RADJAPUBLIKARADJAPUBLIKA

International Journal of Economic, Business, Accounting, Agriculture Management and Sharia Administration (IJEBAS)International Journal of Economic, Business, Accounting, Agriculture Management and Sharia Administration (IJEBAS)

Penelitian ini dimotivasi oleh kebutuhan untuk memahami bagaimana gender, budaya lokal, dan relasi kekuasaan beroperasi di bawah permukaan praktik Sistem Pengendalian Manajemen (SPM) di universitas, terutama karena dominasi pendekatan teknokratis dalam literatur telah meminggirkan pengalaman perempuan dan simbol-simbol budaya seperti metafora Gayatri. Asimetri struktural dalam mengakui peran substantif perempuan dalam penganggaran mengungkapkan kesenjangan pengetahuan penting yang memerlukan eksplorasi melalui pendekatan kualitatif postmodern. Studi ini bertujuan untuk menguji bagaimana nilai-nilai feminis dan kepercayaan budaya lokal memengaruhi praktik SPM, serta bagaimana pengalaman gender membentuk makna dan legitimasi dalam proses pengambilan keputusan anggaran. Menggunakan desain kualitatif yang berlandaskan paradigma postmodern dan metodologi feminis poststruktural, studi ini memperlakukan data sebagai konstruksi diskursif yang dihasilkan melalui interaksi, bukan sebagai fakta objektif. Analisis menggunakan pendekatan dekonstruktif yang membaca fragmen naratif, kontradiksi, dan keheningan dalam wawancara dan dokumen untuk mengungkap produksi makna dan relasi kekuasaan. Temuan menunjukkan bahwa perempuan memegang peran teknis-substantif dalam menyiapkan TOR, rencana anggaran (RAB), dan penganggaran berbasis aktivitas (RBA), namun tetap diposisikan di bawah otoritas simbolis pemimpin laki-laki; bahwa kepemimpinan bayangan (shadow leadership) muncul sebagai pola dominan yang memungkinkan perempuan menjalankan kontrol tanpa legitimasi formal; dan bahwa kepemimpinan perempuan memperkenalkan praktik kontrol yang lebih deliberatif, kolaboratif, dan sensitif terhadap konsekuensi sosial. Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa SPM beroperasi bukan melalui rasionalitas formal, tetapi melalui perjuangan diskursif yang mengkonstruksi subjek, makna, dan struktur keputusan hierarkis. Studi ini menyimpulkan dengan menekankan perlunya pembacaan SPM yang sensitif gender dan kontekstual secara budaya serta merekomendasikan eksplorasi lebih lanjut model kontrol yang berlandaskan nilai-nilai budaya lokal.

Penelitian ini menemukan bahwa Sistem Pengendalian Manajemen (SPM) di universitas beroperasi sebagai arena diskursif yang dibentuk oleh dokumen, praktik informal, gender, dan budaya, bukan sekadar logika rasional-instrumental.Perempuan memegang peran substantif dalam penganggaran namun kerap dibayangi oleh legitimasi simbolis struktur patriarki, sehingga memunculkan kepemimpinan bayangan sebagai mekanisme kekuasaan yang berkelanjutan.Oleh karena itu, diperlukan perluasan kajian SPM dengan perspektif feminis, postmodern, dan budaya, serta kebijakan universitas yang mengakui kontribusi perempuan dan menciptakan ruang deliberatif.

Mengingat temuan penelitian ini mengenai peran substansif perempuan dalam Sistem Pengendalian Manajemen (SPM) yang seringkali tidak diakui secara formal, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang menarik. Salah satunya adalah menelaah lebih lanjut bagaimana kepemimpinan bayangan yang ditemukan pada studi ini dapat diubah menjadi pengakuan formal. Misalnya, penelitian dapat mengeksplorasi strategi atau intervensi spesifik apa yang paling efektif dalam menginstitusionalisasi kontribusi informal perempuan di berbagai jenis organisasi, tidak hanya universitas, sehingga peran krusial mereka mendapatkan legitimasi yang setara. Selain itu, menarik untuk memperluas studi tentang pengaruh metafora budaya lokal. Bagaimana budaya-budaya lokal lain, selain Gayatri, dimobilisasi dalam konteks pengendalian manajemen di berbagai sektor di Indonesia, dan bagaimana simbol-simbol tersebut dapat baik memperkuat maupun menantang struktur kekuasaan yang ada? Ini bisa meliputi studi komparatif antar-wilayah dengan kearifan lokal yang berbeda. Selanjutnya, karena penelitian ini menyoroti praktik kontrol yang lebih deliberatif dan kolaboratif oleh kepemimpinan perempuan, riset masa depan dapat mengukur dan menganalisis secara lebih mendalam dampak nyata dari pendekatan ini terhadap kinerja organisasi, iklim kerja, dan partisipasi karyawan dalam pengambilan keputusan. Pemahaman ini akan sangat berharga untuk mengembangkan model SPM yang lebih inklusif dan responsif terhadap dinamika sosial, gender, dan budaya yang kompleks, sekaligus menjembatani kesenjangan antara praktik nyata dan narasi formal dalam organisasi. Dengan demikian, kita bisa merancang sistem yang lebih adil dan efektif.

Read online
File size256.78 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test