DIGLOSIA UNMULDIGLOSIA UNMUL

Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan PengajarannyaDiglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya

Bahasa memang tidak bisa dipisahkan dari budaya. Bahkan, bahasa merupakan ekspresi budaya suatu bangsa. Budaya agraris dalam bahasa Indonesia sudah mengalami internalisasi sehingga melahirkan berbagai kata dan frasa baru. Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa kata dan frasa yang merupakan idiom dalam bahasa Indonesia dengan proses internalisasi budaya agraris. Kata dan frasa dari budaya agraris tersebut dapat ditemukan dalam istilah pertanian, misalnya lahan basah, membanting tulang, memeras keringat, panen, mencairkan, dan lain-lain. Kata dan frasa tersebut telah membaur dalam benak masyarakat dan mengekspresikan budaya sehari-hari. Entah siapa yang memulai dan dari mana munculnya. Akan tetapi, masyarakat pengguna bahasa Indonesia telah menerima istilah-istilah tersebut sebagai warisan budaya nenek moyang. Memahami idiom sepertinya sulit jika hanya memahami makna konvensi dari para penutur bahasa Indonesia. Beban semantik yang terkandung dalam konsep idiom terlalu panjang rantai turunannya. Oleh karena itu, tulisan ini menjembatani pemakai bahasa Indonesia untuk memahami konsep idiom bahasa Indonesia yang merupakan internalisasi dari budaya agraris masyarakat Indonesia sendiri.

Penelitian ini menunjukkan bahwa banyak kata dan frasa idiom dalam bahasa Indonesia merupakan internalisasi dari budaya agraris, meskipun hanya tujuh contoh yang dianalisis.Memahami idiom ini menjadi tantangan jika hanya mengandalkan makna konvensional karena rantai semantiknya yang panjang.Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk membantu pemakai bahasa Indonesia memahami konsep idiom tersebut sebagai bagian dari budaya agraris.

Penelitian selanjutnya dapat memperluas cakupan studi idiom bahasa Indonesia tidak hanya terbatas pada budaya agraris, melainkan juga menggali internalisasi budaya-budaya lain yang turut membentuk kekayaan leksikon bangsa. Misalnya, bagaimana budaya maritim, perdagangan tradisional, atau bahkan budaya digital modern, telah melahirkan atau memodifikasi idiom-idiom yang digunakan sehari-hari. Dengan demikian, kita dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kontribusi beragam aspek kebudayaan dalam pembentukan makna idiomatik. Selain itu, diperlukan kajian lebih mendalam menggunakan kerangka teori linguistik kognitif untuk menganalisis secara sistematis pola-pola metafora konseptual yang mendasari pembentukan idiom-idiom tersebut. Pendekatan ini akan membantu mengungkap bagaimana konsep-konsep abstrak dipahami dan diekspresikan melalui pengalaman konkret, serta bagaimana rantai turunan semantik yang kompleks dapat dipetakan dengan lebih jelas. Hal ini akan memperkaya pemahaman kita tidak hanya tentang makna idiom, tetapi juga tentang cara berpikir masyarakat Indonesia. Terakhir, penelitian masa depan juga dapat menyelidiki variasi penggunaan dan pemahaman idiom-idiom ini di kalangan masyarakat Indonesia dari berbagai kelompok usia dan latar belakang geografis. Apakah idiom-idiom yang berakar pada budaya agraris masih dipahami secara utuh oleh generasi muda di perkotaan, ataukah maknanya telah mengalami pergeseran atau bahkan terlupakan? Studi sosiolinguistik semacam ini akan memberikan wawasan berharga tentang dinamika bahasa dalam menghadapi perubahan sosial dan budaya, serta potensi vitalitas atau kepunahan idiom-idiom tertentu.

  1. #budaya agraris#budaya agraris
Read online
File size152.4 KB
Pages8
Short Linkhttps://juris.id/p-22Z
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test