SARI MUTIARASARI MUTIARA

JURNAL HEALTH REPRODUCTIVEJURNAL HEALTH REPRODUCTIVE

Latar belakang: Berdasarkan hasil survei awal dari data rekam medik yang dilakukan di wilayah kerja Klinik Pratama Matahar, ditemukan bahwa pada tahun 2025 terdapat 1.259 pasangan usia subur yang menjadi pengguna jasa keluarga berencana. Data yang diperoleh dari hasil rekam medik menunjukkan bahwa sebanyak 168 orang pasangan usia subur menjadi akseptor keluarga berencana. Dari jumlah tersebut, ada 10 orang yang menggunakan kondom, 30 orang menggunakan pil, 41 orang menggunakan suntik, 4 orang menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim, 78 orang menggunakan implan, dan 2 orang menggunakan metode operasi wanita. Tidak ada yang menggunakan metode operasi pria. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti pengetahuan, usia, tingkat pendidikan, dan dukungan dari keluarga. Tujuan: Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang memengaruhi keikutsertaan pasangan usia subur menjadi pengguna alat kontrasepsi di wilayah kerja Klinik Pratam Matahari tahun 2026. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Hasil: Jumlah responden PUS yang didukung oleh keluarga untuk menjadi akseptor KB ada 28 responden, dan yang tidak didukung ada 34 responden, didapatkan dukungan keluarga pasangan usia subur (PUS) didukung 25,8% keikutsertaan menjadi akseptor aktif dan 19,4% keikutsertaan menjadi akseptor tidak aktif, dukungan keluarga PUS tidak 12,9% menjadi akseptor aktif dan 41.9% keikutsertaan menjadi akseptor tidak aktif. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian pada 62 responden PUS faktor-faktor yang mempengaruhi keikutsertaan pus menjadi akseptor keluarga berencana (KB) di wilayah kerja tidak terdapat pngruh faktor tingkat umur, sedangkan faktor tingkat pendidikan, dukungan keluarga, dan tingkat pengetahuan berpegaruh terhadap keikutsertaan PUS akseptor KB.

Berdasarkan penelitian pada 62 responden PUS, faktor-faktor yang mempengaruhi keikutsertaan pasangan usia subur (PUS) menjadi akseptor keluarga berencana (KB) di wilayah kerja tidak terdapat pengaruh faktor tingkat umur, sedangkan faktor tingkat pendidikan, dukungan keluarga, dan tingkat pengetahuan berpengaruh terhadap keikutsertaan PUS sebagai akseptor KB.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada evaluasi efektivitas program pendidikan kesehatan reproduksi berbasis komunitas untuk meningkatkan pengetahuan tentang kontrasepsi. Selanjutnya, penelitian bisa mengkaji peran pemimpin masyarakat dalam memfasilitasi akses informasi KB kepada pasangan usia subur. Terakhir, studi lanjutan dapat membandingkan tingkat partisipasi penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (seperti implan atau IUD) antara kelompok usia 20-35 tahun dan di atas 35 tahun untuk menemukan strategi promosi yang lebih tepat.

Read online
File size443.52 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test