UMSUMS

Forum GeografiForum Geografi

Kombinasi teknologi geospasial dan bukti lapangan memainkan peran penting. Hal ini telah menjadi sistem informasi fundamental untuk setiap basis data terkait bencana, seperti peta pada tingkat lokal dan regional. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kondisi geomorfologis Gunung Semeru setelah letusan tahun 2021 dan mengidentifikasi area aliran lahar yang dipicu hujan berdasarkan kondisi geomorfologis. Kami menggunakan penginderaan jauh, sistem informasi geografis, dan survei lapangan. Faktor-faktor seperti kondisi morfologi, arah aliran lava, granularitas, dan ketebalan digunakan untuk memprediksi zona bahaya sekunder. Hasil penelitian menemukan bahwa proses erosi dan sedimentasi bahan lahar yang dipicu hujan mendominasi 32 landform dari analisis geomorfologis dalam area penelitian. Bahan-bahan tersebut tersebar secara masif di zona deposisi tengah dan rendah yang terletak di formasi Mandalika. Analisis berat jarak terbalik dari bahan lahar menunjukkan bahwa distribusi lahar dalam rentang 0-18,5 meter menumpuk di dasar proses deposisi. Selain itu, melalui analisis granular, bahan halus terdeposit di zona bawah sebagai proses sedimentasi kontinu. Analisis arah lahar juga menunjukkan bahwa zona bawah adalah zona geser berbahaya dengan indikasi banyak aliran lava. Penelitian ini membuktikan bahwa kombinasi bukti geospasial dan lapangan dapat digunakan untuk memprediksi bahaya sekunder gunung berapi.

Studi ini menekankan peran penting dari integrasi teknologi geospasial dan analisis geomorfologis dalam mengantisipasi dampak lahar yang dipicu hujan setelah letusan Gunung Semeru pada tahun 2021.Melalui penggunaan kombinasi penginderaan jauh (citra Sentinel-2), model elevasi digital beresolusi tinggi (DEM), dan validasi lapangan, penelitian berhasil mengidentifikasi 32 unit landform geomorfologis dalam DAS Rejali yang mengalami perubahan signifikan akibat proses vulkanik sekunder.Temuan penelitian mengungkapkan bahwa proses deposisi dan erosi lahar secara spasial terkonsentrasi di zona geomorfologis tertentu, terutama di area dengan gradien lereng yang bervariasi dan konfigurasi litologi.Area botol leher yang terbentuk oleh Formasi Mandalika berfungsi sebagai titik kontrol kritis, di mana energi aliran yang terkonsentrasi menyebabkan erosi yang parah di hulu dan akumulasi sedimentasi yang masif di hilir.Analisis granulometri dari endapan lahar di zona hulu, tengah, dan hilir lebih lanjut mendukung pola spasial ini.Ukuran butir sedimentasi menunjukkan tren penyempitan yang jelas ke hilir, mulai dari pasir sedang di zona hulu (F/3/FL/4/S), ke pasir kasar di zona tengah (F/2/FL/4/S dan F/1/FL/4/S), dan pasir kasar hingga sangat kasar di zona hilir (F/1/AP/14/S dan M/1/AP/15/S).Pola ini erat kaitannya dengan dissipasi energi hidrologi dan variasi topografi, yang mengendalikan transportasi dan deposisi material vulkanik.Selain itu, studi ini mengonfirmasi bahwa unit geomorfologis tertentu, terutama V/5/FP/6/ER, berisiko tinggi karena perannya sebagai zona akumulasi terminal di lahan dengan gradien rendah.Area-area ini sangat rentan terhadap luapan lahar selama peristiwa puncak aliran, yang dapat berdampak parah pada permukiman, infrastruktur, dan lahan pertanian yang berdekatan.Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan potensi metode ini dalam menilai dan memprediksi bahaya sekunder, khususnya perubahan landform yang disebabkan oleh lahar yang dipicu hujan setelah letusan Gunung Semeru pada tahun 2021.Temuan ini tidak hanya memberikan kemajuan akademik, tetapi juga menawarkan implikasi praktis untuk pengurangan risiko bencana, perencanaan spasial, dan kesiapan masyarakat di daerah vulkanik.

Berdasarkan temuan penelitian, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan untuk meningkatkan pemahaman dan mitigasi bahaya lahar yang dipicu hujan di daerah vulkanik. Pertama, perlu dilakukan studi lebih lanjut tentang dinamika lahar di zona hulu, terutama di area dengan gradien lereng yang curam dan material vulkanik yang mudah tererosi. Penelitian ini dapat menggunakan pendekatan geomorfologis yang lebih mendalam untuk menganalisis proses erosi dan sedimentasi lahar, serta memodelkan perilaku aliran lahar di zona hulu. Kedua, penting untuk mengeksplorasi dampak perubahan iklim dan curah hujan yang meningkat terhadap perilaku lahar. Penelitian ini dapat melibatkan analisis spasial dan temporal tentang hubungan antara curah hujan, pola aliran lahar, dan perubahan landform. Ketiga, studi tentang interaksi antara lahar dan infrastruktur kritis, seperti bendungan dan jembatan, dapat dilakukan untuk memahami risiko dan mengembangkan strategi mitigasi yang lebih efektif. Penelitian ini dapat melibatkan simulasi numerik dan analisis risiko untuk mengevaluasi dampak lahar pada infrastruktur dan merancang solusi mitigasi yang sesuai.

Read online
File size3.53 MB
Pages25
DMCAReport

Related /

ads-block-test