DINASTIREVDINASTIREV
Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan PolitikJurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan PolitikPelaku tindak pidana pencurian dalam status hukumnya merupakan seseorang yang bersalah atas perbuatan yang dilakukan. Sebagai warga binaan Lapas atau Rutan sesuai dengan hak narapidana, maka akan mendapat hak pembinaan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis karakteristik dan faktor penyebab terjadinya tindak pidana pencurian pada Narapidana di Rumah Tahanan Negara Banyumas dan untuk menganalisis Pola pembinaan terhadap pelaku tindak pidana pencurian dan hambatan di Rumah Tahanan Negara Banyumas. Pendekatan yuridis sosiologis, bersifat preskriptif analisis, Lokasi Penelitian dilakukan di Rumah Tahanan Negara Banyumas. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Karakteristik pelaku tindak pidana pencurian di Rumah Tahanan Negara Banyumas didominasi oleh laki-laki dewasa dengan pendidikan rendah (sekolah dasar), dan jenis pencurian yang umum adalah pencurian dengan pemberatan. Kenaikan kebutuhan ekonomi menjadi pemicu utama kejahatan ini. Penyebab pencurian dapat dibagi menjadi dua: faktor internal, seperti ekonomi, pendidikan, dan mental; serta faktor eksternal, yang terkait dengan hubungan sosial, keluarga, dan lingkungan. Semua faktor ini saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Pola pembinaan pelaku tindak pidana pencurian di Rumah Tahanan Negara Banyumas belum mencakup pembinaan kemandirian, hanya ada pembinaan kepribadian. Pembinaan kepribadian dan pelayanan hak narapidana sesuai peraturan. Namun, ada hambatan dari faktor kultur hukum, rendahnya kesadaran hukum narapidana, di mana narapidana kurang berpartisipasi dalam program yang telah disediakan oleh Rutan.
Karakteristik pelaku tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh warga binaan di Rutan Banyumas, jenis pencurian yang paling banyak terjadi adalah pencurian dengan pemberatan, pelakunya didominasi oleh kaum laki-laki dengan kisaran umur sudah dewasa, pelaku pendidikannya rendah yaitu sekolah dasar.Kebutuhan ekonomi yang kian meningkat, sehingga menjadi pemicu melakukan kejahatan.Faktor penyebab terjadinya tindak pidana pencurian disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal berkaitan dengan ekonomi, pendidikan, dan mental.Faktor ekternal berkaitan dengan hubungan sosial dalam keluarga, pergaulan atau pengaruh lingkungan masyarakat sekitarnya.Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dan saling mempengaruhi antar satu dengan yang lainnya.Pola pembinaan terhadap pelaku tindak pidana pencurian dan hambatan di Rumah Tahanan Negara Banyumas, belum ada pembinaan kemandirian, yang ada pembinaan kepribadian, yaitu memberikan pelayanan hak bagi narapidana kasus pencurian sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Pembinaan kepribadian berusaha membatu warga binaan agar menjadi pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab, memperbaiki ahlak dan perilaku serta meningkatkan kesadaran hukum, meninggalkan tindakan-tindakan kriminal yang pernah dilakukan.Hambatan dalam pembinaan tersebut yaitu dari faktor kultur hukum.Kesadaran hukum narapidana kurang berpartisipasi dalam program pembinaan kepribadian yang telah disediakan pihak Rutan.
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas program pembinaan kepribadian yang ada di Rutan Banyumas, dengan fokus pada indikator perubahan perilaku dan kesadaran hukum narapidana setelah mengikuti program. Kedua, penelitian dapat dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi narapidana dalam program pembinaan, sehingga dapat dirumuskan strategi yang lebih efektif untuk meningkatkan keterlibatan mereka. Ketiga, penting untuk meneliti potensi pengembangan program pembinaan kemandirian yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi narapidana, seperti pelatihan keterampilan kerja atau pengembangan usaha ekonomi produktif, guna mempersiapkan mereka untuk reintegrasi sosial setelah bebas. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, diharapkan dapat tercipta sistem pembinaan narapidana yang lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada aspek kepribadian, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas dari penjara, sehingga mengurangi potensi residivisme dan berkontribusi pada keamanan dan ketertiban masyarakat.
