BUMIGORABUMIGORA

Humanitatis : Journal of Language and LiteratureHumanitatis : Journal of Language and Literature

Artikel ini menganalisis fenomena pelecehan seksual yang dibungkus legitimasi agama melalui film Walid (2025) sebagai kritik tajam terhadap penyalahgunaan otoritas religius. Peristiwa pelecehan seksual di Lombok, khususnya di pesantren dan lembaga pendidikan, menunjukkan ketimpangan kekuatan dan budaya diam yang memperparah kondisi korban. Film ini menggambarkan pemimpin agama yang memanipulasi ajaran sakral untuk menciptakan otoritas mutlak dan melakukan kekerasan simbolis serta seksual. Penelitian ini bertujuan (a) mengidentifikasi bentuk pelecehan seksual yang dibenarkan atas nama agama, (b) menganalisis representasi kekuatan religius dalam film sebagai kritik sosial, dan (c) memberikan refleksi sosial untuk mereformasi sistem perlindungan di lingkungan religius. Metode deskriptif kualitatif dengan teori Power dan Symbolic Relations (Michel Foucault), Symbolic Violence (Pierre Bourdieu), dan Feminist Critical Theology menunjukkan bahwa film Walid tidak hanya sebagai karya fiksi tetapi juga alat kritis untuk mengungkap struktur otoriter di institusi agama dan mendorong kesadaran kolektif terhadap keadilan korban.

Film Walid secara tajam mengkritik penyalahgunaan otoritas religius untuk menjustifikasi pelecehan seksual, mengungkap ketimpangan kekuatan di institusi agama, dan mendorong reformasi perlindungan korban.Analisis teori Foucault, Bourdieu, dan Feminist Critical Theology mengungkap struktur otoriter yang memungkinkan kekerasan simbolis dan gender.Film ini menjadi ajakan untuk membangun kesadaran kritis terhadap akuntabilitas pengambil keputusan agama dan menciptakan lingkungan yang lebih transparan serta adil.

Penelitian selanjutnya dapat membandingkan representasi pelecehan seksual dalam film berkonteks agama lain untuk mengidentifikasi pola kekuasaan simbolis. Studi lanjutan bisa fokus pada pengembangan kurikulum pendidikan agama yang mengintegrasikan literasi kritis terhadap interpretasi tekstual yang bias gender. Selain itu, evaluasi efektifitas regulasi perlindungan korban pelecehan di pesantren perlu dikaji, khususnya dalam mencegah budaya diam dan memperkuat mekanisme pelaporan serta penegakan hukum.

  1. Addressing Sexual Violence in Islamic Boarding Schools: A Study on Santri Perceptions and Institutional... cahaya-ic.com/index.php/JSKE/article/view/1086Addressing Sexual Violence in Islamic Boarding Schools A Study on Santri Perceptions and Institutional cahaya ic index php JSKE article view 1086
  2. khazanah hukum. approach protection efforts against sexual violence islamic boarding school educational... doi.org/10.15575/kh.v7i1.34254khazanah hukum approach protection efforts against sexual violence islamic boarding school educational doi 10 15575 kh v7i1 34254
  3. Sexual Harassment in the Name of Religion and Heaven as Shown in Walid’s Film: Symbolic and... doi.org/10.30812/humanitatis.v11i2.5108Sexual Harassment in the Name of Religion and Heaven as Shown in WalidAos Film ASymbolic and doi 10 30812 humanitatis v11i2 5108
Read online
File size147.94 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test