PDGIPDGI

Journal of Indonesian Dental AssociationJournal of Indonesian Dental Association

Pendahuluan: Jaringan gingiva memainkan peran penting dalam estetika senyum, terutama daerah anterior rahang atas. Gummy Smile (GS) merupakan kondisi gingiva yang tampak berlebih saat pasien tersenyum. Prevalensi kejadian gummy smile adalah 10% di usia populasi antara 20-30 tahun, lebih sering dialami wanita dan dapat menyebabkan masalah estetika. Etiologi gummy smile adalah multifaktorial. Pada artikel ini dibahas penatalaksanaan kasus gummy smile yang disebabkan oleh altered passive eruption (APE) atau gangguan erupsi pasif dan terkait dengan adanya perlekatan frenulum labialis tinggi dengan tujuan untuk mengeliminasi kondisi gummy smile dan memperbaiki profil senyum pasien. Studi Kasus: Pasien wanita usia 19 tahun datang dengan keluhan gusi yang tampak berlebih saat tersenyum. Kondisi tersebut menyebabkan rasa kurang percaya diri pada pasien. Diagnosa kasus gingiva sehat pada periodonsium yang intak dengan gummy smile akibat adanya gangguan erupsi pasif tipe I-B disertai adanya perlekatan frenulum labialis yang tinggi. Prosedur crown lengthening (CL) estetik dengan bedah flap dan ostektomi dengan frenotomi dilakukan secara simultan untum memperbaiki profil senyum pasien. Kesimpulan: Prosedur crown lengthening estetik dan frenotomi dapat dilakukan secara simultan untuk mengoreksi kondisi gummy smile dan memperbaiki profil senyum pasien. Pemeriksaan, penegakan diagnosa dan perencanaan perawatan yang tepat akan membantu memberikan hasil perawatan terbaik bagi pasien.

Prosedur crown lengthening estetika dan frenotomi dapat dilakukan secara simultan untuk mengoreksi kondisi gummy smile dan memperbaiki profil senyum pasien.Perencanaan perawatan yang tepat akan membantu memberikan hasil perawatan terbaik bagi pasien.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki berapa lama hasil estetika dan stabilitas jaringan setelah prosedur crown lengthening estetika dan frenotomi dilakukan secara simultan, misalnya dengan melakukan evaluasi klinis selama dua hingga lima tahun pada pasien dengan gummy smile yang serupa. Selain itu, diperlukan studi perbandingan antara teknik flap tradisional dan teknik flapless (misalnya menggunakan laser atau piezo) ketika kedua prosedur tersebut digabungkan, untuk menilai perbedaan tingkat nyeri, waktu pemulihan, dan keberhasilan estetika pada populasi yang lebih luas. Selanjutnya, penelitian dapat mengevaluasi kontribusi penggunaan perangkat simulasi digital dalam perencanaan operasi terhadap akurasi hasil klinis, dengan membandingkan kelompok yang direncanakan secara digital versus kelompok yang direncanakan secara konvensional, serta mengukur kepuasan pasien dan ketepatan penempatan margin gingiva. Ketiga arah penelitian ini diharapkan dapat memperkaya bukti ilmiah untuk meningkatkan prosedur rehabilitasi senyum serta memberikan pedoman klinis yang lebih tepat bagi praktisi. Penelitian juga dapat meneliti faktor psikososial terkait peningkatan kepercayaan diri pasien setelah perbaikan estetika senyum, dengan menggunakan kuesioner standar dan analisis longitudinal.

  1. Simultaneous Esthetic Crown Lengthening and Frenotomy Procedure for Smile Rejuvenation | Journal of Indonesian... doi.org/10.32793/jida.v5i2.857Simultaneous Esthetic Crown Lengthening and Frenotomy Procedure for Smile Rejuvenation Journal of Indonesian doi 10 32793 jida v5i2 857
  1. #crown lengthening#crown lengthening
  2. #kepuasan pasien#kepuasan pasien
Read online
File size867.1 KB
Pages7
Short Linkhttps://juris.id/p-2S9
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test