UNIBAUNIBA

Jurnal EduecoJurnal Edueco

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis selama periode 2013–2022. Metode yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana dengan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil uji normalitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas menunjukkan bahwa model regresi memenuhi asumsi klasik. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai tukar rupiah, dengan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,383, artinya 38,3% variasi nilai tukar dipengaruhi oleh inflasi. Persamaan regresi Y = 14848.762 - 2.596X menunjukkan bahwa setiap kenaikan inflasi 1 satuan menyebabkan pelemahan nilai tukar sebesar 2,596 poin. Temuan ini konsisten dengan teori Purchasing Power Parity (PPP) dan penelitian sebelumnya, yang menyatakan bahwa inflasi tinggi mengurangi daya beli mata uang domestik, sehingga memicu depresiasi. Implikasi kebijakan dari penelitian ini menekankan pentingnya pengendalian inflasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat korelasi negatif dan signifikan antara inflasi dan nilai tukar rupiah di Indonesia (2013-2022), dengan inflasi menjelaskan 38,3% variasi nilai tukar.Setiap kenaikan satu persen inflasi berkontribusi pada penurunan nilai tukar rupiah sebesar 2,596, menunjukkan bahwa inflasi yang lebih tinggi akan semakin melemahkan rupiah.Temuan ini menekankan pentingnya kebijakan moneter yang tepat untuk mengendalikan inflasi guna menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Penemuan penting dari penelitian ini menunjukkan bahwa inflasi memiliki dampak negatif signifikan terhadap nilai tukar rupiah, namun hanya mampu menjelaskan sekitar 38,3% dari fluktuasi nilai tukar tersebut. Sisa variasi yang besar ini mengisyaratkan adanya faktor-faktor lain yang turut berperan, sehingga membuka peluang untuk penelitian lanjutan yang lebih komprehensif. Penelitian di masa depan dapat memperluas model analisis dengan mengintegrasikan variabel makroekonomi tambahan, seperti tingkat suku bunga, neraca perdagangan, atau jumlah uang beredar. Pertanyaan penelitian dapat diajukan seperti: Bagaimana interaksi antara inflasi, suku bunga, dan neraca perdagangan secara simultan memengaruhi dinamika nilai tukar rupiah di Indonesia, dan apakah dampak gabungan ini lebih kuat dibandingkan pengaruh masing-masing variabel secara parsial? Selain itu, mengingat hubungan antara inflasi dan nilai tukar tidak selalu linier, studi selanjutnya bisa mengadopsi model ekonometrik yang lebih canggih, misalnya menggunakan model regresi berganda (multiple regression), model dengan variabel mediasi atau moderasi, atau bahkan pendekatan nonlinear. Ini akan membantu menjawab pertanyaan: Apakah ada variabel mediasi atau moderasi, seperti ekspektasi pasar atau kebijakan intervensi Bank Indonesia, yang memengaruhi kekuatan hubungan antara inflasi dan nilai tukar rupiah, dan bagaimana model non-linier dapat memberikan pemahaman yang lebih akurat tentang hubungan kompleks ini? Untuk memberikan gambaran yang lebih utuh, penelitian lanjutan juga dapat menganalisis dampak faktor eksternal dan global, seperti harga komoditas internasional, sentimen pasar global, atau krisis ekonomi regional, terhadap hubungan inflasi dan nilai tukar rupiah. Misalnya, Sejauh mana guncangan ekonomi global atau perubahan harga komoditas dunia memoderasi atau memperkuat efek inflasi domestik terhadap stabilitas nilai tukar rupiah di Indonesia? Pendekatan ini akan memperkaya pemahaman kita tentang resistensi atau kerentanan nilai tukar rupiah terhadap tekanan internal maupun eksternal, dan memberikan rekomendasi kebijakan yang lebih adaptif dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Read online
File size469.42 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test