PRADITAPRADITA

Review of Management, Accounting and Tourism StudiesReview of Management, Accounting and Tourism Studies

Budaya malu merupakan hal penting yang kurang diteliti dalam lingkungan organisasi terutama pada organisasi yang berbasis adat di Bali yaitu Lembaga Perkreditan Desa. Implementasi Tri Hita Karana (THK) diharapkan dapat meningkatkan budaya malu terkait pencegahan kredit macet yang merupakan salah satu penyebab kebangkrutan Lembaga Perkreditan Desa (LPD). Penelitian ini akan mengeksplorasi bagaimana implementasi THK dalam meningkatkan budaya malu di LPD Desa Adat Lukluk yang merupakan salah satu LPD pertama di Bali. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif karena bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang bagaimana suatu kelompok masyarakat atau anggotanya mengimplementasikan THK dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa tingginya budaya malu akan mencegah terjadinya kredit macet. Informan adalah pengurus LPD yaitu Kepala, Sekretaris, Bendahara dan pegawai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan dan rasa sosial yang tinggi dalam masyarakat berperan dalam meningkatkan rasa malu. Penelitian ini juga menemukan tiga dimensi budaya malu yang terbentuk melalui pelaksanaan Parahyangan, Palemahan, dan Pawongan yang berkontribusi pada pencegahan kredit macet.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa budaya malu dalam implementasi Tri Hita Karana pada Desa Adat Lukluk mampu memberikan wawasan dan kontribusi yang baik untuk keberlanjutan LPD.Budaya malu dapat dipandang sebagai internalisasi nilai THK, dan kesadaran akan rasa malu jika melakukan kesalahan merupakan wujud betapa pentingnya menjaga harmoni filosofi THK.Budaya malu dapat memperkuat implementasi THK yang dapat dipraktekkan untuk kehidupan sehari-hari.Temuan utama penelitian ini dari aspek parahyangan bahwa pembentukan rasa malu melalui kepatuhan spiritual.Budaya malu dalam interaksi sosial dan moralitas organisasi terdapat dalam aspek pawongan dan budaya malu dan tanggungjawab lingkungan merupakan aspek palemahan.

Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk menggunakan budaya malu sebagai variabel dengan penelitian kuantitatif yang menyeluruh terhadap seluruh LPD di Bali. Selain itu, penelitian ini dapat memberikan kontribusi praktis bagi LPD lainnya dalam meningkatkan budaya malu yang dapat mendukung keberlanjutan LPD berbasis Tri Hita Karana. Penelitian lanjutan dapat berfokus pada pengembangan model implementasi Tri Hita Karana yang lebih efektif dan menyeluruh, serta mengeksplorasi bagaimana budaya malu dapat menjadi faktor kunci dalam keberlanjutan LPD. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan sumbangsih yang signifikan dalam upaya meningkatkan kinerja dan keberlanjutan LPD di Bali.

Read online
File size197.27 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test