IAIN GORONTALOIAIN GORONTALO

Proceeding of Annual International Conference on Islamic EducationProceeding of Annual International Conference on Islamic Education

Studi ini bertujuan untuk membangun konstruksi sosial menurut Hamka di dalam Tafsir al-Azhar yang bercorak al-adabī al-ijtimāī dan melihat relevansi serta perbedaan konsep yang ditawarkan oleh Hamka dengan konsep rekonstruksi sosial yang ditawarkan oleh Peter L Berger. Studi ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan mengumpulkan dan menelaah semua aspek terkait tema. Artikel ini menunjukkan bahwa konsep realitas sosial masyarakat yang diusung oleh Peter L Berger dan Hamka mempunyai titik tekan yang sama bahwasanya pondasi terciptanya sebuah realitas sosial di masyarakat adalah sebuah individu dalam masyarakat. Peter L. Berger menawarkan konsep dalam teorinya ke dalam tiga hal yaitu eksternalisasi, objektivikasi, dan internalisasi. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini menunjukkan bahwasanya Hamka dalam upaya membangun konstruksi sosial di pendidikan keluarga lebih menekankan proses internalisasi sebagai dasar untuk merekonstruksi sendi-sendi sosial atau masyarakat yaitu individu itu sendiri.

Tafsir al-Azhar, yang bermula sebagai serangkaian kuliah subuh oleh Hamka di Masjid Al-Azhar pada tahun 1959, dinamai dari tempat kuliah tersebut, Masjid Agung Al-Azhar di Jakarta.Penataan interpretasi surah dalam tafsir ini mengikuti tartib utsmānī, dimulai dari Surah al-Fātiḥah dan diakhiri dengan Surah al-Nās, dengan pendekatan tahlīlī.Tafsir ini memiliki gaya sastra sosial (al-adabī al-ijtimāī) karena menggambarkan kondisi sosial dan politik pada masa Orde Lama.Dalam Tafsir al-Azhar, Hamka menekankan pentingnya meningkatkan masyarakat dan meratakan keadilan sosial dengan meningkatkan sendi utama, yaitu jiwa individu.Pandangan ini sejalan dengan teori Peter L.Berger dan pemikiran Yusuf Qardhawi tentang faktor-faktor yang memengaruhi perilaku moral.Hamka menginterpretasikan ayat-ayat tertentu, seperti dalam Surah al-Baqarah (2).177, untuk mengajarkan tata cara Islami terkait memohon-mohon dan pentingnya perbaikan jiwa.Hamkas fokus pada pembangunan jiwa dan konstruksi sosial dalam keluarga sejalan dengan konsep konstruksi sosial Berger.Dalam interpretasi ayat-ayat tertentu, Hamka menekankan peran penting keluarga dalam membentuk jiwa individu, melibatkan aspek pendidikan, pembiasaan, dan teladan orang tua.Internalisasi nilai-nilai positif dalam keluarga dianggap sebagai langkah pertama menuju eksternalisasi yang membentuk realitas sosial positif di masyarakat.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa arah penelitian lanjutan yang menarik untuk dieksplorasi. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk menginvestigasi bagaimana nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga, sebagaimana diuraikan dalam Tafsir al-Azhar, secara konkret memengaruhi pembentukan karakter anak-anak di era digital yang penuh dengan tantangan informasi. Hal ini dapat dilakukan dengan studi kualitatif yang mendalam terhadap keluarga-keluarga yang secara aktif menerapkan prinsip-prinsip pendidikan keluarga Islami. Kedua, penelitian komparatif dapat dilakukan untuk membandingkan pendekatan Hamka dalam membangun konstruksi sosial melalui pendidikan keluarga dengan pendekatan lain dari tokoh-tokoh pemikir Muslim lainnya, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Perbandingan ini dapat memberikan wawasan yang lebih kaya tentang berbagai strategi yang efektif dalam membentuk masyarakat yang berakhlak mulia. Ketiga, penelitian kuantitatif dapat dilakukan untuk mengukur dampak pendidikan keluarga Islami terhadap tingkat toleransi dan inklusi sosial di masyarakat. Penelitian ini dapat menggunakan survei atau metode kuantitatif lainnya untuk mengumpulkan data dari sampel representatif masyarakat, dan menganalisis hubungan antara variabel-variabel yang relevan. Dengan menggabungkan ketiga saran penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang peran penting pendidikan keluarga dalam membentuk masyarakat yang beradab dan harmonis, serta memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan program-program pendidikan keluarga yang efektif.

  1. #pai learning#pai learning
  2. #sosial positif#sosial positif
Read online
File size297.23 KB
Pages6
Short Linkhttps://juris.id/p-3s2
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test