UNYUNY

Sungging: Journal of Innovative, Cultural, Transdisciplinary Art and Kriya DiscourseSungging: Journal of Innovative, Cultural, Transdisciplinary Art and Kriya Discourse

Pendidikan seni rupa di Indonesia saat ini berada pada titik balik penting, menghadapi tantangan paradigmatik di era disrupsi. Tuntutan untuk menghasilkan lulusan yang mampu merespons kompleksitas masalah kontemporer semakin mendesak, khususnya dalam hal berpikir interdisiplin dan integratif. Perubahan ini didorong oleh beberapa faktor kunci, termasuk revolusi digital yang mengaburkan batas-batas tradisional antara seni, teknologi, dan sains. Selain itu, terdapat tuntutan pasar kerja yang semakin membutuhkan lulusan untuk menjadi sosok adaptif dan solutif. Dunia seni kontemporer kini tidak lagi dapat dipisahkan dari isu-isu global, seperti keberlanjutan lingkungan, inklusi sosial, dan transformasi budaya digital. Kondisi ini menuntut tidak hanya institusi pendidikan seni untuk mempertahankan ciri khas di bidang artistik, tetapi juga bersedia membuka diri terhadap kolaborasi dengan disiplin ilmu lain seperti psikologi, ilmu komputer, sosiologi, dan studi lingkungan.

Penelitian ini menelaah implementasi pendekatan interdisiplin dan transdisiplin di Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Universitas X.Pendekatan ini dipilih sebagai respons terhadap kebutuhan pembelajaran yang lebih kontekstual dan holistik untuk menjawab kompleksitas permasalahan dunia nyata di era kontemporer.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga narasumber telah menerapkan pendekatan interdisiplin dalam kegiatan pembelajaran, seperti integrasi seni dengan ekonomi (target pasar), keterlibatan kimia (warna pada Batik), budaya, teknologi, dan materi pembelajaran dengan ilmu bidang lain.Sementara itu, pendekatan transdisiplin masih belum diterapkan secara maksimal karena keterbatasan logistik, serta sulitnya mencari dan berhubungan dengan mitra luar.Tantangan utama yang dihadapi dalam penerapan pendekatan interdisiplin dan transdisiplin bersumber dari mahasiswa, dosen, hingga aspek eksternal.Mahasiswa masih kurang memiliki kesadaran untuk melakukan riset dan kemampuan literasi yang memadai.Sementara tantangan dari dosen, yaitu keterbatasan sebagai pengajar baik dari sisi motivasi, waktu, urusan administratif, serta kurangnya dukungan dan dorongan dari kurikulum yang ada.Dari aspek eksternal, adanya faktor persaingan dengan prodi lain dan belum tersedianya desain kurikulum yang mendorong secara eksplisit untuk mendukung kolaborasi interdisiplin.Strategi yang digunakan oleh ketiga narasumber untuk mengatasi tantangan tersebut meliputi pemberian tema kompleks dan mendorong riset lapangan lintas sektor, penerapan metode Project-Based Learning (PBL) dan Design Thinking yang mencerminkan prinsip dalam pendidikan STEAM.Dengan demikian, strategi tersebut akan sejalan dengan arah perkembangan pendidikan global yang menekankan pentingnya kerja sama antarbidang ilmu, kreativitas, dan pemecahan masalah secara inovatif.Evaluasi keberhasilan penerapan pendekatan interdisiplin dan transdisiplin dalam pembelajaran dilakukan secara variatif dan masih bersifat subjektif, seperti mencakup aspek teknis (visual) dan konseptual (nilai) sesuai tujuan karya meskipun instrumennya belum seformal pendidikan murni, diadakannya pameran sebagai bentuk evaluasi, serta dosen dapat menyesuaikan kriteria jika kurikulum masih lemah.Penelitian ini merekomendasikan pengembangan kurikulum yang fleksibel, pelatihan pengelolaan pembelajaran interdisiplin, serta menguatkan mitra jejaring eksternal.Penelitian ini juga dapat menjadi dasar evaluasi dan pengembangan pendidikan seni rupa di Indonesia agar tetap relevan dengan perkembangan global yang menuntut kolaborasi, inovasi, dan pemecahan masalah dalam konteks kehidupan nyata.

Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan:. . 1. Mengembangkan kurikulum fleksibel yang mendukung pendekatan interdisiplin dan transdisiplin dalam pendidikan seni rupa. Kurikulum yang fleksibel dapat mengakomodasi berbagai disiplin ilmu dan mendorong kolaborasi lintas bidang. Penelitian ini dapat berfokus pada desain kurikulum yang inovatif, dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar kerja dan tantangan global saat ini.. . 2. Melakukan pelatihan intensif bagi dosen dalam pengelolaan pembelajaran interdisiplin. Penelitian ini dapat mengeksplorasi strategi-strategi efektif dalam menerapkan pendekatan interdisiplin, termasuk pemberian tema kompleks, riset lapangan lintas sektor, dan penggunaan metode Project-Based Learning (PBL) dan Design Thinking. Penelitian ini juga dapat mengevaluasi dampak dari pelatihan tersebut terhadap kualitas pembelajaran dan pengalaman belajar mahasiswa.. . 3. Menguatkan mitra jejaring eksternal untuk mendukung kolaborasi interdisiplin dalam pendidikan seni rupa. Penelitian ini dapat mengidentifikasi dan menganalisis berbagai mitra potensial, seperti institusi penelitian, industri kreatif, atau organisasi masyarakat, yang dapat terlibat dalam kolaborasi interdisiplin. Penelitian ini juga dapat mengeksplorasi strategi-strategi untuk membangun dan mempertahankan jejaring tersebut, serta mengukur dampak kolaborasi terhadap kualitas pembelajaran dan relevansi pendidikan seni rupa dengan tantangan global.

Read online
File size631.41 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test