UBUB

Studi Budaya NusantaraStudi Budaya Nusantara

Sejumlah penelitian telah membahas perawatan lansia, namun sebagian besar narasi cenderung menempatkan lansia sebagai pihak yang bergantung pada keluarga, terutama anak. Pendekatan ini sering kali mengabaikan kompleksitas pengalaman, tantangan, serta strategi adaptasi yang dijalani lansia dalam menghadapi kerentanan. Oleh karena itu, tulisan ini mengajukan tiga pertanyaan utama: bagaimana lansia bertransformasi dan bertahan dalam kondisi rentan? Sejauh mana mereka dapat bergantung pada anak? Dan apa yang terjadi lagi memungkinkan? Penelitian ini mengkaji pengalaman lansia di Desa Gotong, Jawa Tengah, dengan menyoroti dinamika perawatan dan proses transisi dalam kehidupan mereka. Analisis menggunakan kerangka liminalitas dari Viktor Turner, yang membagi proses transisi ke dalam tiga fase: pra-liminal, liminal, dan pasca-liminal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fase pra-liminal ditandai oleh pelepasan lansia dari peran dan relasi sosial sebelumnya. Pada fase liminal, lansia mengalami ambiguitas, termasuk ketidakjelasan peran sosial, negosiasi antara perawatan formal dan informal, serta ketidakpastian terhadap masa depan. Fase ini memperlihatkan bagaimana lansia berada dalam posisi yang rentan namun juga aktif dalam menavigasi perubahan hidup mereka. Sementara itu, pada fase pasca-liminal, lansia memasuki tahap reintegrasi dalam kondisi baru, yang sering kali terkait dengan nilai-nilai budaya, termasuk penerimaan diri terhadap perubahan yang terjadi. Dengan demikian, pengalaman lansia tidak dapat dipahami semata sebagai ketergantungan, melainkan sebagai proses dinamis yang melibatkan negosiasi, adaptasi, dan pembentukan makna dalam menghadapi kerentanan.

Lansia di Desa Gotong mengalami transformasi dalam tiga fase utama.Fase liminal ditandai oleh perubahan fungsi fisik dan sosial lansia dalam keluarga dan masyarakat.Selain itu, lansia menghadapi tantangan seperti ketidakjelasan peran, dilema perawatan formal dan informal, serta rasa takut terhadap ketidakpastian.Lansia cenderung memilih perawatan informal, yaitu bantuan dari anak atau kerabat.Pentingnya peran anak dalam memperkuat hubungan antara orang tua dan anak serta pentingnya komunitas yang solid dan keluarga yang harmonis dalam memberikan perawatan berkualitas.Anggota keluarga dekat lebih memahami kebutuhan orang tua, tetapi tidak semua keluarga memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memberikan perawatan yang baik.Selain itu, konflik internal dalam keluarga juga memengaruhi hubungan tersebut.Namun, tetap ada lansia yang bergantung pada anak dalam tingkat tertentu.Anak-anak yang pindah atau terpisah dari orang tua memiliki peluang untuk hidup mandiri.Lansia yang rentan sering kali bergantung dan mengharapkan perawatan dari anak dan kerabat.Sayangnya, dukungan anak biasanya hanya mencakup kebutuhan material.Perawatan yang diberikan anak juga harus memenuhi kebutuhan psikologis dan emosional lansia.Kondisi ini menuntut kemandirian yang lebih tinggi di kalangan lansia, terutama dalam melakukan tugas sehari-hari yang semakin sulit karena menurunnya kemampuan fisik.Lansia seringkali meminta bantuan dari jaringan tetangga ketika mengalami kesulitan menghubungi anak.Hal ini juga menunjukkan bahwa penguatan hubungan antara orang tua dan anak selama masa konsolidasi keluarga tidak selalu berfungsi optimal.Alternatifnya, lansia dapat bertahan dengan mematuhi prinsip Jawa tentang penerimaan diri.Secara umum, ada banyak tantangan dan kompleksitas yang nyata, yang menyimpang secara signifikan dari standar ideal.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada perbandingan model perawatan lansia antara masyarakat tradisional dan modern untuk memahami dampak urbanisasi terhadap dinamika perawatan. Kedua, studi tentang peran nilai budaya lokal dalam membentuk respons lansia terhadap kerentanan, khususnya dalam konteks Jawa yang berbeda dari daerah lain. Ketiga, penelitian mengenai potensi teknologi digital dalam mendukung kemandirian lansia, seperti aplikasi pendampingan atau sistem perawatan berbasis AI yang dapat mengurangi ketergantungan pada keluarga secara berlebihan.

  1. "“Narimo ing Pandum”" by Wasisto Raharjo Jati. narimo ing pandum wasisto raharjo... doi.org/10.7454/MJS.v28i1.13558AuNarimo ing PandumAy by Wasisto Raharjo Jati narimo ing pandum wasisto raharjo doi 10 7454 MJS v28i1 13558
Read online
File size243.95 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test