UNAIUNAI
11th International Scholars Conference11th International Scholars ConferenceKemampuan membaca musik secara langsung (sight‑reading) sangat penting bagi pianis untuk menafsirkan dan memainkan musik secara akurat dan real‑time, mencakup ketepatan ritme, pemilihan nada, dan kelancaran. Meskipun begitu, keterampilan ini jarang diajarkan secara eksplisit di tingkat perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengaruh latihan Brain Gym terhadap peningkatan kemampuan sight‑reading pada mahasiswa musik. Metode pre‑experimental satu kelompok pretest‑posttest digunakan untuk mengukur tingkat kesalahan sebelum dan sesudah intervensi. Enam belas mahasiswa dengan pengalaman belajar piano minimal enam bulan berpartisipasi. Pada hari pertama, mereka melakukan pengujian sight‑reading, diikuti oleh pelaksanaan gerakan Brain Gym selama 14 hari. Pada hari keempat belas, mereka kembali diuji. Hasil uji t berpasangan menunjukkan peningkatan signifikan pada pengurangan catatan yang terlewat, ritme yang salah, repetisi, dan jeda. Analisis menunjukkan bahwa Brain Gym menghasilkan peningkatan yang positif pada profisiensi sight‑reading pianis, tercermin dari penurunan frekuensi kesalahan setelah implementasi. Implementasi gerakan Brain Gym sebagai aktivitas pemanasan di kelas piano dapat mengurangi potensi kesalahan pembelajaran. Temuan ini menunjukkan bahwa Brain Gym dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kemampuan sight‑reading pianis.
Brain Gym secara signifikan meningkatkan kemampuan sight‑reading mahasiswa piano, terbukti dengan berkurangnya kesalahan seperti catatan salah, ritme salah, repetisi, dan jeda.Penerapan Brain Gym sebagai pemanasan kelas merupakan strategi efektif untuk meminimalkan kesalahan awal dalam pembelajaran musik yang memerlukan keterampilan membaca not musik.Penelitian ini memaparkan bahwa latihan fisik sederhana dapat meningkatkan kinerja kognitif dan motorik yang relevan dalam konteks musik.
Penelitian ini membuka peluang untuk meneliti dampak jangka panjang latihan Brain Gym terhadap kemampuan membaca musik secara berkelanjutan pada musisi muda. Kita dapat menanyakan apakah peningkatan keterampilan yang dilaporkan berkonservasi setelah satu tahun penggunaan rutin, atau apakah perlu perpanjangan intensitas. Penelitian selanjutnya juga dapat membandingkan efektivitas Brain Gym dengan latihan koordinasi motorik alternatif, seperti latihan yang berfokus pada keterampilan pernapasan dan propriosepsi, guna menentukan pendekatan yang paling kuat dalam meningkatkan kinerja sight‑reading. Sebagai contoh, perbandingan antara Brain Gym, latihan pernapasan perkusional, dan gerakan yoga dapat memberikan wawasan tentang mekanisme belajar musik multidimensi. Aspek lain yang menarik adalah penerapan Brain Gym pada alat musik lain, seperti biola, traut, atau saksofon, untuk mengevaluasi generalisasi diskusi dari penelitian awal. Hal ini dapat ditajamkan dengan merancang eksperimen dengan partisipan yang berasal dari latar belakang musik klasik versus musik kontemporer. Penelitian yang melibatkan pemantauan aktivitas otak, misalnya melalui elektroensefalografi (EEG), dapat mengungkap perubahan pola sinyal saraf yang berkaitan dengan peningkatan kecepatan persepsi dan koordinasi motorik. Pertanyaan‑pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan mengukur koefisien keserasian antara perubahan skor fMRI dan variabel kognitif yang diukur. Selain itu, studi longitudinal yang melacak perkembangan siswa selama satu semester perguruan tinggi akan memperkuat validitas temuan dan menilai faktor‑faktor kontekstual yang memoderasi efek Brain Gym. Dengan kombinasi pendekatan eksperimental, komparatif, dan neuroimaging, penelitian lanjutan ini dapat menggali kedalaman ilmu di balik latihan fisik dan kognisi musik.
