TYARLYTATYARLYTA

JURNAL BIOSAINSTEKJURNAL BIOSAINSTEK

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Perikanan, Program Studi Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara dengan tujuan untuk mengetahui tingkat penurunan suhu tubuh ikan, mutu organoleptik dan perbandingan konsentrasi campuran es dan garam yang terbaik dalam usaha penanganan. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, yang ditampilkan dalam bentuk grafik. Selanjutnya penggunaan analisis kuantitatif berupa uji mutu organoleptik dan analisis rancangan acak lengkap terhadap . Hasil penelitian didapat bahwa penurunan suhu tubuh ikan pada masing-masing perlakuan A1, A2 dan A3 masing-masing adalah 11,3 °C, 28,5 °C dan 18,8 °C, mutu organoleptik ikan kakap untuk mata, insang, lendir, bau dan tekstur untuk perlakuan A1 masing-masing adalah 6,8; 6,2; 7,0; 7,0 dan 7,8, untuk perlakuan A2 masing-masing adalah 6,1; 5,8; 6,8; 6,0 dan 7,2, sedangkan untuk perlakuan A3 masing-masing adalah 6,6; 6,4; 7,0; 6,4 dan 7,8, dan perbandingan konsentrasi es dan garam terbaik berdasarkan metode Bayes adalah A1 (es 100% dan garam 0%) serta A3 (es 75% dan garam 25%).

Penurunan suhu tubuh ikan paling rendah terjadi pada perlakuan A2, namun perlakuan tersebut menghasilkan mutu organoleptik yang lebih rendah dibandingkan A1 dan A3.Berdasarkan analisis metode Bayes, perlakuan A1 (es 100%) dan A3 (es 75% garam 25%) merupakan kombinasi pendingin terbaik dalam mempertahankan kualitas ikan kakap selama penyimpanan lima jam.Penggunaan campuran es dan garam tidak secara signifikan memperbaiki semua parameter mutu, sehingga perlakuan A1 dan A3 direkomendasikan sebagai metode pendinginan yang efektif untuk nelayan.

Pertama, perlu penelitian lanjutan untuk menguji mutu mikrobiologi ikan kakap menggunakan perlakuan A1, A2, dan A3 guna mengetahui pengaruh campuran es dan garam terhadap pertumbuhan bakteri selama penyimpanan. Kedua, dapat dikembangkan studi tentang efektivitas campuran es dan garam pada jenis ikan demersal lainnya seperti ikan kerapu atau ikan laut dalam, untuk melihat apakah hasilnya konsisten di luar spesies kakap. Ketiga, penting untuk mengevaluasi kinerja sistem pendingin berbasis es dan garam dalam kondisi nyata di atas kapal nelayan tradisional, termasuk durasi penyimpanan lebih dari lima jam dan pengaruhnya terhadap ekonomi nelayan, sehingga diperoleh gambaran lengkap tentang penerapan praktis metode ini di lapangan.

Read online
File size1.36 MB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test