SCIENTICSCIENTIC

SCIENASCIENA

Tromboemboli vena (TEV) merupakan komplikasi serius yang dapat terjadi selama kehamilan dan masa nifas. Kehamilan secara fisiologis menciptakan keadaan hiperkoagulabel akibat perubahan hemostasis, termasuk peningkatan faktor koagulasi dan penurunan aktivitas fibrinolitik. Kondisi ini meningkatkan risiko TEV sekitar 4–5 kali lipat dibandingkan populasi non-hamil, dengan insidensi tertinggi terjadi pada 6 minggu pertama pascapersalinan. Secara global, kejadian TEV diperkirakan mencapai 1–2 kasus per 1.000 kehamilan. Risiko meningkat signifikan pada wanita dengan trombofilia, riwayat TEV sebelumnya, imobilisasi, obesitas, kehamilan ganda, atau pasca tindakan pembedahan. Antikoagulan merupakan terapi utama untuk pencegahan dan penatalaksanaan TEV dalam kehamilan. Heparin tidak terfraksinasi (UFH) dan low molecular weight heparin (LMWH) merupakan pilihan yang aman karena tidak melintasi plasenta, dengan LMWH lebih disukai karena profil farmakokinetiknya yang stabil dan risiko efek samping lebih rendah. Sebaliknya, warfarin bersifat teratogenik dan DOACs belum direkomendasikan karena keterbatasan data keamanan. Penulisan tinjauan pustaka ini bertujuan memberikan gambaran komprehensif mengenai epidemiologi, faktor risiko, serta prinsip pemilihan dan pemberian antikoagulan selama kehamilan, untuk mendukung pengambilan keputusan klinis yang tepat.

Kehamilan merupakan kondisi fisiologis yang menimbulkan keadaan hiperkoagulabel.Risiko tromboemboli vena meningkat sekitar 4–5 kali dibandingkan populasi non-hamil, dengan puncak insidens terjadi pada masa nifas (terutama 6 minggu pertama postpartum).Faktor risiko berupa trombofilia (kongenital atau didapat), riwayat tromboemboli vena sebelumnya, riwayat pembedahan, indeks massa tubuh tinggi (≥30 kg/m²), serta kehamilan kembar, kemungkinan semakin meningkatkan terjadinya tromboemboli vena selama pascapersalinan.Unfractionated heparin (UFH) dan low molecular weight heparin (LMWH) merupakan terapi lini pertama.LMWH lebih disukai karena profil farmakokinetik yang lebih stabil, risiko trombositopenia dan osteoporosis lebih rendah, serta pemberian yang lebih praktis.Pemilihan obat dan dosis antikoagulan disesuaikan dengan kondisi ibu serta rencana persalinan.Antikoagulan dihentikan atau disesuaikan menjelang persalinan untuk mengurangi risiko perdarahan anestesi neuraksial.Warfarin dan DOACs tidak direkomendasikan untuk kehamilan.Warfarin bersifat teratogenik, terutama pada trimester pertama, dan dapat menyebabkan perdarahan janin.Direct oral anticoagulants (DOACs), seperti rivaroxaban dan dabigatran, tidak direkomendasikan karena data keamanan yang terbatas dan potensi transfer ke janin.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi kohort nasional yang lebih besar untuk mengonfirmasi angka insidensi tromboemboli vena selama kehamilan dan masa nifas di Indonesia. Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi faktor-faktor risiko spesifik yang terkait dengan tromboemboli vena pada populasi wanita hamil di Indonesia, termasuk faktor-faktor genetik, lingkungan, dan perilaku. Penelitian juga dapat dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas dan keamanan penggunaan antikoagulan selama kehamilan, khususnya LMWH, dan untuk menentukan strategi pemberian yang optimal untuk mengurangi risiko tromboemboli vena tanpa meningkatkan risiko perdarahan. Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi peran dan efektivitas tromboprofilaksis pada wanita hamil dengan faktor risiko tromboemboli vena, termasuk wanita dengan trombofilia atau riwayat tromboemboli vena sebelumnya.

Read online
File size615.15 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test