| File size | 353.8 KB |
| Pages | 13 |
| DMCA | Report |
Related /
PBSI UPRPBSI UPR Melalui studi kasus banjir di Parapat, artikel ini menunjukkan urgensi keterlibatan gereja dalam advokasi ekologi dan pendidikan lingkungan, serta pentingnyaMelalui studi kasus banjir di Parapat, artikel ini menunjukkan urgensi keterlibatan gereja dalam advokasi ekologi dan pendidikan lingkungan, serta pentingnya
IPBIPB Pengaturan arah pemanfaatan lahan, pemantauan berkala, serta pembangunan penghalang alami atau buatan sangat diperlukan, didukung penerapan pengelolaanPengaturan arah pemanfaatan lahan, pemantauan berkala, serta pembangunan penghalang alami atau buatan sangat diperlukan, didukung penerapan pengelolaan
DINASTIREVDINASTIREV Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindunganPenelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan
DCCKOTABUMIDCCKOTABUMI Sumber Alfaria Trijaya TBK Kotabumi dengan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) sehingga dapat membantu pihak PT. Sumber Alfaria Trijaya TBK KotabumiSumber Alfaria Trijaya TBK Kotabumi dengan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) sehingga dapat membantu pihak PT. Sumber Alfaria Trijaya TBK Kotabumi
DCCKOTABUMIDCCKOTABUMI Metode penelitian ini menggunakan data sekunder dari BNPD periode 2020-2025. Data diolah menggunakan Python melalui tahapan data wrangling, kemudian diMetode penelitian ini menggunakan data sekunder dari BNPD periode 2020-2025. Data diolah menggunakan Python melalui tahapan data wrangling, kemudian di
DCCKOTABUMIDCCKOTABUMI Rendahnya capaian literasi siswa Indonesia pada PISA 2022 (369 poin, peringkat ke-69 dari 80 negara) menunjukkan perlunya intervensi pembelajaran yangRendahnya capaian literasi siswa Indonesia pada PISA 2022 (369 poin, peringkat ke-69 dari 80 negara) menunjukkan perlunya intervensi pembelajaran yang
UPN VeteranUPN Veteran Partisipasi masyarakat memastikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal dan budaya, serta memperkuat kapasitas lokal dalam mengatasi tantangan lingkunganPartisipasi masyarakat memastikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal dan budaya, serta memperkuat kapasitas lokal dalam mengatasi tantangan lingkungan
UCYUCY Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur yang menganalisis laporan pemerintah, data bencana dari BPBD Tangerang Selatan, serta literatur akademisMetode yang digunakan adalah tinjauan literatur yang menganalisis laporan pemerintah, data bencana dari BPBD Tangerang Selatan, serta literatur akademis
Useful /
DINASTIREVDINASTIREV Pada jurnal ini, penulis memberikan rekomendasi mengenai reformasi pada kebijakan pertanahan yang ada pada IKN dengan tetap mementingkan kepentingan nasionalPada jurnal ini, penulis memberikan rekomendasi mengenai reformasi pada kebijakan pertanahan yang ada pada IKN dengan tetap mementingkan kepentingan nasional
DINASTIREVDINASTIREV Namun, dalam implementasinya, masih terdapat berbagai hambatan struktural dan kultural yang menghambat tegaknya independensi peradilan. KetergantunganNamun, dalam implementasinya, masih terdapat berbagai hambatan struktural dan kultural yang menghambat tegaknya independensi peradilan. Ketergantungan
STKIP PERSADASTKIP PERSADA Sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Indek saham yang digunakan dalam analisis ini adalah NYSE, Nasdaq, FTSE 100, SSEC, HANGSENG, Kopsi, STI,Sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Indek saham yang digunakan dalam analisis ini adalah NYSE, Nasdaq, FTSE 100, SSEC, HANGSENG, Kopsi, STI,
UPN VeteranUPN Veteran Hambatan utama adalah kurangnya pelatihan berkelanjutan, kelemahan koordinasi lintas lembaga, serta ketidakhadiran evaluasi partisipatif. Temuan ini menunjukkanHambatan utama adalah kurangnya pelatihan berkelanjutan, kelemahan koordinasi lintas lembaga, serta ketidakhadiran evaluasi partisipatif. Temuan ini menunjukkan