| File size | 204.59 KB |
| Pages | 11 |
| Short Link | https://juris.id/p-rO |
| Lookup Links | Google ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard |
| DMCA | Report |
Related /
WALIDEMINSTITUTEWALIDEMINSTITUTE Kegiatan ekstrakurikuler berbasis karakter dan lingkungan sekolah yang mendukung, dengan guru sebagai teladan, memperkuat pengembangan keterampilan sosial,Kegiatan ekstrakurikuler berbasis karakter dan lingkungan sekolah yang mendukung, dengan guru sebagai teladan, memperkuat pengembangan keterampilan sosial,
RESEARCHSYNERGYPRESSRESEARCHSYNERGYPRESS Kuesioner berisi pernyataan tentang pelaksanaan pembelajaran menggunakan enam indikator, yang dirangkum menjadi 34 pernyataan menggunakan skala Likert.Kuesioner berisi pernyataan tentang pelaksanaan pembelajaran menggunakan enam indikator, yang dirangkum menjadi 34 pernyataan menggunakan skala Likert.
UNAIUNAI Selain itu, penelitian ini tidak menemukan perbedaan signifikan dalam tingkat kecemasan antara siswa pria dan wanita, yang juga berbeda dengan penelitianSelain itu, penelitian ini tidak menemukan perbedaan signifikan dalam tingkat kecemasan antara siswa pria dan wanita, yang juga berbeda dengan penelitian
UNAIUNAI Ini menekankan peran mediasi gaya koping dalam hubungan antara fungsi psikologis dan kesejahteraan. Data dikumpulkan dari 353 mahasiswa di sebuah universitasIni menekankan peran mediasi gaya koping dalam hubungan antara fungsi psikologis dan kesejahteraan. Data dikumpulkan dari 353 mahasiswa di sebuah universitas
UNAIUNAI Transisi ke kehidupan perguruan tinggi membawa banyak tantangan yang dapat memengaruhi kesehatan mental mahasiswa. Penelitian ini menyelidiki peran dukunganTransisi ke kehidupan perguruan tinggi membawa banyak tantangan yang dapat memengaruhi kesehatan mental mahasiswa. Penelitian ini menyelidiki peran dukungan
UNISLAUNISLA Sampel penelitian ini terdiri dari 24 siswa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswaSampel penelitian ini terdiri dari 24 siswa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa
UNISLAUNISLA Siswa mengalami permasalahan psikologis seperti cemas, malu, takut melakukan kesalahan, dan kurangnya kepercayaan diri yang menghambat kemampuan berbicaraSiswa mengalami permasalahan psikologis seperti cemas, malu, takut melakukan kesalahan, dan kurangnya kepercayaan diri yang menghambat kemampuan berbicara
INTELEKTUALINTELEKTUAL This study used a descriptive narrative qualitative research. The research was conducted at Muhammadiyah Kalibening Senior High School, Banjarnegara Regency.This study used a descriptive narrative qualitative research. The research was conducted at Muhammadiyah Kalibening Senior High School, Banjarnegara Regency.
Useful /
RESEARCHSYNERGYPRESSRESEARCHSYNERGYPRESS Untuk mengatasi tantangan akurasi penilaian dan instruksi personalisasi dalam pendidikan musik etnis di sepanjang wilayah Inisiatif Sabuk dan Jalan, sistemUntuk mengatasi tantangan akurasi penilaian dan instruksi personalisasi dalam pendidikan musik etnis di sepanjang wilayah Inisiatif Sabuk dan Jalan, sistem
RESEARCHSYNERGYPRESSRESEARCHSYNERGYPRESS Temuan menunjukkan bahwa sebagian besar administrator memiliki kompetensi tinggi, namun faktor usia, pengalaman, dan kualifikasi pendidikan memengaruhiTemuan menunjukkan bahwa sebagian besar administrator memiliki kompetensi tinggi, namun faktor usia, pengalaman, dan kualifikasi pendidikan memengaruhi
FIP UNGFIP UNG Cara pengambilan data dalam penelitian kualitatif ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwaCara pengambilan data dalam penelitian kualitatif ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
ALIMSPUBLISHINGALIMSPUBLISHING Artikel ini dibuat bertujuan untuk mengetahui gaya bahasa yang digunakan dalam lirik lagu bergenre indie, genre yang banyak disukai oleh khalayak ramaiArtikel ini dibuat bertujuan untuk mengetahui gaya bahasa yang digunakan dalam lirik lagu bergenre indie, genre yang banyak disukai oleh khalayak ramai