PRISMAPRISMA

PRISMA FOODTECHPRISMA FOODTECH

Upaya pengembangan pemanfaatan anuwun melalui teknologi pasca panen dalam bentuk produk olahan maupun pengawetan sangat dibutuhkan untuk memperpanjang masa simpan serta menambah nilai ekonomis dari tanaman umbi anuwun. Salah satu bentuk pemanfaatan teknologi pasca panen yaitu pengolahan menjadi tepung anuwun, dimana dalam penerapan teknologi tersebut membutuhkan proses pengeringan. Alat pengering energi matahari yang digunakan dalam penelitian ini dilengkapi dengan pengumpul panas (kolektor) dan cerobong untuk menambah dan mempercepat aliran udara panas yang masuk ke dalam ruang pengering, serta mencegah proses pengeringan yang lambat sehingga mengakibatkan udara pengering menjadi jenuh. Selain itu, alat ini juga dilengkapi dengan penambahan tungku pemanas, sehingga tipe ini sering disebut sebagai alat pengering energi matahari metode hibrid. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Perubahan suhu udara pengering ditentukan dengan metode deskriptif dan dianalisa menggunakan grafik, Perubahan kadar air selama pengeringan, Perubahan laju pengeringan terhadap waktu, Perubahan laju pengeringan terhadap kadar air. Perubahan suhu pada saat proses pengeringan terjadi kelembaban udara ini dipengaruhi oleh suhu udara pada saat proses pengeringan berlangsung. Kelembapan udara menurun pada saat dipanaskan proses ini biasanya dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang mempengaruhi kelembapan serta suhu. Pada proses pengeringan berlangsung dapat dilihat bahwa kadar air yang ada pada umbi anuwun akan mengalami penurunan dalam waktu pengeringan selama 7 jam. Semakin lama waktu pengeringan maka kadar air akan semakin berkurang. Karakteristik pengeringan dari umbi anuwun secara keseluruhan menunjukan laju pengeringan terjadi dalam dua periode, yaitu laju pengeringan konstan dan kaju pengeringan menurun. Laju pengeringan pada bahan di rak 2 lebih besar di bandingkan rak 1. Disebabkan karena bahan yang ada di rak 2 lebih cepat mendapatkan aliran udara pengering.

Perubahan suhu pada saat proses pengeringan terjadi kelembaban udara ini dipengaruhi oleh suhu udara pada saat proses pengeringan berlangsung.Kelembapan udara menurun pada saat dipanaskan proses ini biasanya dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang mempengaruhi kelembapan serta suhu.Pada proses pengeringan berlangsung dapat dilihat bahwa kadar air yang ada pada umbi anuwun akan mengalami penurunan dalam waktu pengeringan selama 7 jam.Semakin lama waktu pengeringan maka kadar air akan semakin berkurang.Karakteristik pengeringan dari umbi anuwun secara keseluruhan menunjukan laju pengeringan terjadi dalam dua periode, yaitu laju pengeringan konstan dan kaju pengeringan menurun.Laju pengeringan pada bahan di rak 2 lebih besar di bandingkan rak 1.Disebabkan karena bahan yang ada di rak 2 lebih cepat mendapatkan aliran udara pengering.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi komparatif antara metode pengeringan hibrid dengan metode pengeringan tradisional (penjemuran) untuk mengetahui perbedaan efisiensi dan kualitas produk yang dihasilkan. Selain itu, penelitian dapat fokus pada pengembangan teknologi pengeringan hibrid yang lebih efisien dan ramah lingkungan, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti cuaca, kelembapan, dan suhu. Terakhir, studi tentang dampak penggunaan teknologi pengeringan hibrid terhadap kualitas gizi dan rasa produk anuwun juga dapat menjadi arah penelitian yang menarik.

  1. #jeruk nipis citrus#jeruk nipis citrus
  2. #suhu udara#suhu udara
Read online
File size627.72 KB
Pages6
Short Linkhttps://juris.id/p-30D
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test