UKIMUKIM

MARINYO: Jurnal Teologi KontekstualMARINYO: Jurnal Teologi Kontekstual

Banyak bahasa daerah, yang merupakan bagian integral dari identitas masyarakat lokal, menghadapi ancaman kepunahan akibat perkembangan zaman dan ketidakmampuan bersaing dengan bahasa nasional dan internasional. Hal ini juga yang sedang terjadi pada bahasa Wemale di Maluku. Fenomena ini kontradiktif dengan peristiwa Pentakosta, di mana bahasa dijadikan oleh Allah sebagai medium komunikasi universal untuk mengatasi perbedaan, sehingga kabar keselamatan Kristus dapat menjangkau seluruh suku bangsa. Melalui pendekatan teologi kontekstual, penulisan ini bertujuan untuk memberikan pertimbangan teologis, sekaligus rekomendasi kebijakan bagi pihak gereja dan pemerintah desa terkait revitalisasi bahasa Wemale sebagai upaya pelestarian bahasa daerah. Upaya revitalisasi yang diusulkan adalah melalui metode revitalisasi yaitu suatu strategi untuk menggalakkan kembali penggunaan bahasa Wemale dengan mengoptimalkan peran sentral keluarga, pemerintah desa, dan lembaga gereja.

Bahasa Wemale adalah salah satu bahasa daerah di Maluku yang terancam punah.Sebagai salah satu dari identitas budaya suku, upaya revitalisasi menjadi sangat penting.Revitalisasi ini didasarkan pada kesadaran tentang karya Roh Kudus yang menghargai bahasa dan menjadikannya sarana pemersatu bangsa-bangsa.Pentakosta bukan merupakan sebuah karya Allah yang hendak menyeragamkan manusia dalam satu bahasa tapi menghormati dan menghargai keragaman bahasa di bumi.Dengan demikian, usaha revitalisasi sebagai pendukung revitalisasi bahasa harus dilakukan sebagai sarana pengucapan syukur dan penghargaan kepada Allah.Revitalisasi menjadi berhasil, bila seluruh lembaga dalam masyarakat baik pemerintah maupun lembaga keagamaan berjuang bersama dalam mencegah kepunahan bahasa tersebut.Pemerintah dan gereja harus membangun paradigma tentang pentingnya budaya sebagai identitas suku.Paradigma ini harus didorong menjadi daya hidup generasi muda sebagai pewaris identitas budaya Suku Wemale.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan aplikasi digital berbasis bahasa Wemale untuk generasi muda, seperti platform pembelajaran interaktif atau media sosial yang mengintegrasikan bahasa daerah dengan teknologi. Selain itu, perlu dilakukan kajian tentang peran lembaga pendidikan dalam menyusun kurikulum multilingual yang memadukan bahasa Wemale dengan bahasa nasional, serta evaluasi dampak politik bahasa nasional terhadap identitas budaya lokal. Terakhir, penelitian bisa mengeksplorasi kolaborasi antara gereja dan komunitas adat dalam menciptakan konten budaya yang memperkuat penggunaan bahasa Wemale melalui seni, musik, dan cerita rakyat.

Read online
File size478.66 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test