IAIN PONOROGOIAIN PONOROGO

Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran IslamAl-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam

Artikel ini mengkaji transformasi Jamaah Tabligh di era digital dengan fokus pada negosiasi komunikasi ritual dalam ruang daring. Masalah utama yang diangkat adalah ketegangan antara ketergantungan tradisional kelompok ini pada khuruj atau perjalanan dakwah dan interaksi tatap muka dengan adopsi platform digital yang mengubah otoritas dan identitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis konten dakwah digital, observasi praktik di platform seperti YouTube, WhatsApp, dan Instagram, telaah kritis terhadap literatur sekunder, serta wawancara mendalam dengan sejumlah anggota Jamaah Tabligh. Konteks Indonesia dijadikan locus utama analisis dengan tetap memperhatikan dimensi transnasional untuk menempatkan praktik lokal dalam jejaring global. Temuan menunjukkan bahwa digitalisasi telah mendorong ekspresi keagamaan yang lebih personal, visual, dan partisipatif, sekaligus memicu fragmentasi identitas serta redistribusi otoritas dari senioritas menuju visibilitas algoritmik. Komunikasi ritual yang sebelumnya berpusat di markaz dan khuruj fisik kini berkembang melalui ceramah digital, podcast, dan kutipan visual, sehingga melahirkan bentuk kesalehan hibrid yang memadukan nilai Jamaah Tabligh dengan logika media sosial. Pergeseran ini tidak hanya menunjukkan resiliensi dan adaptasi, tetapi juga menghadirkan tantangan epistemologis berupa risiko penyederhanaan, eksklusi, dan perdebatan mengenai keaslian ajaran. Artikel ini menyimpulkan bahwa digitalisasi tidak sekadar menjadi sarana penyebaran dakwah, tetapi juga merekonstruksi struktur kesalehan, otoritas, dan identitas kolektif dalam Islam kontemporer di Indonesia. Implikasi kajian ini meluas pada perdebatan tentang agama digital dan sosiologi Islam transnasional, dengan menunjukkan bagaimana gerakan nonpolitik seperti Jamaah Tabligh merekalibrasi misi spiritualnya dalam masyarakat jaringan global.

Digitalisasi telah mengubah praktik dakwah Jamaah Tabligh dari bentuk tradisional berbasis khuruj dan bayaan tatap muka menjadi praktik hibrida yang dimediasi teknologi.Otoritas keagamaan bergeser dari berbasis sanad dan senioritas menuju visibilitas algoritmik, sementara ekspresi kesalehan menjadi lebih personal, visual, dan partisipatif.Perubahan ini menunjukkan ketahanan gerakan tradisional dalam beradaptasi, namun juga membawa tantangan epistemologis terkait keaslian ajaran, eksklusi, dan fragmentasi identitas dalam ruang digital.

Penelitian selanjutnya dapat menggali bagaimana generasi muda Jamaah Tabligh membangun identitas spiritual mereka melalui konten digital yang menggabungkan nilai tradisional dengan gaya komunikasi media sosial, seperti penggunaan meme atau video pendek, dan apakah bentuk ini justru memperkuat atau melemahkan kohesi komunitas. Selain itu, perlu diteliti bagaimana perempuan dalam gerakan ini, yang sebagian besar terbatas pada program masturah, dapat menjadi produsen konten digital yang otonom, dan apa dampaknya terhadap struktur otoritas yang selama ini didominasi laki-laki. Terakhir, penelitian bisa mengkaji apakah aplikasi internal seperti TJ Connect yang dirancang untuk mengontrol keaslian dakwah justru menciptakan jurang baru antara kelompok digital dan non-digital, dan bagaimana strategi verifikasi konten bisa dikembangkan secara kolaboratif dengan komunitas luar agar tidak terkesan eksklusif, sehingga memungkinkan dialog yang lebih inklusif tanpa mengorbankan integritas spiritual gerakan ini.

  1. Hyper-Islamism? Mediating Islam from the halal website to the Islamic talk show | Intellect. hyper islamism... intellectdiscover.com/content/journals/10.1386/jammr.1.3.199_1Hyper Islamism Mediating Islam from the halal website to the Islamic talk show Intellect hyper islamism intellectdiscover content journals 10 1386 jammr 1 3 199 1
  2. Full article: Islamic proselytizing in digital religion in Indonesia: the challenges of broadcasting... tandfonline.com/doi/full/10.1080/23311886.2024.2357460Full article Islamic proselytizing in digital religion in Indonesia the challenges of broadcasting tandfonline doi full 10 1080 23311886 2024 2357460
  3. The History of Jama‘ah Tabligh in Southeast Asia: The Role of Islamic Sufism in Islamic Revival... aljamiah.or.id/index.php/AJIS/article/view/88The History of JamaAoah Tabligh in Southeast Asia The Role of Islamic Sufism in Islamic Revival aljamiah index php AJIS article view 88
  4. Globalization and the Politics of Religious Knowledge - Peter Mandaville, 2007. politics religious knowledge... journals.sagepub.com/doi/10.1177/0263276407074998Globalization and the Politics of Religious Knowledge Peter Mandaville 2007 politics religious knowledge journals sagepub doi 10 1177 0263276407074998
  5. The Network Society Revisited - Manuel Castells, 2023. network society revisited manuel castells skip... journals.sagepub.com/doi/10.1177/00027642221092803The Network Society Revisited Manuel Castells 2023 network society revisited manuel castells skip journals sagepub doi 10 1177 00027642221092803
  1. #gaya komunikasi#gaya komunikasi
  2. #generasi muda#generasi muda
Read online
File size557.91 KB
Pages24
Short Linkhttps://juris.id/p-2YQ
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test