CALAMUSCALAMUS

EDUTIKEDUTIK

Bendung Talawaan di Sungai Talawaan, Kabupaten Minahasa Utara, mengalami masalah sedimentasi yang menurunkan kapasitas tampung kolam olak dan mengganggu fungsi intake. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik butiran sedimen dasar di area bendung serta mengidentifikasi indikasi sumber sedimen yang berkontribusi terhadap penumpukan. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling pada sembilan titik yang tersebar secara longitudinal (hulu, tengah, hilir) dan lateral (kiri, tengah, kanan). Analisis ukuran butir menggunakan metode analisis saringan sesuai SNI 3423:2008, dilanjutkan perhitungan diameter karakteristik (D10–D90), koefisien gradasi (Cu dan Cc), serta parameter statistik Folk dan Ward (1957). Hasil menunjukkan terjadinya fenomena downstream fining, yaitu pengecilan ukuran butir searah aliran dari pasir sangat kasar–kerikil halus di hulu menjadi pasir sedang–halus di hilir, yang dipicu efek air balik bendung. Sedimen di depan intake tergolong gradasi buruk terputus, sedangkan sisi dalam belokan menjadi zona mati dengan akumulasi pasir halus tersortir baik. Indeks pemilahan buruk di segmen tengah mengindikasikan pasokan sedimen antropogenik dari penambangan pasir, Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), dan alih fungsi lahan. Disimpulkan bahwa sedimentasi bendung dipasok secara simultan oleh sumber alami lereng Gunung Klabat dan sumber antropogenik, sehingga diperlukan pembilasan hidraulis berkala, pengerukan, dan pengendalian aktivitas DAS.

Hasil analisis saringan terhadap 9 sampel bed load Sungai Talawaan membuktikan secara fisis terjadinya fenomena downstream fining (pengecilan ukuran butir searah aliran) akibat efek air balik Bendung Talawaan.Sisi kiri sungai (area intake) menunjukkan gradasi buruk terputus (gap-graded) yang didominasi pasir sedang dengan pola penghalusan longitudinal ideal.sisi kanan (sisi dalam belokan) mengalami akumulasi pasir halus berpola leptokurtic sebagai zona mati.sedangkan as sungai (thalweg) mempertahankan pasir kasar berpola platykurtic karena pembilasan kontinu debit harian.Diameter median menurun dari 2,07–2,37 mm di hulu menjadi 0,33–0,79 mm di hilir.Akumulasi sedimen di Bendung Talawaan dipasok secara simultan oleh dua klaster sumber, yaitu sumber internal alami berupa pecahan batuan volkanik lereng Gunung Klabat (terindikasi well-graded gravel pada Hulu Tengah dengan Cu = 5,02 dan Cc = 2,40) dan sumber eksternal antropogenik (terindikasi sortasi buruk σI = 1,17–1,37 di segmen tengah) yang berasal dari penambangan pasir Galian C, tailing PETI, dan alih fungsi lahan.Untuk menjaga keberlanjutan fungsi layanan bendung diperlukan pembilasan hidraulis berkala, pengerukan zona transisi, dan pengendalian aktivitas DAS secara terpadu.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan studi lebih mendalam tentang dampak sedimentasi pada kinerja bendung secara keseluruhan. Studi ini dapat mencakup analisis dampak sedimentasi pada aliran air, kapasitas tampung, dan kinerja operasional bendung. Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi strategi pengelolaan sedimentasi yang efektif, termasuk metode pengerukan dan pengendalian aktivitas DAS. Studi ini dapat mencakup analisis biaya-manfaat dan dampak lingkungan dari berbagai strategi pengelolaan sedimentasi. Terakhir, penelitian dapat dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas pembilasan hidraulis berkala dan pengerukan mekanis dalam mengurangi akumulasi sedimen di bendung. Studi ini dapat mencakup analisis frekuensi dan intensitas pembilasan, serta dampak jangka panjangnya terhadap kinerja bendung.

Read online
File size948.62 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test