CASSRCASSR

Journal of Asian Social Science ResearchJournal of Asian Social Science Research

Telah diakui bahwa gerakan 212 tidak hanya menjadi kekuatan pendorong sosial-keagamaan tetapi juga politik di Indonesia kontemporer. Dalam pemilihan presiden 2019, kubu Islam konservatif yang memiliki kemarahan dan kebencian terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena dianggap tidak mampu menyelesaikan krisis dan cenderung mendiskriminasi Islam dan ulama, bersatu untuk memenangkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Berdasarkan penelitian lapangan kualitatif di beberapa wilayah Indonesia, artikel ini menganalisis penyebaran beberapa kelompok Islam dengan narasi dan diskursus besar mereka, serta keterlibatan mereka dalam kampanye Prabowo-Sandiaga, yang dianggap sebagai jalur cepat untuk membangun utopia ummah yang dibayangkan (komunitas Muslim yang bersatu). Dalam terang teori aktivisme Islam dan gerakan sosial, disimpulkan bahwa persilangan politik semacam itu adalah jenis aktivisme Islam dan gerakan sosial baru. Ini tidak hanya berakar pada pandangan konservatif Islam, tetapi juga pada ketidakpuasan dan perselisihan mereka terhadap kebijakan sosial dan ekonomi Jokowi. Gerakan sosial Islam jenis baru ini akan memengaruhi ranah agama dan politik Indonesia kontemporer.

Artikel ini menunjukkan bahwa perebutan kredensial Islam di kalangan elit kekuasaan Indonesia dalam pemilihan presiden 2019 mencerminkan kembalinya politik identitas aliran era 1950-an serta dinamika Islamisasi dan syariatasi yang sedang berlangsung di negara ini.Fenomena persilangan politik kelompok Islam konservatif ini didorong oleh tujuan Muslim yang sama, ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah, serta pemanfaatan luas jaringan daring dan luring untuk memobilisasi aktivisme, termasuk melalui jihad konstitusional.Oleh karena itu, penting bagi kelompok Islam moderat seperti Muhammadiyah dan NU untuk terus memperkuat otoritas dan kohesivitas mereka guna melawan kecenderungan konservatisme dan eksklusivisme yang berkembang, serta merumuskan narasi Islam yang lebih toleran dan progresif.

Mengingat temuan mengenai bangkitnya persilangan politik konservatisme Islam dan dampak polarisasi di kalangan moderat, penelitian selanjutnya sangat diperlukan untuk memperdalam pemahaman dan mencari solusi. Pertama, studi dapat berfokus pada analisis mendalam tentang bagaimana narasi Islam konservatif menyebar secara efektif di media sosial dan platform digital lainnya, serta strategi apa yang paling efektif bagi kelompok moderat untuk membangun dan menyebarkan kontra-narasi yang menarik bagi generasi muda Muslim. Ini bukan hanya tentang penyampaian pesan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut diterima dan diinternalisasi oleh audiens yang beragam. Kedua, mengingat bahwa ketidakpuasan terhadap kebijakan sosial-ekonomi pemerintah menjadi pendorong penting, penelitian selanjutnya bisa mengidentifikasi secara spesifik faktor-faktor ekonomi dan sosial apa yang paling memicu sentimen konservatisme politik, dan bagaimana intervensi kebijakan yang tepat dapat mengurangi pemicu tersebut tanpa mengorbankan nilai-nilai pluralisme. Ketiga, untuk mengatasi perpecahan di dalam kelompok moderat itu sendiri, perlu dilakukan studi komparatif mengenai praktik-praktik terbaik dalam membangun kohesi internal dan lintas organisasi, misalnya dengan mengkaji keberhasilan aliansi lokal atau inisiatif dialog antar-organisasi yang dapat direplikasi secara nasional. Dengan demikian, kita dapat menemukan cara-cara konkret untuk memperkuat pondasi Islam moderat di Indonesia agar tetap relevan dan berdaya.

  1. #muslim women#muslim women
  2. #politik identitas#politik identitas
Read online
File size398.75 KB
Pages26
Short Linkhttps://juris.id/p-2QK
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test