UNIKASTPAULUSUNIKASTPAULUS

CIWAL: Jurnal PertanianCIWAL: Jurnal Pertanian

Usahatani cabai rawit memiliki potensi dalam pengembangannya, meski demikian tanaman cabai merupakan salah satu tanaman yang cukup rentan terhadap serangan hama dan penyakit terutama pada daerah dengan curah hujan tinggi. Rentannya tanaman cabai terhadap serangan hama dan penyakit menyebabkan penurunan produksi pada musim-musim tertentu yang berakibat pada kelangkaan dan peningkatan harga cabai rawit. Oleh karena itu tujuan dalam penelitian ini yakni untuk mengetahui . Adapun sampel yang dipilih dalam penelitian ini yakni 30 sampel yang merupakan seluruh populasi petani cabai rawit yang berada di Kecamatan Wae Rii yang memiliki curah hujan tinggi. Analisis kelayakan usahatani yang dipilih dalam usahatani cabai rawit menggunakan analisis pendapatan, R/C ratio, BEP unit dan BEP rupiah. Penggunaan analisis tersebut didasari pada data usahatani cabai rawit yang dapat diperoleh merupakan data produksi 1 tahun, dimana dalam 1 tahun petani hanya melakukan 1 kali periode tanam. Hasil analisis yakni R/C Ratio adalah 5, BEP unit 8.176 kg, dan BEP rupiah Rp39,661/kg. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa usahatani cabai rawit di daerah dengan curah hujan tinggi layak untuk dilakukan namun hanya pada 1 kali musim tanam dalam 1 tahun.

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pendapatan usahatani cabai rawit per satu kali produksi di Kecamatan Wae Rii adalah Rp16,236,003 per rata-rata luas lahan 0.Nilai R/C sebesar 5 yang berarti usahatani cabai rawit layak untuk dikembangkan.

Studi ini menunjukkan bahwa budidaya cabai rawit di Kecamatan Wae Rii layak secara ekonomi, namun terbatas hanya pada satu musim tanam karena curah hujan tinggi yang menyebabkan kerentanan terhadap hama dan penyakit. Untuk mengatasi tantangan ini, penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan varietas cabai rawit yang lebih tahan terhadap kondisi curah hujan tinggi dan serangan penyakit yang umum terjadi di lingkungan basah, atau mengevaluasi efektivitas penggunaan teknologi pertanian adaptif seperti rumah kaca sederhana atau sistem drainase canggih untuk memperpanjang musim tanam. Selain itu, mengingat masalah pupuk yang mudah tercuci dan peningkatan kebutuhan input produksi saat musim hujan, perlu diteliti lebih lanjut mengenai optimasi manajemen nutrisi tanaman dan strategi pengelolaan hama terpadu yang ramah lingkungan, misalnya dengan memanfaatkan pestisida nabati atau sistem tanam tumpang sari. Terakhir, karena petani hanya melakukan satu kali tanam dalam setahun, sangat relevan untuk mengkaji potensi diversifikasi komoditas pertanian atau integrasi usaha tani lain yang dapat memberikan pendapatan tambahan di luar musim tanam cabai, guna meningkatkan stabilitas ekonomi petani di daerah dengan karakteristik iklim serupa.

Read online
File size262.58 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test