan intoleransi glukosa, seperti dosis optimal, durasi pemberian, dan interaksi dengan mikrobiota usus. Penelitian ini juga dapat dikembangkan untuk mengeksplorasi potensi Lactobacillus sporogenes sebagai terapi preventif dan kuratif pada intoleransi glukosa, serta untuk memahami mekanisme aksi dan efek sampingnya.

Read online
File size201.91 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test