STT TAWANGMANGUSTT TAWANGMANGU

FIDEIFIDEI

Artikel ini membahas trauma kolektif pascakonflik Ambon tahun 1999–2002 yang masih meninggalkan jejak dalam peristiwa kekerasan tahun 2011 dan awal 2025. Luka sosial tersebut menunjukkan bahwa memori kolektif masyarakat belum sepenuhnya pulih dan masih menjadi sumber kerentanan relasi lintas iman. Tulisan ini bertujuan mengembangkan model rekonsiliasi berbasis pemulihan trauma dalam konteks Ambon dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka, menganalisis secara konseptual dan tematik melalui tiga pendekatan utama: teori trauma kolektif Jeffrey C. Alexander, teologi trauma Shelly Rambo, dan teologi rekonsiliasi Miroslav Volf.

Trauma kolektif pascakonflik di Ambon tetap hidup dalam memori sosial, identitas keagamaan, dan simbol publik, terbukti oleh kekerasan 2011 dan 2025 yang menunjukkan belum selesainya luka konflik 1999.Rekonsiliasi yang selama ini bersifat formal belum menyentuh kedalaman penderitaan, sehingga diperlukan pendekatan berbasis pemulihan trauma yang mengintegrasikan teori Alexander, Rambo, dan Volf serta membuka “ruang transformatif antara penderitaan yang tersisa dan rengkuhan yang terbuka.Ruang transformatif dapat diwujudkan melalui reposisi situs bersejarah seperti Gereja Silo, Tugu Trikora, serta inisiatif masyarakat seperti forum kesaksian dan liturgi pengakuan luka, yang menyediakan arena bagi penyintas untuk mengolah luka, membangun harapan, dan memperkuat solidaritas lintas iman.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki bagaimana platform digital untuk penceritaan (digital storytelling) dapat mendukung proses penyembuhan trauma pada pemuda Ambon, dengan membandingkan efektivitasnya dibandingkan forum tatap muka tradisional; selanjutnya, studi longitudinal dapat mengkaji dampak jangka panjang dari reinterpretasi situs warisan budaya seperti Gereja Silo dan Tugu Trikora terhadap sikap antar‑agama, menggunakan metode campuran kuantitatif dan kualitatif; terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi peran ritus liturgi yang dipimpin komunitas dan mengintegrasikan simbol budaya lokal dalam memupuk pengampunan berkelanjutan serta memori kolektif, dengan menilai hasil psikologis dan sosialnya. Semua penelitian ini dirancang agar mudah dipahami oleh masyarakat umum, menggunakan bahasa sederhana namun tetap mengedepankan metodologi ilmiah yang jelas.

  1. Teologi Trauma Berbasis Budaya Orang Basudara Bagi Korban Konflik Komunal | Tahamata | DUNAMIS: Jurnal... sttintheos.ac.id/e-journal/index.php/dunamis/article/view/1417Teologi Trauma Berbasis Budaya Orang Basudara Bagi Korban Konflik Komunal Tahamata DUNAMIS Jurnal sttintheos ac e journal index php dunamis article view 1417
  2. ANALISIS KONFLIK AMBON MENGGUNAKAN PENAHAPAN KONFLIK SIMON FISHER | Indrawan | Jurnal Kolaborasi Resolusi... jurnal.unpad.ac.id/jkrk/article/view/36608ANALISIS KONFLIK AMBON MENGGUNAKAN PENAHAPAN KONFLIK SIMON FISHER Indrawan Jurnal Kolaborasi Resolusi jurnal unpad ac jkrk article view 36608
  3. Forgiveness, Reconciliation, and Justice: A Theological Contribution to a More Peaceful Social Environment... journals.sagepub.com/doi/10.1177/03058298000290030601Forgiveness Reconciliation and Justice A Theological Contribution to a More Peaceful Social Environment journals sagepub doi 10 1177 03058298000290030601
  4. Ruang Publik sebagai Tempat Wisata Kaum Milenial Kota Ambon | Media Wisata. ruang publik wisata milenial... doi.org/10.36276/mws.v19i1.62Ruang Publik sebagai Tempat Wisata Kaum Milenial Kota Ambon Media Wisata ruang publik wisata milenial doi 10 36276 mws v19i1 62
Read online
File size365.9 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test